Guru Agama Harus Punya Kompetensi Agar Tak Terjadi Penyimpangan Ajaran

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf
189 Pemirsa

bidikdata.com – Tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa Indonesia tidak pernah berhenti dalam menyelenggaanrakan program pendidikan dalam keadaan bagaimanapun juga. Namun hingga saat ini keadaan bangsa kita masih mengalami kondisi yang tidak kondusif. Diperparah lagi dengan berkembangnya teknologi dan informasi.

Namun demikian, pendidikan Agama tak bisa dilupakan begitu saja, karena lewat pendidikan tersebut sangat menentukan karakter bangsa.

Membangun Karakter Bangsa

Karakter bangsa terbangun atau tidak sangat tergantung kepada bangsa itu sendiri. Bila bangsa tersebut memberikan perhatian yang cukup untuk membangun karakter maka akan terciptalah bangsa yang berkarakter.

Bila sekolah dapat memberikan pembangunan karakter kepada para muridnya, maka akan tercipta pula murid yang berkarakter. Demikian pula sebaliknya. Sebab Tuhan tidak merubah keadaan suatu kaum bila mereka tidak berusaha melakukan perubahan itu.

Oleh karena itu, peran pendidikan Agama sejatinya penting dalam menumbuhkembangkan karakter dan toleransi dalam kehidupan sehari-sehari.

Namun hal itu kini menjadi cerita yang pahit, manakala sekarang ini kurangnya tenaga pengajar khususnya Agama Islam yang kini terjadi di Jawa Timur.

Kondisi itu menimbulkan sejumlah permasalahan di sekolah-sekolah. Di antaranya, ada sekolah yang merekrut guru tidak tetap atau GTT yang belum tentu punya sertifikat. Artinya, guru tersebut belum tentu punya kompetensi mengajar agama.

Hal ini justru akan menimbulkan problema baru di sekolah dan bagi peserta didik itu sendiri.

Krisis ini pun menjadi perhatian Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini siap membantu mencarikan solusi problem guru yang mengajar agama.

“Saat ini kita sedang krisis guru, khususnya agama Islam yang terjadi di sekolah umum maupun negeri,” kata Gus Ipul saat menerima Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Surabaya, Rabu (9/8/17).

Wagub juga akan mencari tahu mana guru yang terferivikasi dan mana yang belum. Untuk itu, Gus Ipul meminta kepada AGPAII memberikan data lengkap terkait permasalah, sehingga data tersebut bisa dijadikan landasan membuat kebijakan permasalahan guru.

Terkait pengajar khususnya Agama Islam, harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan klasifikasi pemerintah agar proses pengajaran tidak menyimpang dari visi dan misi pendidikan di Indonesia.

“Intinya, guru agama ini penting dalam rangka pendidikan karakter generasi penerus bangsa. Selain guru harus berkualitas dan kompeten, kesejahteraannya juga harus terpenuhi karena berdampak terhadap siswa sebagai calon pemimpin bangsa,” tegas.

Tanpa nilai-nilai moral dasar ini yang senantiasa mengejewantah dalam diri pribadi masing-masing akan menjadi ciri pribadi itu sendiri. Selain itu, lewat pendidikan Agama ini sangat menentukan bagaimana seseorang itu menghargai orang lain yang tidak se Agama. Maka diaharapkan dapat terciptanya kerukunan dalam kehidupan yang penuh toleransi, serta saling peduli antar sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here