Hubungan Politik AS-Cina Memanas, Nilai Tukar Rupiah Merosot

10 Pemirsa

Bidikdata – Saham di Asia mengalami penurunan nilai tukar Rupiah pada Senin 24 September 2018 diakibatkan memanasnya hubungan politik AS-Cina akibat Cina yang membatalkan pembicaraan rencana pengenaan tarif dengan Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, harga minyak melonjak setelah produsen utama menolak peningkatan produksi minyak mentah dikarenakan pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini masih dipengaruhi perang dagang AS-Cina yang berdampak global.

Oleh karena itu, Pemerintah akan mengamati dan mewaspadai dampak lebih lanjut perang dagang AS-Cina terhadap situasi perekonomian nasional.

Indeks saham AS menyentuh level bawah, sementara MSCI yang merupakan indeks terluas di saham Asia Pasifik merosot 0,6 persen, kecuali Jepang.

Indeks Hang Seng Hong Kong bahkan terpuruk hingga 1,2 persen. Sementara itu, saham Australia jatuh 0,25 persen dan Selandia Baru menyusut 0,6 persen.

Pada Jumat (21/9), Wall Street menutup dengan perubahan indeks Dow yang meningkat sebesar 0,32 persen, S & P 500 yang tidak alami perubahan dan Nasdaq menyusut 0,51 persen.

Sebagian besar pergerakan mata uang itu terjadi karena pasar keuangan di negara-negara utama Asia, terutama Jepang, China, dan Korea Selatan ditutup karena momentum libur.

Perang dagang yang terjadi semakin kuat dan intensif, China menambahkan US$60 miliar produk AS ke dalam daftar tarif impornya. Hal itu dipicu oleh kebijakan pengenaan tarif impor oleh Trump senilai US$200 miliar terhadap produk China yang sudah berlaku mulai hari ini, Senin (24/9).

Selain itu, China juga membatalkan pembicaraan perdagangan tingkat menengah dengan AS, serta kunjungan ke Washington oleh Wakil Perdana Menteri Liu He yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Buruknya hubungan perdagangan antara China dengan AS membuat investor menjadi benar-benar fokus mengikuti setiap kebijakan terkait dengan perang dagang ini. Agar masyarakat tidak mudah percaya opini sepihak tentang Pemerintah tidak mampu menghadapi perubahan ekonomi global namun karena AS-Cina tetap mengambil kebijakan kontradiktif dan batalnya AS-Cina melakukan negosiasi maka dampak tersebut tidak dapat dihindari, akan tetapi Pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait tetap berupaya menjaga kestabilan ekonomi nasional.

Sengketa yang semakin kuat ini juga membuat pasar keuangan khawatir pertumbuhan ekonomi global akan merosot. “Pandangan kami tetap bahwa solusi yang dinegosiasikan mungkin ada, tetapi itu tidak mungkin terjadi hingga akhir tahun ini atau awal tahun depan,” kata Kepala Ekonom AMP Shane Oliver.

Hingga saat ini, kedua negara tetap mengambil kebijakan yang kontradiktif, sehingga belum ada jalan tengah dari perang dagang yang terjadi. Di sisi lain, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan China akan memangkas biaya impor dan ekspor untuk perusahaan asing demi mempromosikan citra terbuka bisnis Tiongkok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here