Ini 6 Fakta B30 di Dunia

Ini 6 Fakta B30 di Dunia
66 Pemirsa

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan implementasi biodesel 30% alias B30 di SPBU MT Haryono. Implementasi B30 ini merupakan lanjutan dari program B20 yang sebelumnya telah lebih dahulu berjalan tahun ini.

B30 adalah pencampuran antara bahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Komposisinya yaitu 70% solar dan 30% FAME. FAME ini didapatkan dari kelapa sawit. Kelapa sawit diolah menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester),yaitu bahan bakar nabati.

Ini beberapa fakta terkait program B30 mulai dari manfaatnya bagi perekonomian Indonesia hingga perindustrian dalam negeri.

  1. 1 Januari 2020 B30 Mulai Dijalankan

Pemerintah akan segera menjalankan program biodiesel 30% per 1 Januari 2020. Keputusan ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015. Program B30 adalah tindak lanjut dari kebijakan sebelumnya, yakni B20 yang sudah berjalan satu tahun.

  1. Peluncuran B30 Kurangi Ketergantungan Impor

“B30 juga bisa berjalan, hari ini resmi diluncurkan. Kita juga bisa percepat penggunaan B30 sehingga ketergantungan kita terhadap impor berkurang, negara punya kompetitif dan lebih efisien. Ini juga bagian dari agenda besar yang sudah dicanangkan Presiden,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir di Jakarta, Senin (23/12/2019).

Hal ini merupakan bukti nyata pemerintah dalam mengurangi impor sektor migas, sehingga mengurangi Current Account Defisit (CAD) sesuai dengan arahan Presiden. B30 dapat mengurangi impor migas dengan memaksimalkan penggunaan Fati Acid Methyl Ester (FAME) yang dicampur ke dalam solar

  1. Presiden Dorong EBT

Menurut Jokowi ada tiga alasan mengapa penerapan B30 harus dilanjutkan. Pertama adalah untuk mencari sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT) dan harus mulai melepas ketergantungan pada energi fosil yang mana pada suatu waktu pasti akan habis.

  1. B30 Menghemat Devisa Negara hingga Rp112,8 Triliun

Jadi tak hanya menekan defisit neraca perdagangan, penerapan B30 juga bisa menghemat devisa negara. Pemerintah bisa menghemat pendapatan negara hingga USD8 miliar atau sekitar Rp112,8 triliun (mengacu kurs Rp14.000 per USD).

“Jadi kalau sekarang dengan program B30 itu kebutuhan kelapa sawit terserap CPO itu 10 juta kiloliter. Berarti penghematan devisa itu bisa mencapai USD8 miliar dan ini bisa efektif mengurangi defisit neraca dagang,” ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kamis (28/11/2019)

  1. B30 Selamatkan Produksi Sawit Indonesia

Alasan ketiga adalah untuk menyelamatkan produksi sawit dalam negeri. Apalagi saat ini minyak sawit sedang dalam kecaman dari parlemen Uni Eropa karena disebut sebut merusak lingkungan.

“Ketiga, yang tidak kalah pentingnya, penerapan B30 akan menciptakan Permintaan domestik akan CPO yang sangat besar. Selanjutnya menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani, pekebun kelapa sawit kita. Ini artinya problem B30 akan berdampak pada pekebun kecil dan menengah, petani rakyat yang selama ini memproduksi sawit,” jelasnya.

  1. Didukung Berbagai Pihak

B30 didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESD dan Kementerian BUMN. Dengan dukungan merekalah Pertamina berhasil menjadi BUBBM pertama yang meluncurkan B30 di penghujung tahun ini. Peluncuran ini dilakukan lebih awal daripada target yang ditetapkan.

Bahan bakar ramah lingkungan ini juga ada berkat dukungan dari BPDPKS, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan seluruh stakeholder terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here