Faizal Assegaf Suruh Orang Yang Memprotes Anies Baswedan Belajar Demokrasi Kepada HTI dan FPI

132 Pemirsa

Bidikdata – Pro kontra aksi “walk out” Ananda Sukarlan saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius, Sabtu akhir pekan lalu, tampaknya semakin digosok untuk mempertajam perbedaan di Indonesia.

Kolese Kanisius yang kental dengan nuansa keagamaan khususnya Umat Katolik di Indonesia menjadi sasaran tembak orang-orang yang anti kebhinnekaan.

Salah satu diantara mereka adalah tokoh dan Ketua Progres 98, Faizal Assegaf yang menyatakan bahwa aksi walk out tersebut karena kolese tersebut memang pendukung salah satu calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017 ini.

“Maklum, para tokoh politik, misionaris dan aktivis Katolik sangat getol membela narapidana penista Al-Qur’an alias Ahok. Wajar saja dalam berdemokrasi, umat manapun bebas memilih pemimpin atas dasar kesamaan agama dan sebagainya,” ujar Faizal.

Dari pernyataannya Faizal menyamaratakan seluruh anggota dan alumni kolese kanisius, padahal Ananda Sukarlan sendiri telah memberikan klarifikasinya bahwa tindakan “walk out” tersebut adalah dari dirinya sendiri dan tidak memprovokasi teman-temannya.

“Walk out itu adalah murni inisiatif saya. Jadi saya nggak memprovokasi siapa-siapa. Saya walk out dengan sangat sopan karena saya tahu bahwa itu saya pasti akan mengganggu,” ujar Ananda.

“Kalau sampai ada orang-orang yang ikut keluar dengan saya, itu saya nggak ngajak siapa-siapa. Jadi semoga ini jelas,” sambungnya. Saat itu, memang ada sejumlah alumni Kolose Kanisius lain yang mengikutinya walk out ketika Anies berpidato.

Aksi uninstall aplikasi android Traveloka sebagai buntut aksi walk out Ananda juga mendapat perhatian Anies Baswedan karena dianggap masih memberikan manfaat bagi warga banyak.

“Kalau menurut saya begini, kita hormati orang berpandangan berbeda. Tidak perlu uninstall dan lain-lain, karena Traveloka juga memberikan manfaat bagi warga banyak,” kata Anies di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Pernyataan provokatif lainnya saat Faizal menyatakan pasangan Anies-Sandi merupakan representasi umat Islam.

“Apakah kepemimpinan Anies-Sandi adalah representasi dari aspirasi politik umat Islam? Mau ngeles dengan cara apapun, jawabannya: iya! Penegasan atas realitas politik tersebut tidak bisa dinafikan,” ujarnya

Hal ini justru menegaskan bahwa Faizal Assegaf justru mengarahkan pasangan Anies – Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta agar mengabaikan aspirasi politik dari umat lain, yang tentunya akan semakin memperparah potensi perpecahan bangsa akibat eksploitasi perbedaan tersebut.

Himbauan Faizal agar Kanisius dapat belajar berdemokrasi kepada HTI dan FPI tentunya memperlihatkan dangkalnya pengetahuan Faizal atas pergerakan HTI yang telah lama menafikan dan justru mengkafirkanDemokrasi dan selalu bersikukuh untuk menegakkan konsep khilafahnya, sedangkan FPI sejak awal berdirinya kerap kali melakukan aksi yang anarkis dan sama sekali tidak mencerminkan toleransi dan kebhinnekaan.

Penajaman perbedaan adalah hasil dari politik identitas yang menjadi kunci kemenangan Anies-Sandi pada pilkada lalu. Pidato Anies Baswedan yang menggunakan kata “pribumi” menimbulkan diferensiasi keberagaman sehingga banyak pihak bereaksi keras karena hal tersebut dinilai tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin. Hal ini yang ditolak oleh alumni kanisius melalui aksi walk out, bukan menggelar berbagai aksi yang mengganggu ketertiban umum dan merugikan masyarakat.

Kedepannya semoga apa yang diucapkan Gubernur Anies Baswedan akan mengayomi semua pihak tidak menjadi basa-basi dan kebohongan politiknya seperti ditunjukkannya pada kelompok buruh. “Saya akan menyapa semua, mengayomi semua. Kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Enggak ada sesuatu, biasa saja, rileks,” ujarnya saat menanggapi pertanyaan wartawan soal aksi walkout di Kanisius.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here