Akal Sehat Rizal Ramli Tertutup Sakit Hati

Akal Sehat Rizal Ramli Tertutup Sakit Hati
Akal Sehat Rizal Ramli Tertutup Sakit Hati
600 Pemirsa

Kelompok oposisi pemerintahan Presiden Joko Widodo terus menggalang gerakan untuk membendung langkah Jokowi dua periode. Berbagai cara yang tidak sehat liar menyerang bahkan tak perduli melanggar konstitusi.

Namun, sebagaimana gerakan yang dibangun oleh kubu oposisi, terutama PKS, Gerindra, dan kelompok Islam-politik pendukung 212, FPI, HTI, dan barisan pembenci lainnya, narasi yang diusung selalu berisi isu primordial yang memecah belah masyarakat.

Cara berpolitik dari pihak oposisi di atas sungguh sangat membosankan. Kritiknya selalu berbau primordial dan mengungkit-ungkit isu SARA. Selain itu juga selalu berbasis kebencian.

Hal itu, tentu saja, berbahaya bagi bangunan bangsa yang telah dirintis lebih dari setengah abad lalu. Karena narasi yang dimainkannya bertendensi untuk memecah belah bangsa dan merusak sistem ketatanegaraan.

Terkait Gerakan 2019 Ganti Presiden, gerakan itu sebenarnya dibangun dengan semangat di atas. Meski mengaku konstitusional, namun gerakan itu sungguh tidak etis dan berpotensi melanggar aturan kampanye, karena selalu memainkan isu primordial.

Selain itu, para penggagasnya tampaknya juga tidak paham dengan nilai-nilai demokrasi yang dianut oleh bangsa ini.

Sebab dalam prinsip demokrasi itu, setiap orang pada dasarnya memiliki kebebasan dan hak untuk memilih calon presiden. Kebebasan itu harusnya tanpa boleh diintervensi oleh hasutan, provokasi dan penyebaran konten negatif (black campaign) untuk menjatuhkan salah satu calon.

Dengan demikian gerakan tersebut sangat jelas bersifat provokatif. Mereka menyerang tanpa etika kepada Presiden Jokowi. Juga berusaha menjatuhkan dengan cara yang tidak elegan sebagaimana dikatakan Rizal Ramli bahwa larangan terhadap diskusi-diskusi dan gerakan-gerakan aspirasi publik adalah ‘kampanye’ terburuk untuk Presiden Joko Widodo.

“Mas @jokowi, melarang diskusi2 dan gerakan2 aspirasi publik adalah “kampanye” terburuk untuk mas @jokowi,” tulis Rizal Ramli.

Opini tersebut sangat bias karena menyoroti eksploitasi #2019GantiPresiden sebagai hal yang postitif, padahal hal tersebut jelas bertentangan dengan UU yang mengatur pergantian Presiden melalui proses Pemilu.

Selain itu dia juga meminta agar Jokowi tidak menarik mundur demokrasi.

“Kami dan banyak kawan2 melawan sikap2 otoriter, bahkan sampai di penjara 1,5 tahun. Jangan tarik mundur demokrasi. You are in power, tlg pakai cara2 elegan,” kicaunya lagi.

Ini dimana akal sehat seorang politikus senior yang mulai dibutakan kepentingan dan rasa sakit hatinya saat dirinya dipecat sebagai seorang Menteri di era Jokowi. Hingga terus melakukan manuver untuk menyerang.

Faktanya Jokowi selalu menerapkan demokrasi di masyarakat sedangkan apapun yang dilakukan oposisi selalu bertema kebencian untuk menjegal langkah sang petahana.

Presiden Jokowi juga mengajak semua pihak untuk terus kerja bersama merawat kematangan demokrasi Indonesia, terutama dalam menyongsong penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2018 dan Pilpresn 2019 mendatang.

“Saya mengajak kita semua untuk terus kerja bersama merawat kematangan demokrasi Indonesia,” kata Presiden Jokowi setahun lalu.

Aksi tersebut justru menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat dan berpotensi mengarah pada tindakan makar karena dilakukan diluar jadwal kampanye.

Padahal selama ini penolakan terhadap aksi tersebut umumnya datang dari masyarakat yang menilai hal ini berpotensi merusak kondusifitas sosial. Terlebih lagi, aksi tersebut seringkali dipaksakan meskipun tidak mendapatkan izin dari Polda setempat, sehingga apaarat keamanan wajib melakukan pembubaran.

Oleh karena itu jangan sampai kita mudah dihasut dan diadu domba terkait opini sesat yang menyudutkan pemerintahan Presiden Jokowi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here