Bukti Bukan Antek Aseng, Pemerintah Jokowi Kuasai 51,23 Persen Saham Freeport

239 Pemirsa

Bidikdata – Jakarta – Di hadapan pendukung di Makassar, Sulawesi Selatan, calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo memamerkan keberhasilan pemerintahannya membeli 51,23 persen saham PT Freeport Indonesia melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Pembelian saham Freeport itu menurut Jokowi merupakan bantahan tudingan bahwa dirinya kepanjangan tangan kepentingan asing di Indonesia.

Jokowi menilai justru pemerintahan sebelumnya tak bertindak apa-apa kala kepemilikan saham di tubuh Freeport hanya 9,36 persen, padahal perusahaan asal Amerika Serikat itu sudah beroperasi di Papua sejak 1973.

“Baru kemarin sore Freeport di Papua, yang telah dikelola oleh oleh Freeport-McMoran Inc setelah 40 tahun, kemarin sudah kami selesaikan dan kami mendapatkan mayoritas 51 persen. Seperti ini masih diisukan antek asing, coba kalau antek asing, antek asingnya yang mana?” ujar Jokowi di Celebes Convention Center.

Tak hanya soal Freeport, ia juga menjabarkan upaya lain yang sudah dilakukannya demi meluruskan isu bahwa dirinya bukanlah antek asing. Yang pertama adalah pengambilalihan pengelolaan Blok Mahakam dari perusahaan asal Perancis, Total E&P Indonesia oleh PT Pertamina (Persero) mulai 1 Januari 2018 silam.

Di samping itu, ia juga menyebut pengelolaan Blok Rokan juga 100 persen jatuh ke tangan Pertamina setelah sekian lama dikelola oleh perusahaan asal Amerika Serikat (AS) PT Chevron Pacific Indonesia. Blok Rokan sendiri akan dikelola Pertamina mulai 2021 mendatang.

“Hal seperti ini (antek asing) harus diluruskan, kalau tidak jadi isu yang kemana-mana,” ujarnya dia.

Pada Desember ini, Inalum berhasil menyelesaikan transaksi pembelian 51,23 persen saham Freeport dengan nilai US$3,85 miliar atau Rp56 triliun. Hal itu kemudian dilengkapi dengan penerbitan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang menjamin operasional Freeport dari hingga 2041 mendatang.

Namun sebagai gantinya, pemerintah meminta Freeport untuk membangun smelter dalam jangka lima tahun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang lebih tinggi dibandingkan rezim Kontrak Karya (KK).

Tak hanya itu, terkait jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia, terutama yang menjadi sorotan adalah yang berasal dari China, Jokowi menjelaskan,  jumlah TKA di Indonesia sangat sedikit dibanding jumlah penduduk Indonesia. Bandingkan dengan Uni Emirat Arab yang menurut Jokowi mencapai 83 persen.

Lalu, lanjutnya, Saudi Arabia mencapai 23 persen. Bahkan, sebagian besar menurutnya dari Indonesia. Di Malaysia, lanjut Jokowi, jumlah TKA nya sebanyak 5,4 persen.

“Jadi total TKA di Indonesia itu 78 ribu jadi jangan ada yang menyelewengkan 10 juta. Data imigrasi itu jelas sekali. Yang dari China itu 24 ribu,” katanya.

Jokowi membandingkan jumlah tenaga kerja Indonesia di beberapa negara. China daratan ada 80 ribu, Hong Kong 160 ribu, dan Taiwan 200 ribu. Maka di China diakumulasikan mencapai 440 ribu orang Indonesia.

“Artinya apa? Kalau saya artikan, karena banyak yang menyampaikan Presiden Jokowi itu antek asing. Justru yang di sana karena TKI kita lebih banyak, justru orang sana antek Indonesia. Mestinya seperti itu,” jelas Jokowi.

Maka menurutnya, tidak benar anggapan bahwa dirinya antek asing. Hanya dengan melihat ada TKA yang masuk khususnya dari China. “Justru mereka antek Indonesia, itu yang benar,” katanya.

Jokowi juga mengklarifikasi bahwa dirinya dikendalikan oleh asing. Padahal, selama ia memimpin, lanjut Jokowi, beberapa perusahaan eksplorasi minyak dan gas bumi, kini dikuasai Indonesia.

Ia mencontohkan Blok Mahakam, Blok Rokan Riau, hingga Freeport di Papua. Padahal, lanjut Jokowi, selama 40 tahun Indonesia hanya diberi sembilan persen di Freeport. “Katanya saya antek asing. Antek asingnya dimana,” katanya.

Jokowi juga kembali menjelaskan, soal tudingan ia PKI. Termasuk keluarga besarnya. Padahal, lanjutnya, orang tuanya 100 persen Islam, dan hidup di tengah-tengah ormas Islam di Solo seperti NU, Muhammadiyah, Persis, LDII, hingga FPI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here