Gagasan Gila Gerindra Mau Rupiah Seperti di Era Habibie Rp 6.500 Per USD

159 Pemirsa

Fraksi Partai Gerindra meminta pemerintah optimistis untuk membawa nilai rupiah lebih kuat dari saat ini.

Gerindra meminta pemerintah untuk optimistis menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat seperti masa kepemimpinan Presiden Habibie, di mana kurs dapat berubah dari Rp 16.800 menjadi Rp 6.500 per 1 dolar AS.

Anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi Golkar John Kenedy Aziz, menyebut bahwa Gerindra sedang bercanda atau memang sedang nyinyir sehingga mengeluarkan statement konyol seperti itu.

Menurutnya faktor yang mempengaruhi nilai tukar itu antara lain adalah risiko berlanjutnya perang dagang antara AS dan Cina yang berimbas kepada volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Belum lagi pertumbuhan ekonomi global belakangan yang memang relatif lemah. Selain itu, asumsi tersebut juga diambil lantaran Indonesia masih menanggung defisit neraca transaksi berjalan.

Optimis sih optimis, tapi kalau ingin menurunkan Dolar dari kondisi sekarang hingga Rp 6500, itu namanya tidak masuk akal. Di bawah angka Rp 10.000 per Dolar saja rasanya sudah sangat sulit.

Permintaan Gerindra sangat aneh dan tidak masuk akal. Mungkin Gerindra sedang bercanda atau memang sedang nyinyir sehingga mengeluarkan statement konyol seperti itu.

Gerindra pura-pura buta dengan sejarah, bahwa kondisi saat ini berbeda jauh dengan era Habibie yang menggantikan Soeharto dimana Indonesia mengalami krisis ekonomi terparah sepanjang sejarah.

Dulu dolar murah, tapi barang-barang tidak terbeli, sedangkan sekarang dolar mahal tapi semuanya kebeli.

Silahkan bandingkan presentase penurunan rupiah terhadap dolar saat krismon dan masa sekarang. Jangan hanya membuat gagasan gila dan omong kosong.

Nilai tukar Dolar menekan mata uang sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia beberapa waktu lalu. Rupiah bahkan menyentuh level terendahnya sejak 20 tahun terakhir setelah menembus Rp 14.777. Rupiah tertekan sebanyak 1.563 poin (11,7%) terhadap dolar AS terhitung sejak awal tahun hingga saat ini (year to date) yaitu Januari hingga September 2018. Mengutip data perdagangan Reuters, dolar AS bergerak dari Rp 13.281 hingga Rp 14.844 sepanjang tahun ini.

Pergerakan dolar AS pada saat ini memang berbeda dengan saat krisis 1998. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000 dengan titik terendah nya di Rp 1.977 per dolar AS pada tahun 1991. Sampai akhirnya terjadi krisis moneter dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Rupiah terus terkikis seiring kian rontoknya cadangan devisa Indonesia.

Dolar AS bertahan di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Sistem kurs terkendali yang dianut membuat orde Baru ingin dolar AS harus bertahan di level itu. Setelah meninggalkan kurs mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997, dan lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998. Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Penembakan mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah kian anjlok. Sampai akhirnya dolar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998.

Lihat dan bedakan sendiri persentase penurunan Rupiah terhadap Dolar saat krismon dan sekarang. Sehingga permintaan Gerindra ini benar-benar omong kosong.

Kalau mengacu pada permintaan tersebut, maka ini akan membuat ekonomi makin tidak stabil, terutama sisi ekspor. Bayangkan kalau misalnya nilai tukar sekarang menjadi, katakanlah Rp 10.000. Ekspor Indonesia akan berdarah-darah. Malah devisa yang diterima akan menurun drastis. Apalagi kalau minta turun hingga Rp 6500.

Jika mengacu pada permintaan Gerindra, maka akan membuat ekonomi tidak stabil, terutama dalam sisi ekspor impor yang cenderung merugikan negara Indonesia.

Yang paling benar adalah turun sedikit, kemudian konsisten saja, sehingga tidak mengganggu ekspor impor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here