Pengibaran Bendera Khilafah di Reuni 212 adalah Bentuk Pengkhianatan kepada NKRI

242 Pemirsa

Bidikdata – Jakarta – Kegiatan reuni 212 merupakan ajang eksistensi terselubung dari HTI dalam upaya menegakkan sistem khilafah yang telah dilarang dibeberapa negara, termasuk Indonesia.

Ini terlihat dari fakta-fakta yang ada dilapangan seperti cuplikan orasi Felix Siauw pada aksi 212 tahun lalu,”Yang punya bendera Angkat!…Takbir…takbiir….takbiiir,”

Orasi yang sama pada pawai akbar Hizbuth Tharir Indonesia (HTI) tahun 2016.”Baik itu dalam bidang hukuum..baik itu dalam bidang pemerintahan. Seperti itulah kita meyakni bahwa akan kembalinya khilafaah…alamin hajin nubuwwah..takbiir.Bersama umat tegakan khilafaah!!!!

Fakta diatas jelas Felix Siauw bersama HTI akan mengubah ideologi NKRI yang dijaga dan disepakati pada tahun 1945 oleh para pendiri bangsa ini dengan darah dan nyawa.Ulama pendahulu telah menyepakati Pancasila serta UU 1945 sebagai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jadi jika reuni 212 akan mengibarkan bendera Khilafah (HTI) adalah bentuk pengkhianatan kepada NKRI.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar mengimbau masyarakat Jawa Barat untuk tidak ikut serta dalam kegiatan reuni 212 yang rencananya akan digelar pada 2 Desember 2018 di Jakarta. MUI Jabar berpandangan kegiatan yang dilakukan sudah kehilangan sensinya.

Ketua MUI Jabar Rahmat Syafei, menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan dan berbagai pertimbangan, reuni 212 sudah tidak murni sebagai kegiatan agama, tetapi lebih mengarah kepada kepentingan politik. Boleh saja berpolitik, tetapi jangan membawa “embel-embel” agama.

“Dari hasil pengamatan kami, kegiatan reuni 212 itu sudah tidak murni lagi sebagai kegiatan keagamaan. Kegiatan sudah melenceng ke arah politik,” kata Syafe’i.

Ia mengimbau warga Jabar agar tidak mengikuti kegiatan tersebut, serta meminta warga untuk melakukan kegiatan pengajian di masjid masing-masing dan berdoa untuk keselamatan bangsa Indonesia agar terhindar dari kegaduhan dan kerusuhan yang dapat memecah belah persatuan bangsa..

Selain itu, Sekretaris MUI Jabar Rafani Achyar mengimbau bahwa esensi kegiatan reuni 212 sudah tidak sama dengan gerakan awal dan lebih condong pada kegiatan politik. Ia mengimbau warga Jabar untuk memanfaatkan waktu bagi hal yang lebih produktif, seperti menggelar majelis taklim, istighosah dan zikir bersama untuk memohon keamanan dan keselamatan bagi bangsa Indonesia.

Menkopolhukam Wiranto, menyampaikan bahwa rencana reuni 212 sudah tidak relevan mengingat aksi tersebut muncul karena masyarakat menuntut keadilan atas kasus Ahok yang dinilai melakukan penistaan agama, dan saat ini kasus tersebut sudah selesai.

Massa 212 justru hanya akan membuang tenaga sebab menjaga kondusifitas pada masa Pilpres 2019 harus menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia sebagai gambaran kedewasaan dalam berdemokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here