Ketum Muhamadiyah: Pekik Takbir Jangan Disalahgunakan

0
295

Bidikdata – Jakarta – Pekik takbir adalah kalimat agung, sehingga sebaiknya tidak diucapkan sembarangan. Apalagi dimaksudkan untuk kepentingan politis dan menyerang kelompok lain.

“Allahu Akbar” adalah kalimat toyyibah, kalimat tinggi dan agung, bukan untuk dikorupsi menjadi alat politik atau alat untuk meraih kepentingan kelompok.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah,Haedar Nashir melarang pekik “allohu akbar” saat pertemuan internal Muhammadiyah,sebab menurutnya,kalimat ini sering disalahgunakan.

Pernyataan Haedar Nashir ini memang benar adanya karena sering kali kita mendengar pekik “Allahu Akbar” tetapi mempunyai tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan politik atau untuk membangkitkan emosi jamaah yang kadang malah timbul banyak mudhorot atau keburukan.

Haedar Nashir juga mengatakan untuk menjadi muslim yang baik, yaitu menjadi muslim yang berilmu dan berkontribusi positif bagi masyarakat, bukan yang sedikit-sedikit meneriakkan “Allohu Akbar” untuk sesuatu yang sebenarnya sangat politis dan bukan religius.

Kita ketahui bersama pekik “Allahu Akbar” ini sering digunakan atau seakan-akan dapat legalitas dari Tuhan-nya bahwa,apa yang dilakukannya atau yang diperbuatnya adalah benar. Sebagai contoh, anggota ISIS kalau mau membunuh tahanan atau eksekusi dengan cara ditembak atau dipenggal selalu meneriakkan kata “Allahu Akbar” dan kalau menghancurkan bangunan bersejarah juga disertai pekik “Allahu Akbar”.

Bahkan kerusakan yang terjadi di Suriah, Yaman, Libya dan Iraq, itu juga karena royal atau obral pekik “Allahu Akbar”. Seakan-akan Tuhan merestui atas perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi ini.

Di negara kita pun pekik “Allahu Akbar” juga tak kalah borosnya diucapkan dalam setiap demo-demo yang dengan tujuan untuk menurunkan kekuasaan atau jabatan seseorang. Pekik “Allhu Akbar” seakan menjadi semangat atau doping bagi orang-orang yang ingin membuat kerusakan.

Kalau kita amati dengan seksama, pekik “Allahu Akbar” ini diucapkan oleh orang-orang yang mengalami emosi atau ia merasa dalam keimanan tingkat tinggi. Bayangkan saja, mulutnya mengagungkan nama Tuhan tetapi tangannya membunuh seseorang, tangannya membuat kerusakan dan lain sebagianya. Seakan tidak nyambung antara yang diucapkan dengan yang di perbuat.

Dahnil mengatakan kalimat takbir merupakan kalimat agung, sehingga sebaiknya tidak diucapkan sembarangan. Apalagi dimaksudkan untuk kepentingan politis dan menyerang kelompok lain. “Maksud Pak Haedar itu tentu kalimat takbir disampaikan di tempat yang tepat. Tidak digunakan untuk simbol politik,” ujar Dahnil.

“Jadi kami tidak masalah dengan larangan Pak Haidar. Yang bahaya adalah itu (takbir) digunakan di saat ceramah-ceramah politik.”

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Siti Noordjahan Djohantini menilai memekikkan takbir di dalam forum organisasi bukanlah budaya Muhammadiyah. “Sejak kecil saya aktif di persyarikatan dan tidak ada budaya itu,” kata Noordjanah kepada Tirto.

Sebaliknya, menurut Noordjanah, budaya di dalam forum organisasi Muhammadiyah adalah beramaliah keagamaan, bertauhid dan berpikir secara serius. Bukan beragama secara simbolik belaka dengan pekik takbir. “Tapi kalau organisasi lain punya budaya memekikkan takbir ya silakan saja,” kata Noordjanah.

Noordjanah menilai kalimat takbir terlalu agung untuk dipekikkan di luar ritual keagamaan atau ibadah. Terlebih dijadikan sebagai alat menunjukkan eksistensi politik organisasi. Sehingga, menurut pandangan Noordjanah, pelarangan memekikkan takbir di forum internal Muhammadiyah oleh Haedar merupakan bentuk penghormatan terhadap kalimat itu sendiri.

“Menurut saya itu tepat. Muhammadiyah tidak beragama secara retoris, tapi praktik langsung,” kata Noordjanah. “Jadi semua tentunya sepakat dengan Pak Haedar.”

Saat berpidato di Forum Diskusi Persatuan Mahasiswa Indonesia di The University of Queensland (UQISA) Haedar menyatakan larangan memekikkan kalimat takbir Allahu Akbar dalam forum internal Muhammadiyah. Dilaporkan oleh kontributor Tirto yang hadir dalam diskusi, Akhmad Supriadi, Haedar menyebut kalimat takbir telah banyak disalahgunakan untuk kepentingan politik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here