Anies Dijadikan Boneka Islam Garis Keras

677 Pemirsa

Jakarta – Anies Baswedan yang sejak awal hanya bermain dan bermodalkan politik identitas untuk meraih dukungan masyarakat, mulai dari saat mengikuti konvensi calon presiden Partai Demokrat tahun 2013, menjadi Gubernur Jakarta dengan segala kontroversialnya berlagak rasa presiden, hingga arah ke depan yang sedang dibangun untuk mempersiapkan diri menjadi calon Presiden, tentunya dengan mendekatkan diri kepada kelompok Islam 212 dan radikal.

Pemicunya adalah Pertemuan Jokowi dengan Prabowo di Stasiun MRT Jakarta pada hari Sabtu (13/7/2019) sekaligus mengakhiri peran Prabowo sebagai tokoh simbolik politik identitas dan politik polarisasi dibawah panji idealisme Islam garis keras. Siapakah yang pantas menggantikannya?

Pendapat bahwa Prabowo hanya “tunggangan” kepentingan idealis Islam garis keras merebut kekuasaan pada Pilpres 2019 mungkin benar dari sisi Islam garis keras. Tapi dari sisi kepentingan Prabowo dan partai Gerindra, justru Islam garis keras yang dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan suara dari identitas Islam.

Setelah putusan Mahkamah Konstitusi menolak permohonan kubu Prabowo, atau dengan kata lain menyatakan Prabowo kalah, maka sesungguhnya Prabowo yang sejatinya tidak se-ideologi dengan Islam garis keras, tidak memiliki kepentingan lagi dengan golongan tersebut.

Sebaliknya Islam garis keras masih membutuhkan Prabowo sebagai tokoh simbolik politik pembawa panji idealisme politik identitas dalam memelihara momentum politik identitas menghadapi peristiwa politik Pilpres 2024. Tuduhan pengkhianat kepada Prabowo secara masiv di media sosial membuktikan betapa kuatnya dia dibutuhkan oleh golongan idealis Islam garis keras
Dampak peristiwa bersejarah di stasiun MRT tersebut, tidak serta merta mengakhiri perseteruan politik polarisasi dan politik identitas di akar rumput.

Gerakan perjuangan Islam garis keras membutuhkan tokoh ikon atau simbol sebagai pemimpin politik dalam lingkungan pluralitas masyarakat Indonesia.

Peristiwa tersebut juga menjadi pembelajaran politik bagi gerakan idealis Islam garis keras untuk hati-hati dan cermat memilih tokoh simbol, agar tidak menuai luka hati ketika ditinggal di perjalanan. Tokoh yang dicari adalah tokoh calon presiden 2024 sekaligus sebagai pelindung, yang pasti bukan tokoh dari PDIP yang akan menjadi lawannya. Paling tidak ada tiga kriteria atau syarat tokoh yang dicari Islam garis keras.

Pertama, tokoh politik yang berpotensi menjadi Presiden, tokoh ini akan diperjuangkan untuk dimenangkan pada pemilihan presiden tahun 2024. Meskipun masih relatif lama, tapi Islam garis keras mulai mencermati dan mengamati tokoh politik potensial untuk dipersiapkan. Prabowo sudah pasti masuk dalam buku hitam.

Nama-nama yang berpotensi maju pada Pilpres 2024 sementara ini antara lain; Gubernur DKI Anies Baswdan, Tokoh Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Mantan Cawapres Sandiaga Uno, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Tokoh NU Mahfud MD, Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) , Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto atau Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua Umum/Pendiri Nasdem Surya Paloh. Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dari tokoh partai PKS; Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, Anis Matta, Mantan gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Mantan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Kedua, tokoh sebagai pelindung gerakan politik identitas. Dari sisi kekuatan jumlah, Islam radikal atau Islam garis keras masih kalah dari Islam tradisonal atau Islam moderat.

Tokoh politik perlu melindungi gerakan dari perlawanan berbagai golongan, yang utama dari Islam tradisonal dan moderat, berikutnya pendukung Pancasila yang bukan Islam, nasionalis, dan liberal sekuler. Peran ini telah tepat dilakoni Prabowo, tapi dengan tuduhan pengkhianatan maka panggantinya harus setara

Tokoh-tokoh kharismatik dari NU, liberal sekuler, dan perempuan tidak dapat melindungi karena bertentangan dengan gerakan idealisme Islam garis keras. Tokoh PKS tampaknya terlampau tinggi tingkat resistensinya di skala nasional.

Nama-nama sebelumnya tersaring menyisakan ; Anis Baswdan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Airlangga Hartarto atau Bambang Soesatyo, Sri Mulyani, Gatot Nurmantyo.

Ketiga, pembelajaran dari tuduhan “pengkhianatan” Prabowo, Islam garis keras akan mengkaji secara mendalam kesetiaan tokoh pada idealisme Islam garis keras, karena peran tokoh tersebut tidak berhenti dengan selesainya Pilpres tapi tetap dituntut kesetiaannya mengawal perjuangan tanpa henti. Daftar nama menyisakan dua nama Anies Baswdan dan Sandiaga Uno.

Kedua tokoh tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan. Sandiaga Uno memiliki keunggulan; namanya sudah dikenal luas di Indonesia karena mantan Cawapres, luwes dan lincah bergerak antar partai politik sehingga lebih mudah mendapat dukungan partai pengusung, pengalaman profesional pengusaha, memiliki dukungan keuangan sendiri maupun sponsor yang memadai membiayai pensuksesan pilpres.

Kelemahannya; tidak memiliki dukungan pemilih militan dari satu partai politik, kesetiaanya pada idealisme Islam garis keras belum teruji, tidak memiliki panggung publik untuk aktualisasi diri menghadapi pilpes 2024.

Anies Baswedan, keunggulannya ; kesetiaannya pada idealisme garis keras tidak diragukan lagi, posisi Gubernur DKI –mengikuti jejak Jokowi dari Gubernuran DKI menuju Istana Negara- sangat strategis sebagai panggung publik untuk aktualisasi diri, pengalaman sebagai Menteri dan Gubernur.

Kelemahannya; resistensi dari partai-partai politik non afiliasi Islam garis keras akan kuat sehingga agak berat mencari dukungan partai pengusung, untuk ukuran hari ini dukungan keuangan sendiri kurang memadai meskipun dukungan sponsor mungkin meningkat kedepan.

Dari keunggulan dan kelemahan tersebut, dari sisi Islam garis keras, kelamahan Anies Baswedan tampaknya tidak prinsipil namun sangat penting bagi partai politik pengusung lainnya.

Dapat disimpulkan, Islam garis keras akan mengutamakan Anies Baswedan sebagai tokoh pengganti Prabowo untuk dimajukan diusung sebagai Calon Presiden tahun 2024.

Bila Anies Baswedan ternyata menjelang penetapan nama bakal calon Presiden tidak mendapat dukungan memadai dari partai pengusung, maka Sandiaga Uno yang disodorkan.

Kenyataan politik Indonesia selalu ada pengecualian yang tidak terduga, sangat mungkin menjelang pemilihan presiden tahun 2024 muncul bintang baru yang bukan dari nama-nama tersebut diatas. SBY dan Jokowi adalah penomena kemunculan bintang baru yang tak terduga sebelumnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here