Kelompok Penyebar Kampanye Hitam Di Medsos Dipastikan Dari Pendukung HTI

188 Pemirsa

Bidikdata – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan 14 Partai Politik peserta pemilu tahun 2019 pada tanggal 17 Februari 2018 lalu disusul pengundian no urut masing-masing parpol dan hasilnya juga telah diumumkan  KPU pada tanggal 18 Februari.

Namun seiring pengumuman KPU tersebut, kampanye hitam berupa memes/grafis yang menyebarkan informasi yang bersifat hoax dan provokatif karena memfitnah Presiden Joko Widodo dan PDIP sebagai mendukung PKI malah semakin masif di media sosial terutama Instagram.

Kegiatan beberapa akun tersebut dipastikan hanya demi kepentingan menurunkan elektabilitas Presiden Joko Widodo dan PDIP sebagai partai pemenang pemilu 2014 lalu. Maraknya penyerangan ulama dan pelintiran kriminal yang berupa kekerasan pun dikaitkan dengan propaganda kebangkitan PKI.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menyebut bahwa kasus penyerangan terhadap pemuka agama yang terjadi akhir-akhir ini sudah diprediksi dan dideteksi pihaknya. Menurut dia, kasus tersebut adalah salah satu bagian dari kampanye hitam yang dilancarkan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Seluruh jajaran sudah mendeteksi dan memprediksi di tahun politik ini 2018-2019 akan marak kampanye hitam. Wujudnya isu-isu PKI, agama, SARA, politik identitas,” kata Budi, di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Sehingga dapat dipastikan bahwa pra penggiat memes/grafis yang menyebarkan informasi grafis fitnah tersebut adalah para lawan politik Jokowi dan PDIP yang secara keji dan kotor memanfaatkan media sosial untuk kepentingan dirinya sendiri.

Salah satunya akun Instagram yang menamakan dirinya w3n4_al_maidah___ yang setiap saat mengunggah postingan hoax dan fitnah kepada PDIP khususnya dan juga Presiden Jokowi. Akun ini dipastikan digerakkan oleh kelompok radikal HTI yang telah dibubarkan pemerintah karena merencanakan mengganti ideologi Pancasila dengan paham Khilafah.

Dugaan tersebut diperkuat dengan salah satu postingan akun tersebut yang mengunggah infografis ketua umum Gema Pembebasan Ricky Fattamazaya Munthe yang juga merupakan sayap HTI di kampus-kampus.

Sudah sepatutnya para penggiat kegiatan grafis dan postingan ujaran kebencian tersebut ditindak oleh pihak aparat keamanan, mengingat kegiatan tersebut walau berupa fitnah namun dapat menciptakan stigma negatif dan melekat di pikiran masyarakat.

Kampanye merupakan wujud dari pendidikan politik masyarakat yang dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab, berlandaskan prinsip jujur, terbuka dan dialogis. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 4 Tahun 2017 Pasal 4 (empat).

Namun kampanye hitam tidak akan mendapatkan pengakuan apa pun di kalangan masyarakat. Sejatinya, proses kampanye yang akan berlangsung selama 4 bulan lebih itu mampu memberikan pendidikan politik yang cerdas kepada masyarakat untuk meningkatkan partisipasi pemilih.

Namun sayang, fakta dari pilkada ke pilkada menunjukkan bahwa kampanye selalu dijadikan ajang kontestasi yang tidak sehat.

Demokrasi di Indonesia tidak terwujud dengan optimal, karena masih ada pihak-pihak yang mengedepankan kepentingan kelompoknya sendiri dengan membuat kampanye hitam, fitnah, hoax terhadap lawan politiknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here