Data Tempat Ibadah Terpapar Radikal Merupakan Peringatan

Data Tempat Ibadah Terpapar Radikal Merupakan Peringatan
Data Tempat Ibadah Terpapar Radikal Merupakan Peringatan
9 Pemirsa

Anggota Komisi I DPR Charles Honoris mengatakan bahwa data Badan Intelijen Negara (BIN) terkait masjid terpapar radikalisme di instansi Pemerintah merupakan peringatan atau alarm bagi Indonesia.

Menurutnya, data yang disampaikan BIN adalah hal positif agar semua pihak tetap waspada, sebab sejumlah survei mencatat peningkatan intoleransi dan masih minimnya pemahaman tentang intoleran khususnya di kalangan anak muda.

“Sehingga, data seperti ini harus dianggap sebagai alarm bagi kita semua mengawasi paham paham intoleran,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Terkait tindakan BIN yang mengungkapkan data tersebut ke masyarakat, politikus PDI Perjuangan itu mengaku tidak memiliki wewenang untuk memberi penilaian.

Namun, informasi yang dibeberkan BIN merupakan informasi yang penting untuk diperhatikan bersama.

“Sehingga pengelolaan tempat-tempat ibadah itu juga harus dapat perhatian khusus. Misalnya khotbah-khotbah yang mengandung radikalisme lebih baik tidak diberikan,” kata Charles.

Kendati demikian, ia meyakini BIN memiliki pertimbangan ketika mengungkapkan data tersebut ke publik. Sebab, apa yang disampaikan BIN adalah sesuatu hal yang positif.

“Bukan untuk menakuti, tetapi agar waspada. Memang ini fakta soal penyebaran paham radikal intoleransi dan kekerasan, itu fakta,” jelas dia.

Sebelumnya, Juru Bicara BIN Wawan Hari Purwanto menjelaskan informasi tentang adanya 41 masjid di lingkungan pemerintahan yang terpapar radikalisme. Hal itu didapat dari survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

BIN menyampaikan hasilnya sebagai peringatan dini atau early warning. Kemudian, survei itu ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN.

“Keberadaan masjid di Kementrian/Lembaga dan BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah-ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan,” ungkap Wawan, Minggu (18/11).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here