Anies Gak Berani Buka-bukaan Soal Anggaran Pembangunan ITF yang Diklaim Hasil Janji Kampanye

485 Pemirsa

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menuding anggaran pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter Rp 3,6 T ditetapkan oleh Gubernur sebelumnya yakni Basuki Tjahaja Poernama (Ahok).

“(Waktu anggaran ditetapkan) Saya belum bertugas. Pas kami mulai, ITF lagi diproses,” kata Anies di Jakarta Pusat, Rabu, 31 Juli 2019.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Anies tidak mengetahui hitung-hitungan anggaran pembangunan ITF Sunter itu. Anies justru melempar ke Ahok.

Pada tahun 2015 Ahok sempat mengutarakan bahwa pembangunan ITF itu akan menyedot anggaran sebesar Rp 1,2 trilliun. Dalam perkembangannya Jakpro yang langsung berurusan dengan operator proyek ITF.

Jadi setelah Pergub nomor 50/2016 diterbitkan Ahok, JakPro melakukan joint venture pelaksaan proyek ITF dengan Fortum Power Heat and Oy, perusahaan yang bergerak dibidang solusi perkotaan dan energi bersih dari Finlandia. Fortum Finland dipilih karena sudah menerapkan teknologi di negara di Eropa.

Saat itu Direktur Utama (Dirut) PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Satya Heragandhi menjelaskan, nilai Rp 2,9 triliun itu untuk mengelola sampah hingga 2.000 sampai 2.500 ton per hari.

“Investasinya kalau yang sampai 2.000 ton, prediksi bisa mencapai Rp 2,7 triliun sampai Rp 2,9 triliun maksimum,” kata Satya, di Balai Kota Jakarta, Senin (7/11/2016).

Menariknya angka ini terus naik tapi tak pernah ada penjelasan kenapa angka itu terus beranjak. Ketika di era Pak Djarot maka angka itu bertambah menjadi 3 Trilyun.

Pada tanggal 12 Juli 2017 beritajakarta melansir total biaya pembangunan ITF dari Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim.

“Total biaya pembangunan diperkirakan bisa mencapai Rp 3 triliun. Diprediksi pembangunan ITF Sunter membutuhkan waktu 18 bulan,” tandasnya. Biaya itu tak menggunakan APBD.

Lalu ketika masuk tahun 2018 ada perubahan. Seperti diketahui Direktur Utama Jakpro diganti, biayanya juga jadi ikut melonjak.

Pada zaman Anies setelah bersamaan dengan peresmian pembangunannya di Desember 2018 lalu maka terkuaklah biaya pembangunan ITF ini yang ternyata kenaikannya sangat signifikan dan mencengangkan. Berapa besar biayanya?

Direktur Utama PT Jakpro Dwi Wahyu Daryoto menyebutkan, nilai investasi pembangunan ITF sebesar US$250 juta atau sekitar Rp3,6 triliun.

Untuk diketahui penunjukkan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dilakukan pada era Ahok. Ahok sendiri yang mengalihkan dari tadinya Dinas Kebersihan dialihkan ke Jakpro karena proses pelelangan tender di masa itu bermasalah.

Jadi Anies mau melempar anggaran itu ke pendahulunya padahal sudah diserahkan ke Jakpro yang Diretur Utama Jakpro adalah orang yang ditunjuk Anies sendiri.

Mari kita bandingkan Direktur Jakpro masa Ahok dan masa Anies.

Satya Heragandhi terpilih menjadi Direktur Utama PT Jakpro pada 2016. Dia menggantikan Abdul Hadi. Dirinya sebenarnya banyak prestasi dan kinerjanya bagus di era Ahok.

Sejak memimpin Jakpro, Satya diberi tanggung jawab menyelesaikan proyek penugasan untuk Asian Games 2018, yaitu pembangunan kereta ringan (light rail transit/LRT)b, arena balap sepeda Velodrome, dan arena berkuda Equestrian. Dua proyek terakhir ini berhasil selesai tepat waktu sementara LRT tak tuntas karena dia keburu diganti.

Sedangkan rapor perjalanan Dwi Wahyu Daryoto sebelumnya tidak terlalu bagus. Sebelum menempati posisi barunya di Jakpro, Dwi Wahyu telah lama berkiprah di PT Pertamina sebelum akhirnya dicopot.

Ia mulai masuk perusahaan minyak pelat merah itu pada Desember 2014 silam.

Lalu pada Februari 2018 lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mereorganisasi susunan direksi, dan Dwi digeser dari Direktur SDM menjadi Direktur Manajemen Aset.

Tetapi, baru dua bulan di posisi itu, Dwi dicopot bersama tiga direktur dan direktur utama Pertamina pada April 2018 lalu.

Di masa Anies dan Sandi si Dwi Wahyu Daryoto masuk dan ditunjuk menjadi Dirut Jakpro. Bersamaan dengan itu orangnya Sandi yaitu Yuliantina Wangsawigun di Saratoga ikut masuk ke Jakpro menjadi Direktur Keuangan. Yuliantina Wangsawiguna, sebelumnya menjabat Direktur Keuangan PT Saratoga Investama.

Nah, Dirut Jakpro orangnya Anies sendiri kok dia tak tahu menahu dengan anggarannya? Koplak memang si Anies ini.

Jika benar ada pembengkakkan, KPK silakan telusuri meroketnya angka dalam proyek ITF di era Anies ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here