Kekejaman KKSB Papua yang Eksekusi Sandera Sambil Menari Pada Desember 2018

Kekejaman KKSB Papua yang Eksekusi Sandera Sambil Menari Pada Desember 2018
Kekejaman KKSB Papua yang Eksekusi Sandera Sambil Menari Pada Desember 2018
76 Pemirsa

Aksi kekejaman Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Papua masih menyisakan duka mendalam.  KKSB atau KKB di Papua baru saja merayakan hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM) 1 Desember 2019. Meski tak ada insiden saat itu, namun rakyat Indonesia masih teringat jelas kekejaman KKB Papua itu.

Peristiwa pembantaian oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) atau KKB di Nduga, Papua pada 2 Desember 2018 silam masih menyisakan duka mendalam bagi rakyat Indonesia.

Dalam pembantaian itu, sebanyak 17 orang pegawai PT Istaka Karya dipastikan meninggal dunia, 1 anggota TNI gugur dan ada 4 orang masih dalam pencarian.

Ada juga 4 korban yang sempat nyaris ikut dibunuh tapi berhasil melarikan diri dan selamat dari pembantaian itu.

Jimmy Rajagukguk, salah satu korban selamat bercerita tentang kejadian yang mereka alami pada saat pembantaian itu berlangsung.

Konflik bermula pada hari Sabtu, 1 Desember 2018 saat KKSB melakukan upacara adat bakar batu di lokasi yang tak jauh dari kamp pekerja PT Istaka Karya di Kali Yigi-Kali Aurak, Nduga, Papua.

Sore itu, para pekerja sedang menikmati istirahat sambil bermain kartu domino. Tiba-tiba, terdengar suara orang mendobrak pintu kantor dan kamp pekerja. Ternyata di luar sudah banyak anggota KKSB yang datang membawa senjata api dan senjata tajam. Para pekerja menolak membukakan pintu dan sempat mencoba melawan.

Namun anggota KKSB terlalu banyak dan mereka mulai mendobrak pintu-pintu kamp hingga pintu kamar. “Kami dikumpulkan dan disuruh berbaris. Mereka meminta kami membuka baju dan merampas telepon, dompet dan uang milik kami,” kata Jimmy dilansir dari Kompas.com.

Saat itu sebanyak 24 pegawai PT Istaka Karya dan 1 pegawai PUPR pun menyerah karena mustahil melawan KKSB.

Setelah barang dikumpulkan, para anggota KKSB berteriak dan menanyakan pimpinan mereka yang bernama Jonny Arung. “Kami jawab, Jonny Arung, pimpinan tidak ada di sini. Dia lagi ikut bakar batu,” lanjut Jimmy. Setelah itu para korban disuruh berbaris dan masih dalam keadaan tanpa busana.

Mereka lalu diminta mengikuti KKSB menuju Puncak Kabo dan selalu ditodong senjata api. Korban berjalan mengikuti komando dari KKSB tanpa sepatu atau alas kaki dan kondisi telanjang tidak membawa apapun.

Perjalanan ke Punca Kabo harus melewati jalan menanjak yang penuh batu kerikil tajam. Kaki para korban terluka dan langkah mereka makin berat. “Awalnya kami mau dibawa ke Puncak Kabo. Namun setelah 2 jam berjalan kaki, KKSB meminta kami berhenti, terus kami diikat.

Semalaman, korban disekap tanpa baju dan kondisi cuaca di daerah tersebut juga sangat dingin. Suhu di daerah tersebut bahkan bisa mencapai 0 (nol) derajat tiap malam di daerah sana. “Kami dibangunkan pagi hari sekitar jam 6 pagi,” lanjut Jimmy.

Jimmy dan korban lain dipaksa berjalan lagi menuju Puncak Kabo. Dalam hatinya, Jimmy terus memohon pertolongan Tuhan agar bisa selamat. Kurang lebih dari Karunggame menuju Puncak Kabo jaraknya dua jam perjalanan.

Saat sudah sampai di Puncak Kabo, semua diikat lagi dan di lokasi itu teman-teman di eksekusi mati,” tutur pria yang hingga kini mengaku masih trauma itu. Jimmy juga menambahkan kalau sebelum dieksekusi mati, semua korban diminta mengaku sebagai anggota TNI.

Menurut Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, ada sekitar 50 anggota KKSB yang berada di lokasi pembantaian. “Para anggota KKSB menari-nari dan meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua. Lalu mereka secara sadis menembaki para pekerja.

Sebagian besar korban langsung mati bersimbah darah, sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah,” ungkap Aidi. Jimmy pun mengakui kalau ia dan 10 rekannya pura-pura mati meski sebenarnya luput dari terjangan peluru.

Karena trik tipuan itu, ia berhasil melarikan diri. Sayangnya, 11 orang yang melarikan diri ini diketahui oleh anggota KKSB. KKSB kembali mengejar 11 korban ini dan 5 korban ditembak mati oleh KKSB. Empat pekerja berhasil melarikan diri dan selamat hingga saat ini, termasuk Jimmy. Tapi, 2 korban lain masih belum ditemukan juga.

KKB Habis Dibully Warganet Indonesia

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua acap kali mempubikasikan propaganda mereka di akun media Facebook.

Mulai dari klaim keberhasilan mereka memukul mundur aparat gabungan keamanan, hingga mengajak warga lainnya untuk memberontak terhadap NKRI. Di akun Facebook mereka, TNPB, KKB di Papua ini juga kerap memamerkan persenjataan yang mereka miliki.

Bahkan mereka tak segan-segan menantang TNI-Polri untuk berperang dengan mereka. Terakhir, KKB yang bercokol di Papua itu  menggaggu aktivitas PT Freeport. Bahkan seorang anggota KKB yang mengaku sebagai Bridgen Ayub Waker, menyatakan akan menyerang Freeport.

Dalam FB TPNPB Sabtu (18/5/2019) lalu, dirinya juga mengklaim memiliki persenjataan yang canggih. Senjata tersebut dari hasil rampasan milik militer dan Polisi Indonesia dan dan juga diperoleh dari hasil beli dari senjata militer Indonesia tulis akun TPNPB.

Sebelum terwujud tujuan TPNPB untuk kemerdekaan bangsa Papua, perang tidak akan pernah berhenti, jika sampai Indonesia tidak inginkan Kemerdekaan Papua maka perang sampai pada dunia kiamat, tambah TPNPB.

Namun nampaknya akun TPNPB belum tahu nyinyiran netizen Indonesia yang terkenal galak dan barbar. Sontak saja setelah postingan itu beredar, ramai-ramai netizen Indonesia menyerbu kolom komentar akun TPNPB.

Berbagai kecaman dan hujatan dilayangkan kepada akun fb TPNPB.

Nampaknya cacian dan hujatan dari netizen Indonesia membuat admin TPNPB panas telinganya. Hingga akun TPNPB memposting agar netizen Indonesia tidak lagi membully mereka di media sosial. Mereka meminta agar perdamaian saja.

“TPNPBNews Admin would like to advise all members, supporters and Indonesian citizen please kindly to avoid negative attacks one and other on your conversation. We are all peace and justice fighters. Thank you.”

“Admin TPNPBNews ingin memberi nasihat kepada semua anggota, pendukung, dan warga negara Indonesia, silakan hindari serangan negatif satu dan lainnya dalam percakapan Anda. Kita semua pejuang perdamaian dan keadilan. Terima kasih,” tulis akun TPNPB.

Bukannya kendor, justru netizen semakin bersemangat ‘menyerang’ kembali kolom komentar fb TPNPB.

Seperti kata @Mas Blangkon “Baru bagaimana…. Admin sendiri provokatornya.”

@Suandy menulis “Kalau Penghina Jokowi di medsos bisa cepat ditangkap, maka pemilik akun ini mestinya bisa cepat di lacak.”

@Meurah Gayo Zairusdin berkomentar “Anda yang selalu provokatif.”

Komentar keras juga dilontarkan oleh @Awal Galir “mau membela lagi…. sadarlah…kalian juga itu adalah warga negara indonesia… ngapain mau memberontak… berfikir itu pakai otak jangan pakai dengkul!”

‘Meriahnya’ komentar dari para netizen ini harusnya membuat TPNPB-OPM sadar jika sebelum berperang dengan aparat Indonesia mereka harus kuat terlebih dahulu kena nyinyiran netizen Tanah Air.

Aksi teror kelompok kriminal bersenjata atau KKB Papua sering kali menghambat pembangunan jalan Trans Papua sejak akhir 2018 hingga 2019. Bahkan, beberapa kontraktor merasa was-was dan tak nyaman karena khawatir dengan teror KKB Papua.

Menindaklanjuti hal itu, beredar wacana TNI akan dikerahkan sepenuhnya untuk pembangunan di beberapa lokasi yang rawan KKB Papua.

Melansir dari Kompas.com dalam artikel ‘TNI Direncanakan Garap Pengerjaan Trans Papua di Kawasan Rawan KKB’, hal ini diungkapkan Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) XVIII Jayapura, Osman Marbun.

Osman mengatakan, pada 2019, TNI sudah terlibat untuk mendukung pembangunan ruas jalan Wamena (Jayawijaya)-Mbua (Nduga). “Itu kemarin kerja sama antara kontraktor yang sudah bekerja kemudian masuk TNI untuk mendukung keamanan,” kata Osman, di Jayapura, Selasa (3/12/2019).

Menurut dia, kini sebagian besar kontraktor yang biasa memperoleh pekerjaan di wilayah rawan, merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada.

Karenanya, sangat dimungkinkan pekerjaan-pekerjaan di daerah rawan KKB Papua akan diserahkan sepenuhnya kepada pihak TNI agar target terhubungnya jalan Trans Papua di 2020 bisa tercapai.

“Tetapi ke depan mungkin akan kami hentikan kontrak dengan Istaka dan Brantas, nanti akan kami atur apakah TNI penuh di sana, karena situasi sekarang ini banyak rekan yang khawatir kerja di sana,” kata Osman.

Terkait hal tersebut, Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jhon Wempi Wetipo menyatakan, keputusan atas hal tersebut akan dilakukan setelah dilakukannya evaluasi.

“Tidak semua pekerjaan dilakukan oleh TNI, dan tanggal 4 besok kami akan rakor dari semua balai yang ada di Papua, untuk mengevaluasi semua pekerjaan yang ada, hambatan yang di hadapi dan hambatan serta solusinya apa agar di tahun berikutnya pekerja bisa selesai,” kata dia.

Wetipo mengakui bila hambatan terberat dalam proses pembangunan Jalan Trans Papua adalah masalah keamanan. Karenanya, ia meminta dukungan dari semua pihak untuk menyukseskan pembangunan yang telah direncanakan.

Baku Tembak KKB Papua vs TNI-Polri

Baru-baru ini, sempat terjadi aksi baku tembak antara KKB Papua dengan TNI-Polri Salah satunya terjadi di Distrik Balingga, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Kronologi baku tembak KKB Papua vs TNI-Polri berlangsung selama dua hari yakni Minggu (1/12/2019) malam dan Senin (2/12/2019) pagi.

Melansir dari Kompas.com dalam artikel ‘2 Hari Kontak Senjata dengan TNI-Polri di Lanny Jaya Papua, 2 Anggota KKB Tewas’, baku tembak tersebut menyebabkan dua orang KKB Papua tewas . “Hasilnya, aparat TNI-Polri mengamankan satu pucuk revolver, kemudian ada dua korban tewas dari KKB,” ujar Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto Candra mengatakan, kedua korban tidak tewas secara bersamaan.

Pada kontak senjata pertama atau Minggu malam, seorang anggota KKB Papua berhasil dilumpuhkan.

Kemudian pada Senin pagi, petugas menembak seorang anggota KKB Papua lainnya. Sementara dari pihak petugas keamanan dipastikan tidak ada korban. “Yang tewas ini dari kontak senjata tadi malam tewas satu dan tadi pagi satu lagi.

Dia bersenjata tapi senjatanya dibawa lari kawannya,” kata Candra. Hingga saat ini, anggota TNI-Polri masih menduduki Distrik Balingga dan situasi kini sudah terkendali.

Di samping itu, Candra Dianto memperkirakan anggota KKB Papua yang terlibat kontak senjata tersebut merupakan kelompok pimpinan Purom Okinam Wenda atau Kodap II Lanny Jaya.

Meski dalam peristiwa tersebut petugas berhasil menewaskan dua anggota KKB dan menyita satu pucuk senjata jenis revolver, ternyata usaha untuk masuk ke Distrik Balingga tidak mudah. “Balingga itu dari dulu markasnya Purom yang tidak tersentuh sama sekali,” ujar Candra, saat dihubungi, Senin malam.

Meski tidak menyebut waktu pastinya, ia mengungkapkan baru beberapa bulan terakhir TNI-Polri bisa masuk ke Balingga. Itupun harus melalui kontak senjata yang akhirnya membuat pasukan KKB Purom Wenda lari ke Teomala. Karenanya pada 1 Desember, TNI-Polri bisa menggelar bakti sosial di Balingga.

Selain Balingga, pasukan TNI-Polri juga telah berhasil merebut satu titik strategis yang sebelumnya dikuasai Purom Wenda. Daerah tersebut adalah Kampung Popome, Distrik Mokoni.

“Titik kuatnya dia (Purom Wenda) itu di Popome karena dari situ bisa pantau ke seluruh wilayah Lanny Jaya,” ucap Candra. Setelah berhasil diduduki, kini TNI telah mendirikan pos di Popome.

Masuknya Balingga sebagai salah satu zona merah juga sempat diakui oleh Sekretaris Daerah Lanny Jaya Christian Sohilait. Ia mengakui, ada beberapa distrik di Lanny Jaya yang merupakan wilayah perlintasan atau bahkan menjadi markas KKB Papua.

Karenanya sangat mungkin bila beberapa kepala kampung diinterfensi oleh KKB yang sedang melintas. Setidaknya Sohilait menyebut ada lima distrik di Lanny Jaya yang menjadi wilayah perlintasan KKB Papua. Kelima distrik yang dimaksud adalah, Distrik Wano Barat, Kuyawage, Balingga Barat, Balingga, dan Ayumnati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here