Ganjar Membawakan Puisi Inspiratif Gus Mus Malah Dipermasalahkan Soal Adzan

Ganjar Membawakan Puisi Inspiratif Gus Mus Malah Dipermasalahkan Soal Adzan
231 Pemirsa

Puisi inspiratif KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih akrab dipanggil Gus Mus ketika diperdengarkan di tengah kepungan kepentingan politik dan isu SARA akhirnya oleh para penyebar kebencian dijadikan sebagai suatu bahan untuk mengdiskreditkan salah seorang calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Puisi yang dibacakan Ganjar saat acara talk show Kandidat Jateng Di Rosi pada TV Kompas tersebut saat ini kembali diamplifikasi oleh para penggiat SARA dan hanya menampilkan konten provokatif dan tidak memiliki dasar bukti yang menunjang, sehingga menjadi fitnah bagi Ganjar Pranowo.

Mereka yang mempermasalahkan hanya mengambil satu bagian puisi untuk dijadikan celah tafsiran yang mengarah pada pengertian yang salah terkait adzan. Analisa tersebut sangat fragmental dan menyesatkan karena tidak mengambil keseluruhan puisi secara kontekstual.

Mereka hanya menampilkan nukilan puisi yang menurutnya telah melanggar rambu-rambu agama, tanpa menyebutkan bahwa Puisi berjudul “Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana” yang dibuat Gus Mus pada tahun 1987 untuk mengkritik pemerintahan Orde Baru pada zaman tersebut.

Hal ini hanya membuat suatu kondisi kontra produktif untuk kepentingan menjaga kebhinnekaan dan pembangunan toleransi di Indonesia.

Masyarakat sebaiknya tidak bersikap sebagai hakim dalam menanggapi sebuah isu yang muncul di dunia maya, karena hal tersebut akan menutup pemikiran terhadap pandangan lain yang positif.

Sebaliknya, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak untuk memahami bahwa terdapat pihak-pihak yang memanfaatkan hal tersebut untuk menimbulkan pertikaian di tengah masyarakat Indonesia, demi keuntungan pribadinya.

Puisi ini sebenarnya sangat keras mengkritik cara kemunafikan politik sang pemerintah dan pemangku kepentingan pada zaman Orde Baru itu.

Bahasanya yang lugas tegas, transparan. Tidak seperti biasanya para penyair lain yang bermain dengan keindahan kata-kata, Gus Mus mampu menyodorkan kedalaman refleksinya tentang situasi zaman kala itu dalam baitan puisi yang pantas dikenang.

Hasil kekayaan refleksinya ini ternyata bukan hanya untuk dikagumi akan tetapi menjadi catatan kritis sepanjang masa.

Puisi Aku Harus Bagaimana juga menjadi pesan moral bagi warga bangsanya. Menjadi pertanyaan adalah apakah kita akan terus selamanya berada pada rentang posisi demikian seperti gambaran puisi itu. Jawabannya ada pada nurani kita, bukan dari rumput yang bergoyang

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana….

Kau ini bagaimana…
Kau bilang aku merdeka
Tapi kau memilihkan untukku segalanya

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku berfkir
Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bergerak
Aku bergerak kau waspadai

Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau tuduh aku apatis

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip
Kau tuduh aku kaku

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku toleran
Aku toleran kau tuduh aku plin-plan

Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bekerja
Aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa
Tapi khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu
Langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin
Kau mencontohkan yang lain

Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya

Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi
permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggungjawab
kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bis Showab

Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur
Aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku
Aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternative kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau

Aku bilang terserah kita
Kau tak suka

Aku bilang terserah aku
Kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here