Komoditas Pertanian Menjadi Andalan untuk Meningkatkan Ekspor

Komoditas Pertanian Menjadi Andalan untuk Meningkatkan Ekspor
145 Pemirsa

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menggenjot peningkatan produksi komoditas perkebunan untuk mengembalikan kejayaan komoditas bernilai ekonomis tinggi di pasar dunia dan kesejahteraan petani dengan meluncurkan program BUN500. Kementan akan menyediakan benih bermutu tanaman perkebunan.

Ketersediaan benih unggul bermutu komoditas unggulan perkebunan merupakan faktor penentu utama guna meningkatkan produksi yang berdaya saing di pasar ekspor.

“Direktorat Jenderal Perkebunan melalui APBN menyediakan benih tanaman perkebunan dalam rangka tahun benih 2018. Ketersediaan benih unggul dipastikan mampu memenuhi kebutuhan, terutama untuk perkebunan rakyat,” kata Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/6/2019).

Kegiatan dukungan perbenihan perkebunan itu melalui APBN-P 2017 dan 2018, menyediakan benih bermutu tanaman perkebunan yang dilaksanakan secara non-swakelola dan swakelola, dengan melibatkan UPT Pusat lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan, UPTD Perbenihan, maupun kelompok masyarakat.

Namun demikian, dalam pelaksanaannya belum terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Sebagian masih terdapat benih tidak dapat didistribusikan akibat belum siapnya CP/CL dan/atau biaya transportasi yang terlalu besar.

“Salah satu upaya terobosan dalam penyediaan benih tanaman perkebunan dilakukan oleh Kementan melalui Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mengatasi hal tersebut dengan meluncurkan atau membangun program Benih Unggul 500 juta (BUN500),” ujar Kasdi.

Kasdi menegaskan keberadaan benih bermutu tanaman perkebunan sangat diperlukan untuk menunjang produktivitas, kualitas hasil serta ketahanan terhadap penyakit.

“Penggunaan benih bermutu juga diharapkan mampu mengurangi berbagai faktor risiko dan meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

Sementara itu, sebagai upaya untuk mensukseskan Program BUN500, Kasdi menerangkan telah tersedia lokasi kawasan pengembangan tanaman perkebunan yang tersebar di berbagai provinsi. Ketersediaan kebun benih sumber pada lokasi pengembangan harus pula didukung oleh adanya kebun pembenihan.

“Kebun pembenihan akan memproduksi benih dari kebun sumber benih menjadi benih sebar yang siap digunakan oleh petani. Kebun pembenihan dapat dibangun pada lokasi yang sama dengan kebun benih sumber atau diluar lokasi kebun benih sumber,” katanya.

Sementara Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Ketut Kariyasa menjelaskan bahwa Kementan berhasil menggenjot ekspor produk pertanian hingga 26,9 persen dalam periode 5 tahun terakhir. Dalam catatan pemerintah, volume ekspor pada 2013 hanya sebesar 33,5 juta ton, kemudian meningkat signifikan pada 2018 menjadi 42,5 juta ton.

“Artinya ekspor kita selama lima tahun terakhir berjalan sangat baik,” ujarnya, Jumat (7/6/2019).

Menurutnya sektor perkebunan merupakan komoditas ekspor yang memiliki posisi cukup sentral. Lebih dari itu, sektor ini juga menjadi andalan ekspor Indonesia seiring meningkatnya konsumsi dan perubahan gaya hidup masyarakat global.

“Karena itu sampai saat ini membaiknya kinerja ekspor produk pertanian sangat ditentukan oleh ekspor perkebunan yang terus meningkat setiap tahunnya,” tegasnya.

Sebagai catatan, volume ekspor komoditas produk pertanian selama 2013-2018 meningkat rata-rata 5,35 persen per tahun. Ini terlihat dari angka tahun 2013 yang hanya sebesar 32,5 juta ton. Namun angkanya naik tajam menjadi 41,3 juta ton pada tahun 2018.

Adapun beberapa komoditas perkebunan yang menunjukkan kontribusi penting antara lain kelapa sawit, kelapa dalam, kakao, dan karet. Dalam periode ini, ekspor sawit meningkat 34,12 persen atau rata-rata 6,64 persen per tahun.

“Ekspor sawit pada tahun 2013 hanya sebesar 25,8 juta ton. Tetapi, angkanya meningkat drastis menjadi 34,6 juta ton pada tahun 2018,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here