Pengamat: Emil Dardak Emosional, Suara Milenial Beralih Ke Puti

137 Pemirsa

Bidikdata – Debat Cagub Jatim berlangsung seru di Gedung Dyandra Convention Center. Baik Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno saling berdebat dan bertarung tentang gagasan dan programnya.

Pengamat politik Universitas Airlangga Novri Susan mengatakan dari penampilan di debat terlihat jelas bagaimana posisi yang diambil dari masing-masing calon. Kandidat nomor urut satu, Khofifah-Emil, terlihat mengambil posisi agresif. Adapun Gus Ipul-Puti terlihat lebih tenang, santai dan tegar dalam mengurai problem sekaligus solusi bagi masyarakat.

“Terutama pada segmen debat cawagub, terlihat Emil sangat agresif, bahkan beberapa sesi sempat emosional saat Puti bertanya soal stunting di Trenggalek yang Emil menjadi bupatinya,” ujar Novri, Selasa (10/4/2018).

Menurut batas toleransi Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka anak gagal tumbuh atau stunting ditoleransi 20 persen dari jumlah balita. Sementara, di Trenggalek, angkanya mencapai 25 persen. Di atas batas toleransi WHO.

Novri mencatat, Emil setidaknya juga beberapa kali menyerang Puti secara personal dengan mengatakan bahwa Puti tidak paham dengan masalah gizi/kesehatan anak.

Novri menganalisis pilihan Emil yang agresif menyerang lawan dalam kacamata sosiologi politik bisa malah membuat publik Jatim tidak simpati. Ini karena publik Jatim dikenal sebagai publik santun yang menginginkan pemimpin rendah hati dengan karya yang nyata.

“Nah kredibilitas komunikator politik, dalam hal ini kandidat, akan sangat berpengaruh dalam upaya mendapatkan dukungan khalayak. Sikap yang agresif, merendahkan orang lain, tentu menghasilkan dampak defisit bagi kandidat bersangkutan,” ujarnya.

Doktor sosiologi politik lulusan Doshisha University Jepang tersebut menambahkan, posisi Gus Ipul-Puti yang memilih memaparkan program dengan rendah hati dan menonjolkan kerja yang terukur selama menjadi pemimpin cukup tepat.

“Saya melihat Gus Ipul dan Puti lebih cenderung woles ya, lebih tenang karena lebih berpengalaman, dan mampu memaparkan bukti kerja terukur daripada memilih strategi retorika yang mengawang dan agresif,” tandas Novri.

Sebelumnya Novri menunjuk hasil survei Polmark Indonesia yang dirilis menunjukkan generasi milenial tidak memilih berdasarkan kedekatan usia.

“Perilaku politik milenial ini sangat independen. Pikirannya tajam, menelisik apa sih tawaran dan kinerja kandidat. Tidak memilih berdasar usia kandidat yang paling muda, kan terlihat meski Emil termuda, justru suara milenial ke Gus Ipul-Puti,” kata Novri yang mendalami sosiologi politik, Kamis (15/3/2018).

Ia menambahkan, berdasarkan survei, citra sosial kandidat juga ternyata tidak terlalu memengaruhi generasi milenial. Justru yang terpenting adalah bagaimana menghadirkan ide program pro-generasi milenial serta mengeksekusi komunikasi atau pemasaran ide tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here