Masyarakat Diminta Waspadai Konten Provokasi Di Jejaring Media Sosial

105 Pemirsa

Perkembangan dunia teknologi sekarang ini telah membawa peradaban bangsa-bangsa kerah yang lebih modern. Selain itu adanya ruang media sosial yang hampir tak pernah sepi dalam mencari kemuduhan transaksi eloktronik.

Media sosial bukan hanya sekadar ruang untuk eksistensi. Kemudahan akses dan kecepatan informasi, membuat banyak netizen menjadikannya sebagai acuan berita.

Masyarakat harus lebih kritis menghadapi setiap konten dan informasi yang terdapat di media sosial. Terlebih, jangan mudah mengamini konten pada media sosial tersebut sebagai suatu kebenaran informasi.

Selain itu, pengguna media sosial juga harus bisa menahan diri untuk memposting suatu informasi yang dinilai tidak baik, tidak benar atau tidak berguna. Karena setiap polah yang dilakukan di media sosial pun bisa terjerat hukum.

Adapun bisa berdampak pada hukum, jika masuk kategori pencemaran nama baik, konten fitnah, dan lainnya. Sekarang banyak sekali terjadi, jadi pengguna media sosial pun harus kritis dan menahan diri.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta masyarakat kritis terhadap informasi dan kabar yang tersebar di media sosial. Pasalnya akhir-akhir ini banyak sekali informasi yang bersifat fitnah dan provokatif, salah satunya adalah kabar bentrok di Pontianak, Kalimantan Barat.

Upaya penggiringan opini dan kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak anti-Pancasila, jelas tidak menginginkan adanya ketenangan di Indonesia.

Terkait bentrok Kalbar, memang ada kegiatan budaya dan kegiatan organisasi masyarakat. Dimana dua kegiatan itu sudah dikawal petugas keamanan. Situasinya, kata Tjahjo, kondusif dan aman.

Akan tetapi Tjahjo menyayangkan berita yang muncul di media sepertinya mengerikan. Inilah yang memang sengaja diciptakan oleh provokator agar terjadi konflik.

“Kita bagian dari elemen bangsa Indonesia harus berani bersikap ‘Siapa Kawan Siapa Lawan’ terhadap perorangan atau yang terang-terangan atau terselubung menentang Pancasila, UUD45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika di wilayah Indonesia yang menginginkan instabilitas keamanan,” kata Tjahjo dalam keteangan tertulisnya, Minggu (21/5/17).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here