Konsumen Makin Optimistis, BI: Tanda Pemulihan Ekonomi

Konsumen Makin Optimistis, BI: Tanda Pemulihan Ekonomi
84 Pemirsa

Bank Indonesia (BI) mengatakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan trend pemulihan dan peningkatan. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya investasi ekspor, investasi bangunan dan nonbangunan.

Hasil survei konsumen yang dikeluarkan BI menyebut indeks keyakinan konsumen (IKK) pada November 2017 tercatat 122,1 atau naik dari bulan Oktober 2017 yang tercatat 120,7.

Peningkatan optimisme IKK disumbang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik 1,9 poin dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) yang meningkat 1,0 poin sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini akan lebih baik pada tahun 2018.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan terus membaiknya angka IKK menunjukkan Indonesia mengarah pada pemulihan ekonomi.

“Saya lihat ini semua konsisten, karena kuartal I, II dan III semua menunjukkan ke arah pemulihan ekonomi. Meski pertumbuhan kuartal III sebesar 5,06 persen,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Kompleks BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, (8/12/17).

Selain itu, perbaikan IKE juga dipengaruhi oleh meningkatnya pembelian barang tahan lama. Sementara itu, kenaikan IEK dipengaruhi oleh ekspektasi seluruh kelompok pengeluaran terhadap kenaikan penghasilan ke depan dan peningkatan kegiatan usaha.

“Kondisi ini adalah pesan yang baik dan artinya confirm dari Indonesia di dunia yang ada unsur ketidakpastian, kemarin di AS kan ada risiko government shutdown ya. Ini menunjukkan semakin baik untuk Indonesia ke depannya,” jelas dia.

Di sisi lain ada perkembangan yang baik bahwa usulan pajak dari administrasi pemerintahan Presiden Trump terlihat ada progressnya. Sementara di Eropa, terlihat perkembangan negosiasi Brexit, terkait isu perbatasan Irlandia dan Irlandia utara.

Namun secara umum, tidak terlalu berdampaknya pada Indonesia. Sebab indikator-indikator menunjukkan pemulihan. Hal lain yang mendukung, kata Agus, arus dana masuk ke Indonesia tetap menjanjikan.

Agus menjabarkan, dana yang masuk ke Indonesia year to date dari 1 Januari sampai November di kisaran Rp 137 triliun. Dibandingkan periode sama tahun lalu yang berada di kisaran Rp 126 triliun.

“Indikator yang menunjukkan bahwa risiko di Indonesia itu dapat diterima oleh dunia adalah di credit default swap (CDS) yang bahkan sampai di kisaran 91-92. Jika dibandingkan dengan awal 2017, CDS di kisaran 157 jadi menunjukan bahwa risiko Indonesia semakin dapat diterima dan ini bagus untuk kesiapan Indonesia masuk di 2018,” ulasnya.

CDS merupakan perjanjian jual beli di mana penjual memberikan jaminan asuransi kepada pembeli bahwa dana pinjaman yang dikeluarkannya dipastikan akan dibayar.

Sementara maraknya dana asing yang keluar melalui obligasi dan bursa saham, kata Agus, harus dilihat secara year to date, yakni dana masuk masih Rp137 triliun dibanding tahun lalu Rp126 triliun. Menurutnya wajar bila menjelang akhir tahun para investor mengambil untung.

“Menjelang akhir tahun sudah ada investor masuk periode libur. Sehingga mereka harus kunci profitnya. Tidak heran banyak yang mengambil posisi untuk melewati tahun 2017. Outflow terjadi temporary karena orang mau taking profit,” ungkap Agus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here