Bantah Dirinya Otoriter, Jokowi Nyatakan Dirinya Seorang Demokrat Di Rapimnas Partai Demokrat

Bantah Dirinya Otoriter, Jokowi Nyatakan Dirinya Seorang Demokrat Di Rapimnas Partai Demokrat
159 Pemirsa

Presiden Joko Widodo kembali menyinggung isu pemimpin otoriter yang sempat menerpa dirinya saat memberikan sambutan di depan Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3/2018).

Di depan 11.000 kader Partai Demokrat, awalnya Jokowi bercerita bahwa isu itu pertama kali dia baca di media sosial. “Di sosial media, Agustus 2017 lalu, saya baca, disampaikan di sana bahwa saya adalah pemimpin otoriter,” ujar Jokowi. Saat membaca isu itu di media sosial, Presiden Jokowi merasa heran. Dia bertanya-tanya apa yang membuat orang yang menyebut dirinya sebagai pemimpin yang otoriter.

Jokowi merasa penampilannya tidak seram, selayaknya pemimpin otoriter. Ke mana-mana, ia juga selalu menebarkan senyum. “Menurut saya ya, saya tidak ada potongan sama sekali pemimpin otoriter. Tidak ada potongan sama sekali. Penampilan saya tidak sangar, ke mana-mana juga selalu senyum,” ujar Jokowi. “Makanya saya bilang, saya bukan pemimpin yang otoriter,” lanjut dia.

“Saya berani bilang saya itu bukan seorang pemimpin otoriter, saya ini seorang demokrat,” kata Jokowi, yang kemudian disambut riuh tepuk tangan para peserta rapimnas Partai Demokrat tersebut.

Pernyataan Jokowi sebagai seorang Demokrat tentu membanggakan para kader Demokrat, yang juga sekaligus membuyarkan spekulasi dan isu-isu yang berusaha memisahkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat Dan Presiden Jokowi.

Menurut Jokowi, salah satu syarat menjadi seorang demokrat yakni bisa menjadi pendengar yang baik, menghargai pendapat orang lain, dan menghargai perbedaan-perbedaan tanpa menjadikannya sebagai sumber permusuhan.

“Kurang lebih saya dan Pak SBY bedanya tipis, kalau saya seorang demokrat, Pak SBY demokrat tambah satu, Ketua Umum Partai Demokrat. Jadi bedanya tipis sekali,” kata Jokowi yang telah mendapat dukungan PDI-P, Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura untuk maju di Pilpres 2019 ini.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memastikan partainya akan mengusung calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pilpres 2019. SBY pun tidak menutup kemungkinan akan mendukung Presiden Jokowi di Pilpres 2019.

“Dengan dukungan Tuhan Yang Maha Kuasa sangat bisa Partai Demokrat berjuang bersama Bapak [Jokowi],” kata SBY.

SBY mengatakan, Partai Demokrat telah belajar dari kekalahan pada Pilpres 2014. Presiden RI ke-6 itu mengaku ada dua hal yang membuat Partai Demokrat kalah. Pertama, karena banyak kader yang korupsi. Masalah kedua adalah Partai Demokrat tidak mengusung kandidat calon presiden dan calon wakil presiden.

“Insya Allah dalam Pilpres 2019 mendatang Demokrat akan mengusung calon presiden dan calon wakil presiden paling tepat,” kata SBY.

SBY mengatakan, Partai Demokrat bisa berkoalisi dan mendukung Presiden Jokowi selama memenuhi sejumlah syarat. Pertama, Presiden Jokowi perlu membangun kebersamaan yang tepat.

Kemudian, Presiden Jokowi mempunyai visi-misi yang tepat dengan Partai Demokrat. Partai Demokrat pun ikut diajak dalam perumusan agenda.

Ketiga, mereka berharap koalisi yang dibangun harus berjalan harmonis. Ia menilai partai koalisi harus saling percaya dan saling menghargai sehingga terbentuk kepercayaan bersama.

Namun, SBY belum mau menyebut nama kandidat calon presiden dan calon wakil presiden di Pilpres 2019. Mereka akan mengumumkan calon presiden dan calon wakil presiden bila sudah waktunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here