Pembakaran Bendera HTI Harus Dilihat dengan Jernih

Pembakaran Bendera HTI Harus Dilihat dengan Jernih
Pembakaran Bendera HTI Harus Dilihat dengan Jernih
602 Pemirsa

Bandung – Terkait pembakaran bendera HTI di Garut Jawa Barat banyak pihak melakukan klarifikasi dan literasi, namun beberapa fakta dan data perlu sebagai rujukan umat Islam di Indonesia agar tidak ada konflik horisontal yang mengakibatkan kerugian bangsa ini, umat Islam harus cerdas menyikapi hal ini.

Namun perlu di cermati Pernyataan anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat, Ayik Heriansyah terkait pembakaran bendera HTI sebagai berikut:

Bendera hitam putih yang kerap dibawa aktivis HTI merupakan simbol gerakan pemberontakan (bughat) terhadap daulah Islamiyah (NKRI).

Itulah bendera Khilafah ala HTI yang terinspirasi oleh hadits-hadits Nabi Saw tentang liwa rayah.

Liwa rayah merupakan bendera simbol kenegaraan kaum muslimin pada hubungan internasional saat itu.

Di Indonesia umat Islam sepakat menggunakan bendera Merah Putih sebagai simbol kenegaraan mereka.

Itulah liwa rayah kaum muslimin di Indonesia. Bendera pemersatu umat dari Sabang sampai Merauke.

Sudah seharusnya masyarakat Indonesia mengusung bendera merah putih sebagai Liwa rayah kita semua.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah memerintahkan umatnya menggunakan liwa rayah hitam putih bertuliskan dua kalimat syahadat.

Perihal bendera negara diserahkan sepenuhnya kepada kesepakatan umatnya.

Bahwa di masa perang irminiyah dan perang adzrabiijaan, terdapat perbedaan pada wajah qiraah beberapa sahabat dimana sebagian bercampur dengan bacaan yang salah. Utsman radhiyallahu ‘anhu kemudian memerintahkan kepada sahabat untuk menulis ulang Al-Qur’an, mengirimkan Al-Qur’an tersebut ke seluruh penjuru negeri dan memerintahkan kepada manusia untuk membakar Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan kodifikasi beliau.

Hal tersebut menjadi rujukan dari upaya menjaga persatuan dan kesatuan umat, dimana kejadian tersebut juga terjadi pada peringatan hari santri di Tasik melalui pembakaran kain hitam putih sebagai simbol organisasi terlarang, yang kemudian menimbulkan kontroversi dan polemik.

Kasus logo HTI, bahwa terdapat perbedaan logo HIzbut Tahrir internasional dan Indonesia. Logo HT Internasional berupa bola dunia bertuliskan Hizbut Tahrir ditengahnya.

Sedangkan HTI menggunakan tiang bendera tauhid berwarna hitam dan putih di posisi huruf I kata tahrir dan Indonesia pada nama Hizbut Tahrir Indonesia.

HT dan HTI lebih menonjolkan bendera tauhid yang mereka sebut bendera Rasulullah yang bernama Liwa dan Rayah dibandingkan lambang/ logo kelompok mereka sendiri.

Diantara ormas Islam yang menjadikan dua kalimat Syahadat sebagai lambang, hanya HTI dan ISIS yang begitu fanatik.

Hal tersebut semata untuk menunjukkan aqidah yang dianut oleh ormas sekaligus identitas, landasan dan hakikat dari tujuan akhir dari semua aktivitas yang dilakukan.

Sebagai muslim/muslimah yang memiliki KTP, SIM dan Buku Nikah NKRI, makan minum, menggunakan mata uang Indonesia fasilitas jalan, bandara, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dsb udah seharusnya aktivis HTI mengusung bendera Merah Putih.

Liwa rayah kita semua. Toh Nabi Saw sendiri tidak memerintahkan umatnya menggunakan liwa rayah hitam putih yang bertuliskan dua kalimat syahadat.

Bukankah semua hadits tentang liwa rayah hanya bersifat khabariyah informatif tanpa ada qarinah (indikasi) wajib menggunakannya.

Sesungguhnya Nabi Saw sudah tau, perihal bendera negara diserahkan kepada sepenuhnya kesepakatan umatnya.

Aksi pamer bendera HTI di wilayah NKRI menimbulkan kegaduhan, fitnah dan memecah belah umat Islam.

Bukan hanya NU, Ansor dan Banser, ormas Islam lainnya pembentuk NKRI risih dengan bendera HTI.

Sudah pasti tujuan HTI mendirikan Khilafah Tahririyah termasuk bughat. Setiap kegiatan dan atribut yang mengarah kepada bughat dihukumi haram.

Sesuai kaidah ushul fiqih yang juga diadopsi HTI yang berbunyi: al-washilatu ila harami muharramah aw haramun.

Langkah-langkah Banser menindak peragaan bendera HTI tidak lain dan tidak bukan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara.

Yang demikian itu sesuai dengan maqashidusy syariah yakni hifdzul umat, mujtama wa daulah. Inilah esensi dari penerapan syariah.

*Utsman Membakar al-Qur’an*

Pada saat terjadi perang irminiyah dan perang adzrabiijaan, Hudzaifah Ibnul Yaman yang saat itu ikut dalam dua perang tersebut melihat perbedaan yang sangat banyak pada wajah qiraah beberapa sahabat.

Sebagiannya bercampur dengan bacaan yanag salah. Melihat kondisi para sahabat yang beselisih, maka ia melaporkannya kedapa Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Mendengar kondisi yang seperti itu, Utsman radhiyalahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk membaca dengan qiraah yang tsabit dalam satu huruf (yang sesuai dengan kodifikasi Utsman).

(lihat mabaahits fi ‘ulumil Qur’an karya Manna’ al Qaththan: 128-129. Cetakan masnyuratul ashr al hadits).

Setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada sahabat untuk menulis ulang al Qur’an, beliau kemudian mengirimkan al Qur’an tersebut ke seluruh penjuru negri dan memerintahkan kepada manusia untuk membakar al Qur’an yang tidak sesuai dengan kodifikasi beliau.

(lihat Shahih Bukhari, kitab Fadhailul Qur’an bab jam’ul Qur’an, al Maktabah Syamilah)

Perbuatan Utsman disepakati oleh Ali Ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan tegas berkata:

“Jika seandainya Utsman tidak melakukan hal itu maka akulah yang akan melakukannya.” (lihat al Mashahif, Bab Ittifaaqun naas ma’a Utsman ‘ala Jam’il Mushaf, hal. 177).

Mush’ab Ibnu Sa’ad berkata, “aku mendapati banyak manusia ketika Utsman membakar al Qur’an dan aku terheran dengan mereka.

Dia berkata, Tidak ada seorang pun yang mengingkari/menyalahkan perbuatan Utsman. (lihat al Mashahif: 178)

Ibnul ‘Arabi berkata tentang jam’ul Qur’an dan pembakarannya, “itu adalah kebaikan terbesar pada Utsman dan akhlaknya yang paling mulia, karena ia menghilangkan perselisihan lalu Allah menjaga al Qur’an melalui tangannya. (lihat hiqbatun min at tarikh : 57 dan lihat al ‘awashim minal qawashim: 80)

Berdasarkan konteks hadits terkait Liwa dan Rayah, terlihat jelas bahwa Rasulullah SAW menggunakan liwa dan rayah dalam konteks politik identitas suatu negara di tengah pergaulan antar negara saat itu.

Konvensi internasional mengatakan bahwa eksistensi negara dilambangkan dengan sebuah bendera. Inilah fungsi dari Liwa. Adapun Rayah berfungsi adminstrasi (idariyah) di dalam negeri khususnya di angkatan perang (jihad).

Di kancah peperangan bendera jadi penanda pasukan dan pemegang bendera yang jadi pemimpin pasukan. Fungsi politik kenegaraan liwa dan fungsi administrasi rayah merupakan fungsi yang dimiliki setiap bendera negara.

Bendera Liwa Rayah di masa Nabi Muhammad SAW tidak memiliki konotasi keagamaan secara khusus. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa bendera tauhid merupakan produk budaya sebagai lambang negara.

Nilai bendera terletak pada fungsinya bukan pada bentuknya. Bentuk bendera mengikuti konvensi, konsensus dan adat yang sedang berlaku. Singkatnya bertauhid bukan fardhu; Berbendera tauhid (Liwa Rayah) hukumnya mubah.

Demi menjaga persatuan dan kesatuan umat dalam hal qiraat (langgam) al-Qur’an saja, para Sahabat mujma’ akan kebolehan membakar mushaf yang tidak standar. Oleh karena itu Tentu saja membakar bendera HTI yang berisi dua kalimat demi menjaga persatuan dan kesatuan umat pasti boleh, bahkan wajib.

Jadi tidak ada dosa seujung rambutpun perbuatan orang yang membakar bendera HTI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here