Bakamla Simulasi Tangkap Kapal Radioaktif Ilegal

0
313
Penutupan kegiatan The 12th Head of Asian Coast Guard Agencies Meeting (HACGAM) di Hotel Fairmont Jakarta

bidikdata.com Negara-negara Asean berkomitmen untuk menciptakan kondisi pelayaran yang aman dan nyaman di kawasan. Kerja sama yang baik ini akan terus dipertahankan dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan di bidang keamanan dan keselamatan laut dengan menganut prinsip paper work to the field (menuangkan materi di atas kertas ke dalam kejadian sesungguhnya di laut).

Demikian hasil kesimpulan kegiatan The 12th Head of Asian Coast Guard Agencies Meeting (HACGAM) di Jakarta, yang ditutup resmi oleh Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Ari Soedewo.

“Perhelatan tahunan ini menghasilkan pernyataan bersama negara-negara anggota HACGAM,” kata pernyataan resmi Bakamla melalui surel ke redaksi bidikdata.com, hari ini (15/10/2016).

Kegiatan latihan bersama yang dilakukan pun memberi pandangan yang lain mengenai keamanan dan keselamatan laut di kawasan. Latihan bersama dengan tema “Multilateral Exercise to Enhance Capabilities of Information Sharing to Prevent Illegal Transfer of Radioactive Materials”, dilakukan dengan menggunakan unsur dari Bakamla RI dan stakeholder, Japan Coast Guard, dan Indian Coast Guard.

Unsur dari Indonesia sendiri terdiri dari Kapal Bakamla RI KN Bintang Laut 4802, Kapal Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Priok KN Alugara P114, Kapal Polair KP Gelatik, Kapal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) KN Orca 04, Kapal Pertamina Tugboat, dan melibatkan personil dari Bapeten terkait penanganan muatan simulasi radioaktif.

“Kesemuanya memperlihatkan kekompakan dalam menangani kasus yang dihadapi, dalam hal ini mengedepankan target operasi berupa kapal dengan muatan radioaktif ilegal, di Teluk Jakarta,” demikian pernyataan Bakamla RI.

Latihan bersama ini selain merupakan esensi dari kegiatan HACGAM, juga sebagai bentuk cerminan koordinasi terintegrasi yang dilakukan dengan sangat baik.

Koordinasi tersebut tidak hanya melibatkan instansi terkait di dalam negeri (Indonesia) namun juga melibatkan kerja sama yang sinergi dengan negara tetangga. Hal ini juga mencerminkan kesinergian rantai komando yang tidak putus baik dengan instansi di dalam negeri maupun di luar negeri. (KP)