Dua Kabupaten di Sumatera Barat Larang Perayaan Natal

Dua Kabupaten di Sumatera Barat Larang Perayaan Natal
Dua Kabupaten di Sumatera Barat Larang Perayaan Natal
129 Pemirsa

Pelarangan perayaan Hari Raya umat Kristiani di Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung, dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, telah merusak kerukunan antarumat beragama.

Aktivis Badan Pengawas Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka), Sudarto menilai, larangan tersebut merupakan suatu tindakan melanggar HAM, karena di negara ini setiap umat beragama diberikan kebebasan untuk merayakan hari besar agama masing-masing.

Ia mengatakan, selama ini sekitar 210 kepala keluarga (KK) umat Nasrani di Sungai Tambang, yang terdiri dari 120 KK jamaat HKBP, 60 KK Khatolik dan 30 KK GKII merayakan Natal di geraja di Sawahlunto yang harus menempuh jarak 120 kilometer.

“Mereka tidak mendapatkan izin dari pemerintah setempat kerena perayaan dan ibadah Natal dilakukan di rumah salah satu umat yang telah dipersiapkan. Pemda setempat beralasan karena situasinya tidak kondusif,” ungkap Sudarto seperti dilansir suara.com, Selasa (17/12/2019).

Lebih jauh dikatakan Sudarto, pelarangan bagi umat Nasrani untuk merayakan Natal dan Tahun Baru sudah berlangsung sejak tahun 1985.

“Sudah berlangsung cukup lama (1985), selama ini mereka beribadah secara diam-diam di rumah salah satu jamaat, namun mereka sudah beberapa kali mengajukan izin untuk merayakan Natal, namun tak kunjung diberikan izin. Pernah sekali, pada awal tahun 2000, rumah tempat mereka melakukan ibadah kebaktian dibakar karena adanya penolakan dari warga,” ujarnya.

Karena faktor jarak tersebut, pada akhirnya mereka secara bersama-sama mengajukan izin untuk bisa merayakan Natal di lingkungan mereka tinggal.

“Mereka kembali mengajukan izin untuk merayakan secara bersama di rumah saja, namun tetap tidak mendapakan izin,” ucapnya.

Saat ini, Sudarto dan beberapa perwakilan Pusaka mendatangi Komnas HAM dan Ombudsman untuk mengadukan nasib mereka, agar mendapatkan izin merayakan Natal dan Tahun Baru.

Seharusnya masyarakat tetap menjaga toleransi beragama sehingga tercipta situasi kondusif dan harmonis. Karena, pelarangan perayaan hari besar umat beragama dapat merusak kerukunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here