Papua Bagian NKRI, TNI Jaga dari Separatis

539 Pemirsa

Bidikdata – Pepera itu dilakukan pada 14 Juli hingga Agustus 1969 dan hasilnya dibahas di Dewan Keamanan PBB selama tiga bulan, kemudian pada 19 November 1969 akhirnya Sekjen PBB mengetuk palu dan memutuskan Papua (Irian Barat) bagian (milik) dari NKRI.

Terkait adanya kelompok-kelompok yang ingin mempermasalahkan keabsahan Papua bagian dari NKRI yang kerap kali beraksi turun jalan dan berujung pada tindakan anarkis,  bahwa hal itu merupakan tugas aparat keamanan untuk merangkul dan memberikan pemahaman dengan cinta dan kasih.

Apabila para separatis melakukan gangguan dengan senjata serta melukai warga Papua, maka TNI harus melakukan penjagaan secara total di tanah Papua, melindungi Papua dari ancaman pertahanan dan keamanan dan dari kelompok separatis yang berusaha untuk memecah belah kedaulatan Indonesia.

Di beberapa halaman sosial media di informasikan adanya surat permintaan dari para separatis yang menuntut pemisahan dengan NKRI. Harus tegas kalau Indonesia tidak akan menyetujui permintaan TPN-PB untuk memisahkan diri karena hal tersebut tidak mewakili suara masyarakat Papua yang selama ini telah menunjukkan nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air Indonesia.

Keberadaan PT. Freeport saat ini memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun daerah, memberikan lapangan pekerjaan bagi warga negera Indonesia, memberikan pendampingan untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat Papua.

Bahkan beberapa putra putri terbaik diberikan bea siswa sekolah ke luar negeri dan digunakan untuk kepentingan warga Termasuk Papuan Bidge program yang menyekolahkan ke perguruan tinggi di Indonesia.

Empat putera asli Papua di wisuda pada awal April 2017 dan menyandang gelar Sarjana Pertambangan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mereka meraih S1 melalui Papuan Bridge Program (PBP) yang diselenggarakan PT Freeport Indonesia.

Empat orang mahasiswa Papua, Baldus Ambrauw, Orlando Fonataba, Oktovianus Irimi dan Andrew Karubaba, adalah lulusan program Diploma 3 Universitas Cendrawasih dan Universitas Papua yang berkesempatan meneruskan program Sarjana di ITB dengan PBP yang telah diselenggarakan oleh Freeport sejak tahun 2012.

Menurut Baldus, Freeport tidak hanya memberikan mereka beasiswa, namun mereka juga dibekali, dibina, dimonitor, serta diajak berkomunikasi apabila ada kendala dalam perkuliahan. Kerjasama Freeport dan ITB juga sangat baik, apalagi ada mentor yang selalu siap membantu mereka untuk mengejar ketertinggalan.

Papuan Bridge Program adalah program pengembangan untuk mahasiswa Papua yang telah lulus dari universitas dan akan terjun ke dunia usaha/kerja. Tujuan utama dari program ini adalah mengembangkan sumber daya manusia Papua semaksimal mungkin, sehingga dapat bersaing di dunia kerja.

PBP terdiri dari dua jalur. Pertama, PBP Reguler yaitu program magang singkat selama tiga bulan yang diselenggarakan oleh Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) dibawah naungan PT Freeport Indonesia, yang bertujuan untuk mengembangkan putera-puteri Papua yang baru lulus S1 atau S2.

Kedua, PBP D3 Pertambangan yang menjembatani putra-putri Papua lulusan D3 Pertambangan dari Universitas yang ada di Papua, untuk Alih Jenjang melanjutkan studi ke Strata Sarjana di Fakultas Teknik Tambang dan Mineral (FTTM) ITB dengan beasiswa penuh dari PT Freeport Indonesia.

Saat ini PBP telah memasuki tahun ketujuh dan menghasilkan 16 angkatan. Hingga saat ini, total jumlah lulusan program PBP sudah mencapai lebih dari 160 orang, dan mereka telah berkarya di berbagai sektor, termasuk menjadi karyawan PT Freeport Indonesia, Pegawai Negeri Sipil, karyawan perusahaan swasta lainnya, dan entrepreneur di Papua maupun di luar Papua.

“Kami percaya apa yang sudah Freeport Indonesia buat untuk kami pasti besar manfaatnya untuk kami ke depan. Walaupun kami awalnya tidak berani bermimpi, namun sekarang kami mampu dan bisa,” ucap Baldus.

Sekarang ia percaya diri, dengan gelar Sarjana Pertambangan yang disandangnya, Baldus berani bersaing dengan insinyur pertambangan lainnya. Ia pun menyampaikan kepada anak-anak muda Papua, apabila sudah mendapat kesempatan jangan disia-siakan karena kesempatan itu tidak datang dua kali.

Sedangkan Oktavianus, menceritakan mereka tidak pernah patah semangat belajar, “Setiap hari saya harus tidur di atas jam 2 pagi dan bangun pukul 5 pagi karena harus belajar dan belajar agar tidak tertinggal teman-teman sekelas,” tutur Octovianus mengenang perjuangannya.

Koordinator PBP-ITB, Udjiana Sekteria Pasaribu, menceritakan bahwa ia mengapresiasi kehebatan para putera asli Papua itu yang kompak, mau belajar, sehingga termasuk sukses berhasil lulus tepat waktu.

Udjiana, yang juga pengajar keahlian statistika program Matematika ITB ini, mengatakan, “Mereka berhasil melewati masa-masa sulit praktikum di ITB, karena mereka rajin bertanya dan selalu mendengarkan bimbingan dari kita. Mudah-mudahan ini menular ke mahasiswa lain dari Papua, dan pendidikan menjadi way of life.”

Menyimak hal ini, Simon Patrice Morin, mantan anggota DPR empat periode (1992-2009) dari Papua mengatakan, “Peluang ini tercipta karena Freeport punya komitmen melibatkan orang asli Papua. Kini anak-anak orang asli Papua mendapat pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.”

Menurutnya lagi, Freeport pemberi lapangan kerja terbesar bagi masyarakat asli Papua di luar sektor pemerintahan. Melalui Freport, orang asli Papua memperoleh kesempatan meningkatkan ketrampilan, memperoleh pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here