Miris FPI Adakan GISS di Madura, Capresnya Jarang Sholat

380 Pemirsa

bidikdata – Jakarta- .Sholat itu adalah tiang agama, namun dalam konstelasi politik sudah merubah menjadi alat kekuasaan dan perlu diingat salah satu orang militan Prabowo bernama Abu Bakar Salim menguak mengenai sosok Capres 02 yang sholatnya tidak penuh alias bolong-bolong.

Hal ini sangat kontras dengan kegiatan FPI bertajuk Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GISS) di Sumenep Madura yang didalamnya termuat arah dukungan politik Pilpres untuk mengganti Presiden/ mendukung Prabowo yang notabene jarang melakukan sholat Subuh.

Gelap mata dalam mempermainkan Agama membuat FPT an pihak oposisi masih terus memainkan politik identitas untuk meraih massa melalui berbagai modus dan model termasuk bidang keagamaan dengan melakukan pendekatan secara kultural. Dengan fakta Prabowo yang jarang sholat ini, tak membuat oposisi pedulu bahkan terbukti telah memainkan agama demi syahwat politik serta kekuasaan duniawi.

Sesunggunya dalam pagelaran Pilpres 2019 dengan keterlibatan para tokoh politik, agama, dan bisnis adalah hal lumrah. Menjadi tidak lumrah jika ada sekelompok elit masyarakat (politisi, agamawan, pebisnis, dlsb) yang ‘ngotot’, ‘overdosis’, dan memaksakan diri untuk memenangkan pertarungan. Karena bernafsu ingin memenangkan laga Pilkada dan syahwat menguasai sudah di ubun-ubun, maka mereka cenderung menggunakan berbagai macam cara, termasuk cara-cara busuk; menghalalkan berbagai macam strategi dan taktik kotor; serta memakai berbagai tempat, termasuk tempat-tempat ibadah, sebagai instrument kampanye dan propaganda politik.

Karena sudah gelap mata bak orang sedang “kesurupan hantu”, mereka—orang-orang yang sudah “bernafsu” ingin menguasai dunia politik, agama, dan ekonomi ini—tidak lagi mempedulikan etika sopan-santun dan fatsun berpolitik, tidak lagi menghiraukan halal-haram atau dosa-tak berdosa, tidak memusingkan melanggar aturan atau tidak. Yang penting bisa memenangkan laga Pilpres 2019. Persetan dengan norma, etika, aturan, moralitas, ajaran agama, dan seterusnya.

Salah satu saat ini yang terjadi adalah maraknya sejumlah kelompok yang saling menghujat dan memaki lawan, memanfaatkan sarana peribadatan untuk ajang kampanye dan memojokkan lawan, serta memanipulasi simbol, wacana, tradisi, ajaran, sejarah, dan teks-teks keagamaan untuk kepentingan politik praktis-pragmatis dan mendukung paslon tertentu.

Misalnya, yang sangat jelas dan gamblang adalah penggunaan beberapa masjid-masjid di seluruh Indonesia, terutama pada waktu khotbah Jum’at, sebagai medium untuk kampanye dan propaganda memenangkan pasangan calon (paslon) tertentu serta alat untuk merendahkan dan memojokkan paslon lain. Bahkan di Jakarta pernah ada larangan mengurus, mendoakan, dan menyolati jenazah yang sewaktu masih hidup mendukung paslon tertentu juga bagian dari “teror teologis” kepada paslon tertentu untuk memenangkan paslon lain. Demikian pula seruan ancaman masuk neraka bagi yang mendukung dan memilih paslon tertentu atau harapan masuk surga bagi yang mendukung dan memilih paslon tertentu juga merupakan bagian dari “akal bulus” dan siasat busuk sejumlah kelompok guna meraih kemenangan dalam Pilkada atau Pilpres 2019.

Jadi, sekali lagi ditegaskan, apa yang sebetulnya terjadi di Indonesia itu tidak lebih dan tidak kurang hanya merupakan akal-akalan belaka dari kelompok kepentingan tertentu atau tindakan manipulasi ayat untuk kepentingan politik praktis-pragmatis yang dilakukan oleh sekelompok orang yang sudah bernafsu ingin menguasai dan mengontrol Indonesia berserta aset-aset politik, ekonomi, bisnis, budaya, dan agamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here