Ada Tiga Kubu dalam Lingkaran Prabowo

554 Pemirsa

Prabowo Subianto tak dapat berbuat banyak dalam mengurusi Partai Gerindra terlebih pasca kontestasi Pilpres 2019 dan penetapan Joko Widodo sebagai Presiden terpilih oleh KPU.

Rumor pun beredar bahwa sang Ketum Gerindra bakal hengkang dari Indonesia karena sudah tak tahan internalnya terpecah dan mencari jalan masing-masing.

Bisikan-bisakan yang masuk ke kuping sang mantan Jendral itu terus mengiang dan makin kencang membuat Prabowo Pusing tujuh keliling dan ingin ke luar negeri untuk menghindari bisikan-bisikan para kaum oportunis di partainya.

Setidaknya, ada tiga kubu yang memiliki sikap berbeda soal posisi politik Gerindra periode 2019-2024. Pertama kubu Oposisi, kubu ini tetap ingin Gerindra berada di luar, apapun risikonya, tolak gabung dengan Jokowi-Ma’ruf.

Kubu kedua, orang-orang yang ingin membawa Gerindra merapat ke kubu Jokowi, bergabung menikmati kekuasaan bersama pemerintah, kubu ini disebut kelompok oportunis. Kelompok oportunis disebut sedang gencar membisiki Prabowo untuk gabung pemerintah.

“Lingkaran dalam (Prabowo) banyak yang oportunis juga, faktor kepentingan dan usia,” kata sumber dari petinggi Gerindra kepada merdeka.com.

Kelompok ketiga, orang-orang yang mengikuti arah angin. Mereka ikut apapun keputusan partai. Terutama keputusan yang diambil oleh Prabowo Subianto.

Orang orang yang mendorong agar partainya bergabung dengan pemerintah yakni Sufmi Dasco Ahmad dan Desmond J Mahesa. Selain itu, ada juga Arief Poyuono sebagai ‘trigger’ untuk bicara di media.

Di sisi lain, ada pula beberapa senior di Gerindra yang sangat dihormati oleh Prabowo, mendesak agar Gerindra segera bergabung dengan pemerintah Jokowi-Ma’ruf.

Masih menurut sumber itu, Prabowo lebih pilih di luar kekuasaan, namun yang mengganjal pikiran Prabowo saat ini yakni banyaknya para pendukung yang masih berada di dalam penjara.

Anggota Badan Komunikasi Gerindra, Andre Rosiade mengakui, ada perbedaan sikap di internal partainya. Ada yang ingin tetap berada di luar pemerintah, ada pula yang ingin bergabung dengan Jokowi-Ma’ruf.

“Tapi tidak banyak (yang ingin gabung Jokowi),” jelas Andre saat dihubungi merdeka.com, Jumat (12/7).

Sementara Sekjen Gerindra Ahmad Muzani disebut mengambil sikap yang netral dalam polemik ini. Menunggu arah angin, kemana keputusan Prabowo membawa partai yang sudah 10 tahun menjadi oposisi ini berlabuh.

Muzani mengatakan, baik berada dalam pemerintah atau menjadi oposisi bukan masalah besar bagi partainya.

“Bagi Gerindra masuk koalisi itu sesuatu yang baru, menjadi oposisi sudah kami alami selama 10 tahun, sehingga bukan persoalan. Jadi bagi saya tidak ada problem, Gerindra adalah satu-satunya partai politik yang sejak ada di Senayan sampai sekarang belum pernah masuk dalam kekuasaan,” kata Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/7).

Sementara Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon juga masih abu-abu. Awalnya, Fadli merasa partainya lebih baik berada di oposisi. Untuk menjaga keseimbangan pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf.

Fadli mengatakan, Gerindra berkomitmen tak ingin pemerintah ke depan minus pengawasan dari parlemen. “Kita tidak ingin kembali ke zaman otoritarian dan hegemoni kekuasaan pemerintah yang minus kontrol. Itu komitmen Gerindra dan Pak Prabowo, menjaga demokrasi untuk Indonesia,” jelas Fadli pada 28 Juni

Terkait hirup pikuk internal Gerindra yang kian tak menentu tentu akan mendapat tantangan lagi dari koalisi Jokowi.

Kabar gabungnya Gerindra kedalam koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf pun dipandang sinis. PKB dan NasDem partai yang terang-terangan menolak tambahan partai di koalisi 01.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menilai posisi oposisi sangat penting di era demokrasi. Dia ingin Gerindra dan PKS tetap memilih jalan oposisi ketimbang bergabung dengan kubunya.

Menurutnya, Gerindra dan PKS harus menjaga energi oposisi agar bisa mengimbangi dan mengkritisi pemerintahan Jokowi ke depan.

“Menyangkut koalisi, Indonesia perlu oposisi. Jadi oposisi itu perlu ada dan kalau bisa Gerindra dan PKS mempertahankan itu,” kata Cak Imin di kediaman Ma’ruf di Menteng, Jakarta, 5 Juli lalu.

Senada dengan Cak Imin, Sekjen NasDem, Johnny G Plate meminta koalisi Prabowo-Sandi mengambil peran konstruktif dalam membangun Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan tetap menjadi oposisi.

“Kalau semua di dalam kabinet maka ini hanya jadi stand up comedy politic, ditonton sebagai bagian drama yang tidak menyenangkan bagi rakyat,” kata Johnny 9 Juli lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here