Pengamat Menilai Terduga Teroris di 3 Kota Merupakan Sel Baru JAD

0
55
Pengamat Menilai Terduga Teroris di 3 Kota Merupakan Sel Baru JAD

Penangkapan beruntun terduga teroris di tiga kota mulai dari Lampung, Pontianak, dan terakhir di Sibolga dalam kurun waktu kurang dari sepekan ini menandakan sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) masih berkembang di Indonesia.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib mengatakan, ketiga terduga teroris tersebut merupakan sel baru JAD.

“Itu sel baru direkrut oleh sel lama,” ungkap Ridwan dilansir dari Liputan6.com, Rabu (13/3/2019).

Para pelaku yan gberhasil ditangkap oleh Tim Densus 88 Anti Teror, diketahui usianya masih cukup produktif, Ridwan menyebut bahwa JAD seringkali menyasar generasi dengan usia yang masih relatif muda.

“JAD memang menyasar generasi milenial,” jelasnya.

Lebih lanjut kata dia, jaringan JAD ini masih banyak aktif di Indonesia. Ia mengatakan, secara keseluruhan jumlahnya mencapai 1.200 anggota. Menurutnya, sebagaian dari mereka adalah anggota yang dulunya pernah dipenjara, namun saat keluar masih mengemban ideologi terorisme.

“Saat keluar dari penjara mereka belum melepaskan ideologi JAD-nya. Mereka banyak yang kembali ke JAD dan menolak Pancasila,” ucapnya.

Untuk diketahui, sel JAD merupakan sel teroris berbahaya yang jaringannya sudah mencakup di beberapa wilayah/provinsi. Sehingga masyarakat diharapkan tetap waspada serta peduli terhadap situasi sekitar agar jaringan teroris tidak bisa berkembang dan mempengaruhi masyarakat.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris berinisial R alias Putra Syuhada di Lampung pada Sabtu 9 Maret 2019. R ditangkap setelah orangtuanya melaporkan keberadaan anaknya ke polisi.

Setelah penangkapan di Lampung, Densus 88 Antiteror Polri juga menangkap seorang terduga teroris di Pontianak, Kalimantan Barat pada Minggu 10 Maret 2019 sore. Pria berinisial P alias Salim Salyo (37) itu disinyalir akan melakukan perampokan untuk menunjang aksi terorisme.

“Modusnya akan melakukan amaliah (aksi teror) dengan sasaran aparat kepolisian,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta, Senin (11/3/2019).

Selanjutnya, Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa, 12 Maret 2019 kembali menangkap menangkap terduga teroris bernama Husain alias Abu Hamzah (AH) di Sibolga, Sumatera Utara.

Terkait hal itu, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, aparat keamanan telah memiliki standar operasi prosedur (SOP) dalam mengamankan Presiden dari berbagai ancaman.

“Pengamanan terhadap Presiden sudah ada SOP-nya, termasuk dari ancaman teroris,” ujar Iqbal saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (12/3).

Iqbal menjelaskan, penangkapan tersebut merupakan hasil pengembangan dari operasi sebelumnya. “Penangkapan di Sibolga ini murni pengembangan dari penangkapan di Lampung kemarin,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here