Pertemuan Investor dengan Menko Kemaritiman di New York

Pertemuan Investor dengan Menko Kemaritiman di New York
Pertemuan Investor dengan Menko Kemaritiman di New York
156 Pemirsa

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan optimistis kondisi ekonomi Indonesia masih sangat kuat.

Ia mengatakan bahwa Indonesia bisa selamat dari situasi perekonomian global yang sedang bergejolak saat ini.

Hal itu disampaikannya saat bertemu Morgan Stanley Asset Management di New York, Rabu (27/9/2018) waktu setempat.

“Saya yakin pemerintahan sekarang bisa melewati situasi ekonomi saat ini. Momentum ini kami jadikan untuk melakukan beberapa perubahan karena berada di dalam situasi nyaman dengan kebijakan yang tidak jelas sangat berbahaya,” kata Luhut dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/9).

Dalam pertemuan tersebut, Luhut membawa perwakilan Bank Indonesia (BI) dan pelaku bisnis di Indonesia.

Menurutnya, saat ini salah satu masalah Indonesia adalah menguatnya dollar AS terhadap rupiah tetapi masih dapat diatasi.

Terlihat dari inflasi yang berada di bawah 5% dan di akhir bulan ini ia menargetkan inflasi bisa sekitar 4%. Kemudian dari rasio pajak juga mencapai 12%.

”Dua digit pendapatan pajak adalah hal yang jarang terjadi. Tax ratio biasanya berkisar 10% sekarang bisa 12%.

Tax revenue mencapai dobel digit. Sejak tahun 1970 angka kemiskinan kita sekarang bisa satu digit, 9,28 %, tetapi kami ingin tahun depan lebih baik lagi. Investment grade dari Moody’s, S&P, dan Fitch,” jelasnya.

Kemudian masalah lain adalah perekonomian Indonesia yang cenderung defisit saat ekonominya tumbuh pesat.

Ia berpendapat, ekonomi tumbuh pesat salah satunya karena jumlah kelas menengah yang makin besar. Sehingga permintaan untuk barang-barang impor seperti telepon genggam cukup tinggi

Belum lagi, kelas menengah ini juga membuat pariwisata domestik meningkat. Bisnis pariwisata berkembang, seperti hotel dan tujuan wisata.

“Dalam lima tahun terakhir pembelian pesawat Boeing dan Airbus kebanyakan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan penerbangan Indonesia,” kata Luhut.

Belum lagi permasalahan tingginya angka impor bahan mentah terutama di sektor migas dan barang-barang konsumsi.

“Kekeliruan kami selama ini adalah tidak mengintegrasikan industri-industri kami. Seperti misalnya, kita masih mengimpor slab, padahal kawasan industri di Morowali sudah mengekspor slab,” jelasnya.

Maka itu, pemerintah telah memutuskan untuk tidak boleh ada lagi impor bahan mentah. Selain itu, cara lainya adalah pemerintah telah mengimplementasikan biodiesel 20% (B20).

Ini merupakan strategi pemerintah untuk mengurangi defisit transaksi migas. “Dengan pertimbangan industri kita bisa tidak tergantung lagi kepada sumber energi berbahan fosil. Sekarang kita bisa mengonversi minyak sawit menjadi bahan bakar,” tambah Luhut.

Kebijakan yang berlaku per 1 September ini mewajibkan seluruh produsen untum mencampur biodiesel dengan kandungan minimum 20%. Jika tidak, akan dikenakan denda sebesar UU$ 40 sen/liter.

Kemudian strategi lain untuk menekan defisit adalah meningkatkan penggunaan produk lokal. Serta meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pariwisata. “Sektor ini berbiaya murah tetapi masukan yang didapat luar biasa. Saya tidak pernah menyangka pariwisata bisa menjadi primadona pemasukan negara,” katanya.

Pemerintah telah melakukan berbagai perbaikan seperti perpanjangan runway, pembangunan infrastruktur di tujuan-tujuan wisata dan hasilnya jumlah kunjungan wisatawan ke tempat-tempat tersebut berlipat ganda.

Menurut Luhut, rata-rata wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia menghabiskan US$ 1 juta/orang. Karena itu pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan tahun depan sebanyak 20 juta orang.

“Saya kira negara kami memang pantas jadi tempat tujuan wisata. Majalah Travel and Leisure menempatkan Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Lombok yang menduduki tiga besar pulau dengan potensi wisata,” tutup dia.

Selain Morgan Stanley, selama empat hari lawatannya di Amerika Serikat, Menko Luhut juga bertemu Blackrock Investment Management, NN Investment Partners, TIAA Creft Investment Management, Prudential, Lazard Investment Management, dan Horizon Investment Management.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here