Penguatan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

0
135
Penguatan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS
Penguatan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir terjadi karena sentimen global mulai berubah.

Menurutnya, perubahan tersebut memberikan dorongan pada penguatan mata uang Garuda.

Ia mengatakan, perubahan sentimen global tersebut berasal dari dua hal. Pertama, kepercayaan investor asing kepada Indonesia mulai meningkat.

Peningkatan kepercayaan tersebut telah membuat aliran modal asing ke tanah air (capital inflow) naik.

Pada perdagangan pasar spot Jumat (2/11) siang, kurs rupiah berada di posisi Rp15.039 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara, kurs refersensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.089 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (2/11) sore kemarin, menguat sebesar 134 poin menjadi Rp14.981 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.115 per dolar AS.

Sebelumnya, memang BI mengeluarkan peraturan terkait DNDF pada akhir Oktober 2018 dan mempersiapkan secara intensif dengan perbankan.

DNDF sendiri merupakan sebuah instrumen memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu juga.

Perry mengungkapkan, pada awal implementasinya sudah ada 30 bank yang komitmen dengan dibukanya DNDF.

“Penguatan rupiah juga karena pergerakan pasar yang bagus serta supply dan demand yang mulai bergerak. Murni penguatan rupiah karena mekanisme pasar,” kata Perry.

Perry pun menyampaikan terima kasih kepada perbankan, pelaku pasar keuangan dan korporasi yang mulai aktif transaksi di pasar valuta asing. Sehingga bisa mendorong kembali penguatan rupiah terhadap dolar AS.

Ke depan, BI memastikan akan terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah agar tetap stabil dan memberi dukungan pada pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova mengatakan bahwa pandangan “overweight” pada pasar ekuitas Indonesia berdampak positif bagi kurs rupiah.

“Permintaan terhadap rupiah meningkat akibat pandangan itu, dana asing masuk ke pasar keuangan kita, terutama saham,” ujarnya di Jakarta, Jumat (2/11),

Ia menambahkan bahwa pelaku pasar juga sedikit mengabaikan kebijakan The Fed pada Desember mendatang yang kemungkinan akan menaikkan kembali suku bunga acuannya, dan lebih cenderung fokus pada sentimen yang sedang beredar, terutama dalam negeri.

“Pandangan dari Morgan Stanley itu tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang terus fokus terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Sementara Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail menambahkan data inflasi Oktober Indonesia yang naik di atas ekspektasi ekonom juga menjadi sinyal positif bagi rupiah.

“Kenaikan inflasi menunjukan terjadinya peningkatan konsumsi di bulan Oktober,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here