Perludem Menilai Dalil Gugatan Tim Prabowo-Sandi Keluar dari Prinsip PHPU

Perludem Menilai Dalil Gugatan Tim Prabowo-Sandi Keluar dari Prinsip PHPU
Perludem Menilai Dalil Gugatan Tim Prabowo-Sandi Keluar dari Prinsip PHPU
80 Pemirsa

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai tim hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ingin keluar dari konstruksi atau prinsip perselisihan hasil pemilu (PHPU) presiden 2019.

Titi menjelaskan, permohonan tim 02 dalam sengketa pilpres yang ingin keluar dari konstruksi PHPU terlihat dalam dalil argumentasi kuantitatif dan kualitatifnya perbaikan permohonan yang disampaikan 10 Juni.

“Jadi, bagaimana melihat dalil atau bukti pemohon (Prabowo-Sandi), memang paslon 02 ini ingin keluar dari konstruksi PHPU yang selama ini terjadi sejak pemilu 2004-2014,” ungkapnya dalam diskusi “Mahkamah Keadilan untuk Rakyat” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/6/2019).

Lebih lanjut kata Titi, bahwa klaim hasil suara pemilu dari tim 02 yang menyatakan bahwa Prabowo-Sandi menang dengan suara 52 persen, sedangkan Jokowi-Ma’ruf 48 persen, menurutnya sebagai orang awam, sebenarnya sulit mencerna angka itu karena tim 02 menganggap selisih 17 juta suara itu hilang.

Selain itu, tim 02 yang ingin keluar dari prinsip PHPU tambah Titi dengan dalil seperti dugaan terjadinya penggelumbungan suara dan daftar pemilih tetap (DPT) yang bermasalah.

Menurut dia, dalil-dalil tersebut dianggap pemohon sebagai sebuah pelanggaran terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

“Dari masalah-masalah seperti itu, maka menurut tim 02 muncul angka kemenangan Prabowo-Sandi dengan 52 persen dan Jokowi-Ma’ruf 48 persen. Ini kok kayaknya kesimpulan tim 02 terlalu jauh,” ujarnya.

Dalam sidang permohonan sengketa atau gugatan pilpres yang dibacakan tim hukum Prabowo-Sandiaga dalam sidang pendahuluan sengketa pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jumat (15/6/2019), tim 02 memiliki argumentasi kuantitatif dan kualitatif yang disampaikan ke hakim Konstitusi.

Dugaan adanya pelanggaran TSM tersebut terdapat pada argumentasi kualitatif. Terdapat lima poin dalam argumentasi tersebut, yakni diduga ada penyalahgunaan anggaran belanja negara dan program kerja pemerintah, penyalahgunaan birokrasi dan BUMN, ketidaknetralan aparatur negara, pembatasan kebebasan media dan pers, serta diskriminasi perlakuan dan penyalahgunaan penegakkan hukum.

Sedangkan pada argumentasi kuantitatif, tim 02 menganggap ada cacat formil persyaratan calon wakil presiden Ma’ruf Amin, cacat materiil karena penggunaan dana kampanye yang absurd dan melanggar hukum, dan kecurangan yang dianggap merugikan suara Prabowo-Sandiaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here