Politik Harus Bebas dari Isu SARA

Politik Harus Bebas dari Isu SARA
Politik Harus Bebas dari Isu SARA
182 Pemirsa

Keadaan demokrasi dan politik hari ini memang sangat menyakitkan. Isu Suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) dimanfaatkan dan dibawa-bawa ke ranah politik.

Demokrasi dan politik itu sebenarnya dalam keadaan yang terancam. Sehingga harus dicegah.

Kualitas demokrasi Indonesia juga menuntukan tingkat kualitas kita sebagai bangsa. Dimana bisa membangun watak pemerintahan di tingkat manapun dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan membangun rasa persaudaraan dunia.

Seharusnya perbedaan dikelola untuk menguatkan persatuan. Karena, jika isu SARA ditarik ke ranah politik ditakutkan akan menimbulkan perpecahan.

“Politik harus terbebas dari isu SARA. Harus diarahkan ke toleransi yang dapat menerima budaya yang berbeda-beda, sehingga terciptalah apa yang dinamakan multi kulturalisme,” jelas Guru Besar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk dalam keterangannya, Jumat (8/11).

Dia mencontohkan di masa lalu Mohammad Natsir aspirasi politiknya adalah Masyumi Partai Islam, tetapi kemudian dia bisa bersahabat dengan orang-orang dari partai Katolik.

“Enggak ada itu sedikit-sedikit mengkafir-kafirkan. Karena ketika seseorang sudah menjadi tokoh bangsa memang dia tidak lagi jadi wakil satu golongan tetapi dia sudah wakil dari semuanya,” ujarnya.

Karenanya, masyarakat diingatkan agar tidak terkungkung dengan kebanggaan identitas kesukuan semata, tetapi harus bangga akan nasionalisme.

Menurutnya, masyarakat harus diingatkan lagi dengan sejarah pembentukan republik ini, bahwa kemerdekaan kita adalah gotong royong semua agama dan suku bahu-membahu, nggak ada yang lebih tinggi dari yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here