Kebohongan Kubu 02 dengan Deklarasi Kemenangan

Kebohongan Kubu 02 dengan Deklarasi Kemenangan
237 Pemirsa

Jakarta – Kubu Paslon 02 terus berbohong demi mempertahankan kemenangan 62% dari data yang tidak jelas juntrungnya. Ketika ditantang buka data, mereka berkilah tidak mau buka data karena alasan keamanan.

Sebelumnya, Andre Rosiade mengaku bahwa real count dilakukan di DPP Gerindra dengan mengumpulkan C1 dari saksi-saksi di TPS seluruh Indonesia, namun ketika dicek tidak ada aktivitas rekapitulasi suara berdasarkan C1 di DPP Gerindra. (sumber:Kompas.com)

Kemudian setelah dikejar terus, Fadli Zon mengaku bahwa perhitungan suara dilakukan secara berpindah-pindah dengan alasan keamanan. Di sinilah letak kebohongannya. Mereka tidak tahu persis di mana real count itu dilakukan atau memang mereka tidak mau kasih tahu atau mungkin juga real count-nya tidak ada.

Dalam hal data, metodologi, dan tempat, yang bohong adalah BPN dan tim pemungutan suara internalnya. Sementara soal hasil, Prabowo dan publiklah yang dibohongi timnya sendiri. Prabowo membiarkan kebohongan itu disebarkan ke publik dan menolak percaya kepada situng KPU. Prabowo bahkan menutup mata terhadap kenyataan, maka terjadilah ‘kegilaan’, yaitu deklarasi berkali-kali dan sujud syukur berdasarkan hasil yang tidak jelas.

Terhitung sampai hari ini sudah 5 kali Prabowo deklarasi kemenangan. Deklarasi pertama dilakukan pada 17 April pada pukul 16:50 WIB. Prabowo mengaku menang 55,4 persen menurut exitpoll dan 52,2 persen quick count. Hal ini diduga dilakukan demi membantah hasil quick count lembaga-lembaga survei yang memenangkan Jokowi. (Sumber: Opini)

Beberapa jam kemudian pada pukul 20.00, Prabowo kembali mendeklarasikan kemenangan. Kali ini Prabowo mengklaim kemenangan 62 persen berdasarkan hasil real count internal. Deklarasi kedua ini masih tetap belum dihadiri Sandi. Hal lain yang lebih menghebohkan deklarasi ini diakhiri dengan sujud syukur.

Keesokan harinya pada 18 April, Prabowo kembali mendeklarasikan kemenangan dengan didampingi Sandi dengan muka sendu. Prabowo mengklaim menang 62 persen berdasarkan real count internal. Dan tak lupa Prabowo juga mendeklarasikan kemenangan sebagai presiden dan wakil presiden. Yang menarik pada deklarasi ini adalah raut muka sandi yang sendu dan lesu. Mungkin karena masih sakit atau bisa jadi karena sebelumnya terjadi kegaduhan di antara keduanya.

Deklarasi keempat kembali diadakan di mesjid Al Azhar dengan didasarkan pada real count internal. Masih tetap pada posisi kemenangan 62 persen. Deklarasi Kali ini dilakukan setelah salat Jumat dan kemudian dilengkapi dengan prosesi sujud syukur.

Deklarasi kelima terjadi hari ini di TMII. Klaim kemenangan masih sekitar 62 persen berdasarkan real count tim internal. Bedanya kali ini diadakan di tempat yang berbeda dengan pengamanan ketat seribu personel gabungan Polri dan TNI. Yang berbeda lagi bahwa deklarasi ini katanya deklarasi relawan yang dihadiri Prabowo, entah apa bedanya hanya mereka sajalah yang tahu.

Narasi mereka pada saat deklarasi bahwa telah terjadi kecurangan di mana-mana. Quick count hanyalah pengiringan opini publik saja. Mereka menuduh lembaga survei tidak bisa dipercaya karena berdasarkan real count mereka, hasilnya berbeda.

Namun ketika ditantang untuk buka data, mereka berkilah tidak mau buka data karena alasan keamanan. Sebelumnya Andre Rosiade mengaku bahwa real count dilakukan di DPP Gerindra dengan cara mengumpulkan C1 dari saksi-saksi di TPS seluruh Indonesia. Tetapi ketika dicek ke DPP Gerindra, tidak ada aktivitas rekapitulasi suara berdasarkan C1.

Kemudian setelah dikejar terus, mereka mengaku bahwa perhitungan suara dilakukan di tempat aman. Setelah dikejar lagi, Fadli Zon mengaku bahwa perhitungan suara dilakukan secara berpindah-pindah dengan alasan keamanan. Emank perhitungan suara itu segampang mindahin panggung dari kerta negara ke TMII apah?

Di sinilah letak kebohongannya. Mereka tidak tahu persis di mana real count itu dilakukan atau memang mereka tidak mau kasih tahu atau mungkin juga real countnya tidak ada. Mereka berbohong demi mempertahankan kemenangan 62 persen dari data yang tidak jelas juntrungnya. Kalau dibandingkan dengan kubu Jokowi, TKN membuka akses ke pers untuk melihat tempat perhitungan suara tim internal. Malah Erick Thohir sendiri ngevlog di ruangan perhitungan suara. Kalau benar kenapa takut?

Mungkin mereka berbohong soal tempat perhitungan suara internal, tetapi mungkin saja perhitungan suara itu benar adanya? Justru alasan mereka tidak buka data itulah kuncinya. Karena kalau mereka membuka data ke publik, maka publik akan tahu bahwa dasar klaim kemenangan 62 persen itu dari mana dan metodologinya bagaimana.

Anggaplah perhitungan suara itu dilakukan, data C1 itu benar, tetapi kalau metodologinya keliru maka hasil pun akan berbeda. Misalkan, perhitungan suara berdasarkan C1 yang diunggah berdasarkan C1 yang dikirim para relawan akan berbeda dengan C1 yang diunggah secara acak atau acak.

Jangankan menang 60 persen, menang 80 persen pun Prabowo dapat dibuat berdasarkan caranya. Misalkan, C1 yang diunggah ke sistem berasal dari TPS di mana Prabowo menang, maka hasilnya Prabowo akan menang. Beda kalau C1 yang diunggah ke sistem secara acak, maka hasilnya akan seperti yang dihasilkan kawalpemilu.org atau kawalpilpres2019.id atau perhitungan suara resmi dari KPU, di mana ketiganya menyajikan data secara terbuka dan penyebaran unggah C1 secara acak sesuai C1 yang sudah tersedia.

Dalam hal data, metodologi, dan tempat, yang bohong adalah BPN dan tim pemungutan suara internalnya. Sementara soal hasil, Prabowo dan publiklah yang dibohongi timnya sendiri. Prabowo sendiri membiarkan kebohongan itu disebarkan ke publik dan menolak percaya kepada situng KPU sendiri.

Karena Prabowo menutup mata terhadap kenyataan, maka terjadilah ‘kegilaan’, yaitu deklarasi berkali-kali dan sujud syukur berdasarkan hasil yang tidak jelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here