Gemblungnya Dahnil Anzar Mati-matian Membela Emak-emak yang Sudah Dijerumuskannya ke Bui

324 Pemirsa

Untuk menutupi sebuah kebohongan, akan dibutuhkan kebohongan yang lebih besar lagi, begitu seterusnya. Dimana kebohongan menjadi sebuah kebohongan yang begitu besar dan tak dapat dicerna dengan akal sehat.

Seperti yang kita ketahui bersama, dalam pilpres yang lalu, begitu banyak kebohongan yang menjurus pada hoax dan fitnah dalam menjatuhkan lawan politik.

Sentimen agama yang begitu marak disertai dengan hoax, seperti yang dilakukan oleh emak-emak PEPES pendukung Prabowo-Sandi. Tak hanya dari pintu ke pintu seperti yang dilakukan oleh emak-emak PEPES, di media sosial pun begitu marak hoax yang menjurus pada fitnah untuk menjatuhkan Jokowi.

Kita masih ingat cara Emak-emak PEPES yang begitu gencarnya menyebar fitnah dan hoaks.

“Lamun Jokowi dua periode moal aya deui sora azan, moal aya budak ngaji, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awewe meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin,” kata perempuan dalam sebuah video yang viral dalam bahasa Sunda.

Artinya: “Jika Jokowi dua periode tak akan ada lagi suara azan, tak ada anak-anak mengaji, tak ada lagi yang memakai kerudung. Perempuan dan perempuan boleh kawin, lelaki dan lelaki boleh kawin.”

Saat ini, mereka sudah dibui karena apa yang disampaikannya dari pintu ke pintu tersebut tak hanya kampanye hitam tapi pembodohan yang menjurus pada fitnah.

Tak heran jika orang yang termakan propaganda hoax tersebut menjadi memiliki hati yang penuh benci setengah mati terhadap Jokowi. Agama yang seharusnya membawa cinta dan membuat tatanan kehidupan menjadi lebih baik, akhirnya justru membawa perpecahan dan membakar hati hingga gelisah karena sebuah benci yang dipicu dari sebuah propaganda hoax.

Dahnil Anzar sebagai jubir Prabowo saat itu begitu membela dan begitu perduli kepada para emak PEPES tersebut, dan bahkan ia menyebut apa yang dilakukan emak-emak adalah perjuangan.

“Saya dan kawan-kawan sudah bertemu beliau-beliau. Beliau-beliau mendapat banyak hikmah pasca peristiwa hukum tersebut, namun tidak menyurutkan semangat emak-emak tersebut dalam memperjuangkan hak kebangsaan untuk anak cucu yang lebih baik,” kata Dahnil setelah mengunjungi emak-emak PEPES.

Dari pernyataan Dahnil di atas kita berasumsi bahwa si Emak-emak PEPES tersebut berjuang demi hak kebangsaan untuk anak cucu yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah dengan menyebar hoax yang berpotensi memecah belah persatuan itu demi anak cucu?

Padahal dengan menyebar hoaks dan fitnah yang berpotensi memecah belah persatuan, kita justru akan mewariskan hal buruk terhadap anak cucu serta membuat kehidupan berbangsa dan bernegara semakin berantakan.

Kita semua ketahui bahwa sentimen agama erat kaitannya dengan permainan politik kubu Prabowo-Sandi. Mereka rela melakukan segala cara untuk menjatuhkan lawan politik, termasuk dengan menyebarkan kebohongan yang menjurus pada fitnah dan provokasi, seperti yang sengaja dilakukan emak-emak PEPES untuk menjatuhkan Jokowi. Mereka bahkan rela berkampanye dari pintu ke pintu agar masyarakat percaya dengan kebohongan dan fitnah yang dibangun, hingga berakhir dengan masuk bui.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here