Menakar Toleransi dalam Kontroversi Film Pendek ‘Aku Adalah Kau yang Lain’

252 Pemirsa

bidikdata.com – Adanya perbedaan pandangan itu hal yang biasa. Namun, jika tidak melihat secara utuh sebuah persoalan dapat dipastikan akan menimbulkan efek buruk dimasa mendatang.

Inilah yang kerap terjadi di negeri ini. Contoh halnya yang baru saat ini terjadi pada festival film pendek, Police Movie Festival. Dimana sebuah film yang berjudul “Aku adalah Kau yang Lain” menjadi pemenang festival itu.

Film tersebut disinyalir telah merusak tatanan kehidupan bernegara. Namun tunggu dulu. Alangkah bodohnya jika kita sendiri tidak mengetahui ide cerita itu sendiri atau seperti apa jalan cerita sesungguhnya yang terkandung dalam film itu.

“Aku adalah Kau yang Lain” yang menjadi pemenang dalam Police Movie Festival IV 2017 ini memang sedikit kontroversi karena dinilai mendiskreditkan dan menyudutkan agama tertentu.

Mari kita simak sama-sama jalan ceritanya.

Film pendek Aku adalah Kau yang Lain yang menang kompetisi yang digelar Divisi Humas Mabes Polri, pada tanggal 10 Juni 2017 lalu. Alhasil, film tersebut kini banyak menerima tanggapan dari masyarakat, ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Film yang dianggap menyudutkan umat Islam di Indonesia itu berdurasi delapan menit. Namun, film itu menampilkan toleransi lintas agama di rumah sakit dan pengajian jalanan.

Masyarakat khususnya umat Islam jangan terprovokasi dengan argumen atau pernyataan beberapa orang sebelum melihat utuh isi film tersebut.

Dalam film tersebut diceritakan sepasang warga Tionghoa yang tengah mengantre di rumah sakit mempersilakan polisi yang anaknya tengah sakit, untuk mengambil nomor antreannya sehingga mereka bisa dilayani terlebih dahulu karena kondisinya darurat.

Umat Islam yang sedang melakukan pengajian dan menutup jalan pun bersedia mempersilakan ambulans yang mengangkut pasien Kristen.

Sebenarnya tanpa berasumsi lain, beberapa karakter dari pemain yang diperankan di film itu adalah gambaran dari sifat manusia pada umumnya. Kita pasti sering berhadapan dengan situasi di film itu, tidak pada satu agama apapun.

Namun, sering pula kita disadarkan oleh orang lain untuk mengerti melalui penjelasan.

Nah. Karakter Si Mbah seperti itu, tapi kemudian disadarkan oleh warga yang lain dan Polisi yang sedang berjaga di situ.

Di film ini pada akhirnya ambulans yang membawa pasien Kristen itu diberikan jalan dan tidak ada satupun, dari kelompok pengajian yang menolak ambulans tersebut lewat bahkan Si Mbah akhirnya sadar dan ikut membantu ambulans tersebut lewat.

Nah. lewat penokohan yang ada di film itu agar supaya pesan toleransi itu bisa diterima.

Sikap toleransi inilah yang yang mungkin sedang digambarkan oleh sang sutrada film Aku Adalah kau Yang Lain, Anto Galon. Karena Anto pun adalah seorang Muslim sejak lahir.

Sebelum ia membuat film tersebut dirinya juga sudah berdiskusi sebelumnya dengan seorang Kiai di tempat tinggalnya. Anto menegaskan, ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk mencederai umat Muslim.

Ia sempat berdiskusi dengan beberapa tokoh Islam di Semarang, salah satu yang ia ajak diskusi mengenai ide cerita dan skenario nya adalah Kiai Budi Hardjono.

Oleh karena itu, tidak bijak juga jika kita berkomentar yang tidak kita lihat secara utuh jalan ceritanya. Apalagi menggunakan media film tersebut sebagai senjata untuk menciptakan konflik horizontal.

Terkait film tersebut, MUI menyampaikan rasa prihatinnya terhadap kinerja Humas Polri. Hal itu sebagaiman dikatakan Amirsyah dalam keterangannya, Kamis (29/6/17).

Amirsyah juga prihatin terhadap kinerja tim juri yang berlatar belakang seniman, seperti Renny Jayusman dan Oppy Andaresta, yang dinilai kurang profesional. Sebab, tim juri memilih 20 film terbaik yang salah satunya memicu pro-kontra.

Meskipun film tersebut bukan buatan polisi, namun MUI menyesalkan film tersebut sempat beredar di publik.

Kendati demikian, Amirsyah sangat mengapresiasi Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang langsung bertindak cepat, lalu kemudian video itu ditarik. Sebab, kalau tidak segera ditarik, lanjut Amirsyah hal itu dapat menimbulkan pro-kontra yang berpotensi konflik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here