Makin Sering Prabowo Ke Luar Negeri Apakah Kerusuhan Tidak Akan Berhenti ?

552 Pemirsa

Sejak dinyatakan kalah kembali dalam pilpres 2019 oleh mayoritas mutlak quick count lembaga survei yang kredibel, Capres Prabowo Subianto tampaknya merencanakan plan B bila dirinya kalah kembali pada pilpres 2019.

Plan B tersebut sayangnya hanya merugikan masyarakat Indonesia dengan terjadinya kerusuhan 22 Mei 2019 lalu. Pengerahan massa besar-besaran oleh pihak Prabowo-Sandi untuk memprotes dan menekan KPU dan Bawaslu akhirnya menciptakan kerusuhan paling biadab sepanjang sejarah pemilu di Indonesia.

Seperti diketahui Prabowo sepekan sebelum kerusuhan 22 Mei dibongkar oleh netizen telah berkunjung ke Brunei bersama tokoh provokator aksi rusuh 22 Mei Amien Rais.

Pertanyaan yang langsung muncul di benak masyarakat tidak pernah dijawab oleh kubu Prabowo sendiri, untuk apa Prabowo ke Brunei? Bukankah sebentar lagi KPU akan mengumumkan hasil penghitungan berjenjangnya?

Isu yang dihembuskan saat Prabowo dan Amien Rais ke Brunei adalah mempersiapkan diri untuk menghindari tanggung jawab bila aksi demonstrasi ‘7 juta orang’ di KPU dan Bawaslu berakhir rusuh dan menelan ratusan bahkan ribuan korban jiwa seperti 1998 lalu.

Meski PKS, PAN dan Demokrat sudah menarik diri dari klaim kemenangan dan tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh Gerindra, tapi kubu Prabowo masih punya ormas-ormas garis keras di belakangnya. Yang terbukti selama ini loyal dan menjadi penyumbang massa terbanyak dalam aksi-aksi demo maupun kampanye.

Ada FPI, ormas yang frustasi karena Rizieq tidak pulang-pulang karena kasus mesum. Ada HTI yang juga frustasi karena sudah dibubarkan oleh pemerintah. Dua ormas ini akan melakukan apapun untuk melawan Jokowi.

Ketika massa FPI dan HTI selalu siap turun ke jalan, hanya butuh satu atau dua teroris untuk membuat martir di kerumunan. Maka selanjutnya akan terjadi kekacauan, ketakutan dan ketidak percayaan terhadap pemerintah. Kalau sukses terlaksana, kabar pelanggaran HAM ini pun akan secepat kilat menjadi perbincangan dunia internasional. Pemerintahan Jokowi akan digoyang dari dalam dan luar negeri.

Beberapa spekulasi bahwa Prabowo dan Amien Rais ke Brunei seperti dikutip dari seword bahwa Prabowo dan Amien Rais datang untuk mencairkan dana dari keluarga Orde Baru untuk pengerahan massa besar-besaran pada tanggal 21-22 Mei tersebut.

Pasca kerusuhan 22 Mei Prabowo kembali keluar negeri, melalui Dubai Prabowo diketahui terbang ke Austria tempat dugaan dana 127 Miliar dolar hasil rampokan dinasti rezim korup orde baru dialirkan dari Swiss. Seperti dikutip dari laporan investigatif majalah Time keluarga cendana diketahui masih menyimpan 9 Miliar Dolar disana atau sekitar Rp. 127 Triliun dengan kurs rupiah saat.

Laporan investigasi TIME itu juga menyebutkan, dana trilyunan rupiah itu belum seberapa. Masih ada simpanan dan kekayaan lain dari Keluarga Cendana. Enam putra-putri Soeharto memiliki 564 perusahaan di Indonesia dan luar negeri. ”Dari Uzbekistan hingga Belanda, Nigeria dan Vanuatu,” tulis laporan tersebut.

Di samping taman perburuan di New Zealand bernilai $ 4 juta, Keluarga Cendana punya saham 50% di perusahaan parkir khusus kapal pesiar di luar Darwin, Australia. Hutomo Mandala Putra punya 75% saham di lapangan golf lengkap dengan 22 apartemen mewah. Bambang Trihatmojo bahkan punya rumah mewah di Los Angeles senilai $ 12 juta, yang letaknya tak jauh dari kediaman penyanyi Rod Stewart.

Laporan khusus Majalah TIME tentang Indonesia tersebut, merupakan bagian dari tim investigasi 11 negara, yang dikerjakan selama 4 bulan. Meski terkesan eksklusif namun artikel berjudul ‘The Family Firm’ itu tidak mengejutkan sebagian besar warga Indonesia, karena sebagian besar bukan cerita baru. Hanya saja, beredar di tengah-tengah suasana politik Indonesia yang memanas belakangan ini. Dan, kepergian Prabowo Subianto ke Austria.

Spekulasi bahwa Prabowo ke luar negeri untuk mencairkan dana bagi pengerahan kerusuhan di dalam negeri hingga saat ini belum dapat dijawab dengan gamblang dan tuntas oleh kubu 02. Mereka justru mengalihkan isu seperti saat Sandi mempersoalkan manifest penumpang dalam jet mewah yang disewa Prabowo. Selain itu simpang siurnya keterangan jubir BPN tentang kepergian Prabowo ke Brunei.

Antek loyal Prabowo seperti Fadli Zon justru malah sewot dan berkomentar pedas pada masyarakat yang mempertanyakan urusan rakyat kepo tentang tujuan Prabowo keluar negeri.

“Semua orang juga bisa pergi ke mana saja, ada yang mau pergi ke Yogya. Kenapa harus diurusin? Kan urusan pribadi. Kenapa kok jadi kaya urusan nasional?” kata Fadli Zon.

Membuat bingung masyarakat namun tetap memperkeruh situasi politik dan sosial dalam negeri adalah kata kuncinya.

[sumber gambar buat fitur artikel
http://indonesianlantern.com/2019/05/30/antara-kepergian-prabowo-ke-austria-dan-laporan-investigasi-majalah-time/]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here