Di Bawah Kepemimpinan Anies Baswedan Pemprov DKI Jakarta Semakin Radikal

241 Pemirsa

Sejak Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta radikalisasi dan rasisme seolah tumbuh subur di Pemrov DKI.

Masih segar dalam ingatan ketika Pemrov DKI Jakarta mengundang Ustaz Felix Siauw, yang merupakan seorang tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sekaligus pendukung ideologi khilafah, pada bulan Juni lalu untuk mengisi kajian di Masjid Fatahillah Balai Kota DKI.

Sontak keputusan kontroversial itu mendapat respon beragam dari masyarakat dan juga warganet.

Sempat beredar berita bahwa kajian yang akan diisi oleh Felix Siauw dibatalkan. Namun ternyata tidak. Anies, justru turut mendukung kehadiran Felix Siauw.

Namun bukan Anies namanya jika tak bersilat lidah. Ya, Anies selalu memiliki seribu alasan terhadap apa saja yang ia kerjakan. Sebagai pemimpin Anies terbilang cukup lihai menyusun kata-katanya. Ia bahkan mampu menyihir mereka para kaum awam.

Jadi, sangat wajar jika kita meragukan nasionalisme seorang Anies Baswedan. Sangat wajar pula jika kita meragukan kecintaannya terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa. Semua orang tahu. Dan dengan sangat mudah kita dapat melihat rekam jejak digitalnya, bahwa Felix Siauw merupakan salah seorang pentolah HTI, ormas pengusung khilafah islamiyah itu.

Begitulah Anies. Apa yang ia ucapkan kerap kali tidak sejalan dengan apa yang ia kerjakan. Seakan anti-rasisme, namun ia kerap berbicara rasis. Seakan anti-radikalisme, namun ia sendiri yang secara sengaja mendatangkan curut radikalisme mengotori Balai Kota. Dan, baru berselang dua bulan saja, seorang ustaz rasis dan radikal kembali diundang Pemprov DKI.

Adalah Haikal Hassan, yang diundang oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta. Haikal akan mengisi Kajian Ba’da Dzuhur di Masjid Al Khidmah (masjid yang terletak di lantai 12 Gedung DPMPTSP). Ustaz rasis lagi. Ustaz radikal lagi. Apa tidak ada lagi ulama lain untuk diundang? Kenapa harus Haikal Hassan, si rasis itu?

Sementara kita tahu betul bahwa Haikal Hassan lebih tepat disebut sebagai seorang provokator ketimbang seorang ustaz. Sebab dalam setiap dakwahnya, yang dengan bebas videonya dapat kita tonton di youtube, Haikal Hassan tidak pernah menyampaikan ceramah yang menyejukkan hati.

Dalam setiap dakwahya, ia berusaha keras menggiring opini setiap pendengarnya, sesuai dengan keinginannya, dengan senantiasa menyebarkan hoax dan ujaran kebencian, serta ucapan-ucapan rasis yang menyerang kelompok agama, suku, ras, atau golongan tertentu.

Yang pasti, Haikal Hassan sebelas dua belas dengan Felix Siauw. Keduanya sama-sama pendukung HTI dan FPI. Keduanya sama-sama pendukung khilafah. Keduanya sama-sama tidak mampu menjaga kualitas mulutnya ketika berbicara.

Bagi mereka para pendukung fanatik Anies Baswedan menganggap bahwa tidak ada yang perlu diperdebatkan atas diundangnya Felix Siauw ke Masjid Fatahillah. Hal yang wajar saja. Begitu mereka merespon tentang Haikal Hassan.

Memang begitulah para fans beratnya Anies. Apapun yang diperbuat Anies, apakah itu benar atau salah, Anies tetap didukung secara membabi buta.

Bagi mereka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies sudah melakukan berbagai kebijakan yang baik dan tepat untuk kepentingan warga Jakarta. Sekalipun pada kenyataannya, Jakarta kini jauh lebih kacau dan buruk. Dari sisi mana pun kita melihat, jika kita mencoba memberi penilaian secara objektif, Jakarta memang tidak lebih baik saat ini.

Oleh karenanya sangat disesalkan jika Pemprov DKI Jakarta, dengan segala kebusukan dan keboborokan berpikirnya, masih mengundang Haikal Hassan. Kenapa tidak mengundang ulama lain yang selama ini sudah teruji dan selalu berdakwah dengan benar, sejuk, dan mengedepankan keindonesiaan.

Inilah yang harus dijawab Pemrov DKI dan juga Anies. Jika pertanyaan tersebut tidak dijawab, maka kita dapat menyimpulkan bahwa rasisme bisa saja sedang tumbuh subur di Pemprov DKI Jakarta. Bahwa radikalisme dan perlawanan terhadap Pancasila dan NKRI mungkin saja sedang berlangsung di Bali Kota saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here