Moeldoko: Kasus Novel Baswedan jangan Ditimpakan ke Presiden Jokowi

0
62

Bidikdata – Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo tidak memiliki niat dan komitmen untuk menyelesaikan kasus teror penyidik KPK, Novel Baswedan.

Presiden Jokowi memang pernah mengatakan bakal turun tangan ketika Kapolri Tito Karnavian sudah tak bisa lagi bekerja maksimal. Tito setidaknya dua kali pernah dipanggil Jokowi guna melaporkan penyelidikan.

Pihak Istana Negara pun meminta agar bola panas kasus penyiraman air keras Novel Baswedan tak digulirkan ke Presiden Jokowi.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menyarankan masyarakat mengarahkan penyelesaian kasus ini kepada Polri. Hal itu untuk menyikapi aksi #500HariNovelDiserang di media sosial.

Moeldoko mengatakan tak semua persoalan bisa ditimpakan ke Presiden Jokowi.

“Jangan semua ke Presiden. Kan masing-masing punya otoritas yang harus diberesin di lingkungan kerjanya,” tegas Moeldoko di Kompleks Istana Bogor, Jumat (2/11/2018).

Moeldoko menegaskan, penyelesaian perkara Novel Baswedan masih menjadi kewenangan penuh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Moeldoko bahkan membantah pemerintah mengintervensi perkara ini sehingga belum menemukan titik terang.

500 hari berlalu, teror terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan belum terungkap. Polri menegaskan penyelidikan polisi atas teror Novel sudah maksimal.

“Proses penyelidikan maksimal sudah kita kerjakan,” kata Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto kepada wartawan di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (1/11/2018).

Kasus penyiraman air keras terhadap Novel, terjadi pada April 2017 lalu, saat Novel usai menunaikan salat subuh di masjid, yang tak jauh dari kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, dia disiram menggunakan air keras.

Akibat insiden ini, sejumlah operasi harus dijalani Novel demi kesembuhannya. Bahkan perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Singapura juga dilakukannya. Saat ini sendiri Novel sudah bekerja kembali di KPK dengan kondisi masih menyisakan bekas siraman air keras.

Novel menduga, kepolisian masih belum berani mengungkap lantaran merasa takut. Namun, jika Presiden Jokowi tak turun tangan, Novel takut sudah tak ada lagi keadilan bagi dirinya.

“Saya pikir pimpinan Polri takut untuk mengungkap, ada wajarnya. Pimpinan Polri bisa diintervensi oleh politik dan lain-lain. Pertanyaannya saya, kira-kira Presiden takut enggak mengungkap ini? Kalau Presiden takut mengungkap ini, saya sangat sedih. Mengapa? Karena Presiden adalah yang paling bisa diharapkan dan memimpin negara dan bangsa ini. Kalau beliau juga masih takut, kepada siapa lagi yang bisa menegakan keadilan di negeri ini,” kata Novel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here