Penjelasan Istana Terkait Pembatalan Remisi Terpidana Pembunuh Wartawan Bali

0
25
Penjelasan Istana Terkait Pembatalan Remisi Terpidana Pembunuh Wartawan Bali
Penjelasan Istana Terkait Pembatalan Remisi Terpidana Pembunuh Wartawan Bali

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menjelaskan terait kebijakan Presiden Joko Widodo yang mencabut remisi I Nyoman Susrama, pembunuh wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Keputusan Jokowi yang membatalkan remisi tersebut menurut Moeldoko karena telah banyak mendengar masukan dari masyarakat, dari kelompok-kelompok masyarakat, juga dari jurnalis.

“Presiden tidak menutup hati terhadap kegelisahan dari para wartawan dan pekerja media. Mereka harus mendapatkan perlindungan saat bertugas. Presiden juga sudah mendengar masukan dari mana-mana,” ujar Moeldoko dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/2/2019).

Seperti diketahui, kasus pembunuhan yang menghilangkan nyawa Gde Bagus Prabangsa terjadi pada 11 Februari 2009 di kediaman Susrama yang berlokasi di Banjar Petak, Bangli. Motifnya adalah kekesalan Nyoman Susrama kepada korban karena pemberitaan wartawan Radar Bali.

Meski demikian kata Moeldoko menambahkan, kasus ini tidak bisa dilihat sepotong-sepotong, karena pengajuan remisi kepada ratusan narapidana dengan kasus yang berbeda-beda. Ia menilai Jokowi sudah mengambil keputusan terbaik.

“Dan saya kira itu keputusan yang terbaik bagi kita semua,” ujarnya.

Sebelumnya pencabutan remisi Gde Bagus Susrama disampaikan Jokowi di sela-sela Hari Pers Nasional 2019. Jokowi juga kembali menanggapi hal ini seusai menghadiri Festival Terampil.

“Ini setelah mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat, dari kelompok-kelompok masyarakat, juga dari jurnalis, saya perintahkan kepada Dirjen Lapas Kemenkum HAM untuk menelaah dan mengkaji mengenai pemberian remisi itu,” ujar Jokowi di Hall Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (9/2).

Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengamini pernyataan Presiden Jokowi terkait pembatalan pemberian remisi bagi I Nyoman Susrama, narapidana kasus pembunuhan wartawan Radar Bali, Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa.

JK mengatakan, Jokowi banyak menerima masukan untuk membatalkan remisi itu. Sedangkan pertimbangan lainnya yang pertama menurut JK, adalah, tindakan pelaku termasuk dalam pidana kriminal. Kedua, telah menodai kebebasan pers dalam menyuarakan pendapat.

“Tentu presiden mendengarkan aspirasi masyarakat bahwa kalau pembunuh wartawan ada dua hal, pertama kriminal, kedua ingin merusak kebebasan pers,” kata JK dikediaman dinasnya, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2019).

“Jadi dua pelanggaran yang dilakukannya (pelaku pembunuh),” tegas JK menambahkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here