Pengamat Kritisi Formula E yang Digelar di Jakarta

328 Pemirsa

Jakarta – Balapan bergengsi Formula E di Jakarta dianggap masih menyisakan catatan penting bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan berperan sebagai penyelenggara. Pasalnya, ada dampak yang akan ditimbulkan pada penyelenggaran tersebut. Selain kemacetan, keselamatan pebalap Formula E juga harus diperhatikan saat melintas di jalanan ibu kota.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriyatna menilai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan harus melakukan hitung-hitungan secara tepat agar ajang ini berjalan lancar dan sesuai harapan. “Mau tidak mau ketika sudah dilaksanakan, hitung nilai manfaat dan kekurangan yang bisa berdampak terkait posisi Jakarta itu sendiri,” ujar Yayat saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (20/7).

Hitung-hitungan itu meliputi aspek keamanan dan keselamatan masyarakat dan peserta balap. Mengingat perlombaan Formula E diselenggarakan di jalan raya yang diubah menjadi sirkuit. Dengan kendaraan yang berpacu dalam kecepatan tinggi, tentu harus diimbangi dengan sistem keamanan dan keselamatan yang baik. “Semua harus diartikan keselamatan sebagai harga mati yang nggak bisa ditawar-tawar,” imbuhnya.

Selain itu, sebelum balapan itu digelar, tentu akan ada uji teknis berupa tes lintasan. Dengan demikian maka diharuskan adanya penutupan sejumlah ruas jalan di ibu kota. Kondisi ini yang akan memantik timbulnya masalah.

Pasalnya jalanan Jakarta tanpa adanya penutupan, sudah begitu macet. Belum lagi penutupan jalan bisa berdampak pada lumpuhnya atau tida efektifnya kegiatan pemerintahan dan bisnis. Kondisi seperti ini juga telah berulang kali terjadi di ibu kota ketika ada kegiatan besar yang mengharuskan penutupan jalan.

“Kita banyak belajar dari peristiwa 21-22 Mei, itu kalau jalan ditutup muternya jauh banget, orang yang kerja di dekat situ juga jadi nggak bisa kerja,” ungkap Yayat.

Tingginya polusi udara di Jakarta juga akan menjadi masalah tambahan. Karena dengan kondisi ini akan memantik pertanyaan dari dunia internasional. Namun sebaliknya, apabila sebelum ajang ini digelar pemprov bisa menurunkan polusi udara, balapan Formula E bisa dijadikan saranan promosi keberhasilan Jakarta mengatasi polusi.

“Gimana polusi bisa diturunkan sehingga ketika ini akan dilakukan sebagai bentuk promosi, bahwa kita berhasil menurunkan polusi di Jakarta. Kalau polusinya tetap tinggi kan orang bertanya,” lanjut Yayat.

Pertimbangan terakhir yakni terkait industri otomotif di Indonesia. Pasalnya sejauh ini bangsa ini belum serius menggarap proyek ini. Bahkan regulasi untuk menaungi industri ini belum ada. Akibatnya bus listrik milik PT Transjakarta saja sampai saat ini belum dioperasikan. Keadaan ini tentu berbanding terbalik dengan Formule E. Di mana kendaraan yang digunakan balapan berbahan bakar listrik. Sehingga ajang ini seharusnya bisa menjadi pintu masuk terhadap industri otomotif listrik Indonesia.

“Kalau hanya sekedar kegaiatan lomba-lomba gitu aja, ya kita nggak dapat apa-apa kecuali punya gengsi,” pungkas Yayat.

Baginya sekarang sudah telah untuk melakukan peninjauan kembali atas digelarnya Formula E di Jakarta. Namun, yang terpenting saat ini yakni melakukan hitung-hitungan secara matang, supaya hajat ini bisa berjalan sukses.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui laman facebook resminya memberikan kabar baik baik seluruh rakyatnya. Dia menyampaikan Jakarta akan menjadi tuan rumah balap mobil bergengsi kelas dunia, Formula E.

“Sebuah proses negosiasi dan persuasi yang panjang itu telah menemukan sebuah akhir yang indah. Jakarta akan menjadi salah satu tuan rumah balap mobil bergengsi Formula E di pertengahan tahun 2020,” ujar Anies, Minggu (15/7).

Hal ini dipastikan Anies selepas menghadiri World Cities Summit di Medellin, Kolombia, langsung terbang ke New York, Amerika Serikat, untuk menuntaskan negosiasi dengan lembaga pengelola Formula E. Di situ didapati penilaian bahwa Jakarta lebih dari layak menjadi salah satu tuan rumah balap mobil kelas dunia ini.

Formula E merupakan turnamen balapan terpopuler kedua sesudah Formula 1. Bedanya dengan Formula 1, Formula E menggunakan mesin bertenaga listrik sehingga bebas emisi, dan diadakan di jalan raya yang diubah jadi sirkuit sementara.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menyebut, terpilihnya Jakarta menjadi tuan rumah Formula E akan berdampak pada pergerakan ekonomi. Sebab, ajang ini akan menarik penonton dalam dan luar negeri.

Menurut preliminary study, satu agenda balapan di Jakarta ini akan menggerakkan perekonomian Ibu kota mencapai 78 juta Euro, atau setara Rp 1,2 triliun. Secara tidak langsung, maka lapangan usaha maupun lapangan kerja akan semakin terbuka untuk masyarakat.

Oleh karena itu upaya menjadikan Jakarta sebagai kota aman, nyaman dan mengundang orang berkunjung membutuhkan banyak kiat dan kerjasama warganya berlandaskan kebijakan dari sang pemmpin. Belajar dari patung bambu Getih Getah yang kontroversial, Pengendara Rubicon yang masuk lintasan lari dan rencana penyelenggaraan balapan Formula E, Jakarta benar-benar butuh kepemimpinan yang bisa diandalkan. Jangan sampai penyelenggaraan event internasional tersebut nantinya berujung pada tanggapan negatif masyarakat global karena kinerja pemimpinnya kurang ahli dan hanya pintar tata kata saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here