Pemerintah Jepang Belajar Tangani Terorisme di Indonesia

Pemerintah Jepang Belajar Tangani Terorisme di Indonesia
Pemerintah Jepang Belajar Tangani Terorisme di Indonesia
188 Pemirsa

Kepala Badan Nasionala Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan bahwa Jepang siap belajar dari Indonesia terkait penanganan terorisme.

Jepang, kata Suhardi mengaku terharu bisa melihat langsung puluhan mantan teroris yang kini justru berjibaku menggaungkan perdamaian.

Menurutnya ketertarikan Jepang berawal dari kunjungan dirinya ke negeri sakura beberapa waktu lalu. Saat itu, mereka menyatakan ingin tahu bagaimana kondisi sebenarnya terkait penanganan mantan teroris dengan soft power approach dan juga ingin mengenal bentuk terorisme di Indonesia serta cara mengatasinya.

Oleh karena itu delegasi Jepang pun siap belajar banyak dari Indonesia untuk melakukan cara-cara lunak (soft power approach) untuk menangani terorisme di negaranya.

“Mereka sangat antusias bahkan terharu melihat fakta di Tenggulun ini. Saya katakan setiap orang punya hati dan sepanjang kita mampu menyentuhnya, mereka pasti mau kembali,” Suhardi usai mendampingi kunjungan delegasi Jepang ke Yayasan Lingkar Perdamaian di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa (31/7).

Suhardi menjelaskan, delegasi Jepang juga mengaku tidak pernah membayangkan cara-cara lunak seperti ini sebelumnya dalam menangani terorisme.

Jika dilihat dari segi kuantitas, gangguan terorisme di Jepang memang terbilang relatif kecil. Bentuk terorisme yang banyak terjadi di Jepang semisal beberapa waktu lalu Jepang menghukum mati 13 teroris karena teror gas sarin di stasiun kereta api.

Meski demikian hal itu lanjut Mantan Kapolda Jawa Barat ini menuturkan tidak bisa dijadikan patokan, sehingga mereka benar-benar ingin belajar banyak dalam penanganan terorisme, khusunya soft power approach dari Indonesia.

Bahkan delegasi Jepang tidak berhenti di Tenggulun saja, tim mereka tambah Suhardi juga akan berkunjung ke tempat lain untuk melihat langsung upaya-upaya lunak yang dilakukan BNPT dalam merangkul mantan teroris.

“Kami jelaskan bahwa inilah yang dikerjakan BNPT membuat balance antara hard power approach dan soft power approach. Dan soft power approach inilah yang kita kembangkan. Mereka ingin melihat yang sudah didengar dan melihat langsung serta ingin komunikasi langsung dengan pelakunya Ali Fauzi, teman-temannya, dan keluarganya. Intinya mereka ingin lihat secara riil yang telah kami kerjakan . Jadi tidak hanya tataran konsep saja, tapi juga implementasinya,” papar Suhardi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here