Catatan Kebohongan, Janji dan Keserakahan Oposisi

0
54

Bidikdata – Fenomena hoaks Ratna Sarumpaet jadi cerminan pihak Prabowo-Sandi menghalalkan segala cara untuk menyerbu petahana, Joko Widodo.

Raksi kubu Prabowo yang dilakukan tanpa verifikasi terlebih dahulu menunjukkan sebenarnya Prabowo tidak mempunyai tanggung jawab moral ketikan menyampaikan sesuatu yang benar untuk publik.

Kejadian tersebut sangat memalukan bahwa ternyata lebam Ratna ternyata cuma sebab operasi kecantikan belaka. Karena berita itu sudah menyebar di media sosial sampai dibenarkan tim Prabowo-Sandi seperti Dahnil Anzar sampai Fadli Zon.

Kini kubu Prabowo-Sandi memainkan skema bahwa pihaknya menjadi korban hoaks Ratna Sarumpaet, hal itu untuk membungkam rezim Jokowi. Hal ini sangat tidak beradab karena skema hoaks Ratna Sarumpaet justru skenarionya berasal dari kubu Prabowo-Sandia.

Drama playing victim kali ini seperti senjata makan tuan. Skrenario premature dibuat untuk menyerang kubu Pemerintah. Kalau pun mereka dibohongi RS, maka Prabowo adalah sososk pemimpin lemah dan mudah dibohongi, gegabah serta mengedepankan emosi sesaat. Pantas saja tidak pernah memenangkan kompetisi.

Sikap Gerindra yang melaporkan RS bertolak belakang dengan pernyataan Sandiaga yang mengatakan pihaknya tidak akan melaporkan RS. Pernyataan Cawapres dan partai pendukungnya bisa berbeda-beda, padahal Sandiaga juga berasal dari Gerindra.

Saat ini Sandiaga justru ikut keputusan Gerindra untuk melaporkan Ratna. Masih jadi Cawapres saja tidak konsisten dengan ucapan. Tidak ada ucapakan kubu Prabowo-Sandiaga yang bisa dipercaya atau dijadikan pegangan karena bisa berubah sewaktu-waktu.

Rakyat kini hanya menjadi penonton setiap episode drama yang dimainkan dan diperankan oleh oposisi.

Tak pelak, kebohongan akan selalu dikelilingi janji-janji yang berakhir canda untuk ditertawakan.

Janji itu mengingatkan kita pada sosok pendekar reformasi, Amien Rais. Sebagai salah satu bagian dari pendukung Prabowo, Amien adalah pembuat hoaks juga selain RS.

Diwaktu lalu, Amien Rais ingkar janji melaksanakan nazar jalan kaki dari Yogyakarta-Jakarta jika Jokowi terpilih di Pilpres 2014.

Amien saat itu mendesak agar Prabowo diseret ke Mahkamah Militer karena dinilai mengetahui dan bertanggung jawab atas penculikan aktivis prodemokrasi pada 1998.

Namun pria renta ini mengaku bahwa dirinya tak pernah mengucapkan hal demikian. Amien pun menantang agar penudingnya memperlihatkan kliping koran, rekaman radio atau televisi yang memuat pernyataannya yang menyudutkan Prabowo. Kalau terbukti ada, ia akan jalan kaki bolak-balik Jakarta-Yogyakarta.

Sudah tua, tetapi kelakukan tidak konsisten dengan ucapan dan berdalil nazar itu hanya guyonan politik. Ke laut saja kau Amien Rais yang kerjanya hanya provokasi, fitnah dan menebar kebencian. Giliran dituntut penuhi janji, malah ngeles cari alasan dengan berdalih itu adalah guyonan politik.

Selain kebohongan dan janji diatas, Gerindra seperti tidak berhenti memuaskan hasrat politiknya. Maklum demi kekuasaan segala apapun harus seperti keinginannya. Wajar karena Prabowo dapat dikatakan memegang kendali karena hanya dirinya yang pantas mewakili dari setiap koalisi partai untuk menjadi pemimpin.

Sehingga boleh dikatakan cakar Gerindra cukup kuat mencengkram ranting koalisi yang rapuh itu.

Hal itu makin diperlihatkan, manakala keretakan membayangi kubu oposisi dan lebih parahnya mulai terpecah dengan kepentingan politik masing-masing parpol dalam memperebutkan kursi Wagub DKI Jakarta.

Padahal dalam menentukan kursi wagub tidak susah-susah amat, harus juga PKS lah yang mendapat jatah kalau pun Gerindra mau sadar diri.

Namun, saat ini PKS dan Gerindra masih bercibaku memperebutkan kursi Wagub DKI Jakarta. Dari sini bisa kita lihat aslinya bahwa koalisi Prabowo jelas tidak solid.

Gerindra ternyata sangat serakah karena tidak memberikan kursi itu kepada koalisinya, sehingga PKS cuma bisa gigit jari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here