Daya Saing Investasi Indonesia Naik Enam Tingkat

0
256

Jakarta – Jika pada tahun 2016 tingkat daya saing investasi Indonesia berada di peringkat 48 dari 63 negara yang disurvei, maka pada tahun 2017 ini melonjak ke posisi 42.

Penilaian tersebut setidaknya tercermin dari peringkat daya saing global atau World Competitiveness Ranking 2017.

Prestasi Indonesia ini mengulangi capaian pada 2015 yang sempat menempati posisi yang sama. Adapun, perolehan pada tahun ini masih lebih rendah dari posisi tertingginya selama lima tahun terakhir, di mana pada 2014, Indonesia sempat menempati posisi 37 dari 63 negara yang disurvei.

Dalam daftar yang disusun IMD World Competitiveness Center, kelompok peneliti di sekolah bisnis IMD di Swiss tersebut, posisi Indonesia naik enam tingkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan peringkat tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.

Peringkat tersebut juga menyalip tiga negara besar yang pasarnya tengah berkembang (emerging market). Mereka adalah India yang turun empat tingkat ke posisi 45, Rusia yang turun 2 tingkat menjadi ke-46, dan Turki yang anjlok 9 tingkat ke posisi 47.

Di atas Indonesia, ada Singapura yang naik satu tingkat ke posisi 3, Malaysia yang turun lima tingkat ke posisi 24, dan Thailand serta Filipina yang naik satu tingkat ke posisi masing-masing 27 dan 41.

Adapun diposisi teratas dunia untuk tingkat daya saing investasi ditempati oleh Hong Kong. Peringkat kedua ditempati oleh Swiss.

Sementara itu, Amerika Serikat mengalami penurunan setelah Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS. Negeri Paman Sam itu menempati peringkat ke-empat dari sebelumnya selalu masuk dalam urutan tiga besar.

Seluruh indikator yang digunakan dalam penilaian merupakan hal-hal yang menonjol di sebagian besar negara maju. Mayoritas penilaiannya berkaitan dengan pemerintahan, efisiensi bisnis, serta produktivitas.

Sekadar informasi, sejak tahun 1989 IMD World Competitiveness Center menerbitkan peringkat negara-negara paling kompetitif setiap tahunnya. Lembaga tersebut memakai 260 indikator sebagai penilaian.

Sebanyak dua per tiga di antaranya merupakan data yang “sulit”, seperti jumlah pekerja nasional dan statistik perdagangan.

Ada lebih dari 6.250 jawaban yang diperoleh dalam Executive Opinion Survey dan menghasilkan persepsi sektor bisnis dalam memandang korupsi, kepedulian terhadap lingkungan, serta kualitas hidup di suatu negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here