Kisah Epanggis Soleman Hesegem Mengajar Seorang Diri, Mengabdi dengan Hati

Kisah Epanggis Soleman Hesegem Mengajar Seorang Diri, Mengabdi dengan Hati
Kisah Epanggis Soleman Hesegem Mengajar Seorang Diri, Mengabdi dengan Hati
59 Pemirsa

Pendidikan adalah hal yang paling berharga dalam hidup ini. Tanpa pendidikan maka masa depan anak-anak dan negeri ini akan suram.

Namun, pernahkah kita membayangkan tentang bagaimana pendidikan itu bisa menyentuh wilayah-wilyah pedalaman?

Adalah Epanggis Soleman Hesegem (42), satu-satunya guru yang mengajar 6 kelas sekaligus di SD Inpres Wamerek yang berada di pedalaman Papua sejak tahun 2011.

SD Inpres Wamerek terletak di Desa Tangma, Kabupaten Yahukimo yang merupakan salah satu daerah pedalaman Papua. Dari pusat kota Wamena, Desa ini dapat ditembus dengan mobil offroad selama 3 jam perjalanan mendaki gunung lewati lembah.

Usai lulus kuliah jurusan PGSD dan Teologi di salah satu universitas di Wamena, Soleman kembali ke kampung halamannya untuk mengajar. Selama 8 tahun itulah ia mengajar sendirian di sekolah itu.

“Iya saya ngajar sendirian, ada kepala sekolah, dia hanya datang pas ujian,” ungkap Soleman dilansir dari detikcom, Rabu (11/12/2019).

Soleman menceritakan, mereka yang mengajar di sekolah-sekolah di Desa Tangma bekerja dengan hati. Pasalnya Kepala Sekolah dan beberapa guru yang sudah memiliki SK PNS tidak mau mengajar lagi dan memilih tinggal di kota.

“Tolong disampaikan ke Menteri, kami ingin bangun 4 kelas, termasuk buat pintunya, jadi total 6 pintu lengkap dengan kantor dan wc juga,” ucapnya.

Soleman memiliki 6 anak yang harus dia tanggung (1 anak sudah menikah) dan beberapa sedang sekolah hingga kuliah. Selain sebagai guru, ia juga mengatakan sering mengisi khotbah di gereja.

“Kalau ditanya gaji cukup enggak, ya ga cukup. Kita bekerja dengan hati,” ucapnya.

SD Inpres Wamerek memiliki empat ruangan yang dibagi menjadi 3 ruangan untuk kelas 1-6 SD dan satunya untuk kantor. Dinding masih terbuat dari kayu yang dibangun oleh warga setempat.

SD Inpres Wamerek merupakan satu di antara tiga sekolah di Desa Tangma yang sulit mendapat akses pendidikan maupun pembangunan. Pasalnya, menurut pengakuannya, dinas pendidikan atau pemerintah tidak pernah berkunjung sama sekali ke desa ini meski sekolah-sekolah yang ada sudah puluhan tahun berdiri.

Terlebih, sulitnya akses ini membuat sekolah-sekolah ketinggalan informasi. Misalnya di SD Inpres Wamerek, para siswa masih mendapat buku kurikulum terbitan tahun 2011.

Meski harus berjuang seorang diri namun Soleman melakukan semua itu dengan senang hati, karena jiwanya terpanggil untuk ikut mencerdaskan anak negeri.

Soleman berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sektor pendidikan bagi anak-anak pedalaman Papua, sehingga SDM Papua dapat menjadi bibit-bibit unggul sebagaimana cita-cita Presiden Jokowi untuk dapat meningkatkan kualitas SDM dalam negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here