Politisi PDIP Ini Tak Setuju TNI Dilibatkan dalam Penanganan Teroris

42 Pemirsa

Indonesia telah mengalami cukup banyak serangan terorisme yang tidak hanya merenggut korban jiwa dan menimbulkan kerugian material, tetapi juga menyebarkan atmosfer kecemasan dan ketakutan di kalangan masyarakat luas.

Saat ini, pemerintah Indonesia telah mendeklarasikan terorisme tidak hanya sebagai ancaman terhadap keamanan dan keselamatan warga negara, tetapi juga keamanan nasional.

Pemerintah semakin mendapat tekanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk menanggulangi terorisme secara efektif. Respon kebijakan pertama pemerintah dalam menghadapi serangan teroris kontemporer adalah responkebijakan cepat, yakni dengan memmpercepat RUU anti teroris yang hingga kini masih dalam pembahsan di DPR.

Untuk itu, Pemerintah dituntut menyusun sebuah strategi yang komprehensif yang menyediakan dasar, orientasi, serta pengaturan bagi penyelenggaraan berbagai kebijakan untuk menanggulangi terorisme di Indonesia. Salah satunya dengan melibatkan kembali peran TNI dan upaya pencegahan.

Pemberantasan tindak pidana terorisme harus dilakukan secara terintegrasi antara institusi Kepolisian dan TNI, sehingga tidak mempermasalahkan keterlibatan TNI yang akan diatur dalam RUU nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Selama ini birokrasi terlalu lama dalam memproses agar TNI menjadi unit pendukung untuk pemberantasan dan pencegahan tindak pidana terorisme sehingga memerlukan payung hukum secara tegas.

Sementara, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga telah memberikan pernyataan mendukung keterlibatan TNI dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. Artinya, antara Presiden, Kapolri, dan Panglima TNI sudah dalam satu pandangan yang sama, maka tidak ada kata lain bagi DPR selain mendukung.

Akan tetapi, masih ada saja anggota DPR yang menaruh kecemasan sendiri dengan terlibatnya TNI dalam menindak terorisme. Sebut saja Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi PDI Perjuangan, Charles Honoris, menilai pelibatan TNI dalam memberantas terorisme adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi, yaitu penanganan terorisme melalui penegakan hukum yang merupakan ranah kepolisian.

Sementara sudah sangat jelas peryataan Presiden dan Kapolri dalam hal ini. Dimana Presiden Jokowi menegaskan dalam percepatan RUU anti terorisme terkait ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Rabu 24 Mei 2017 malam, yang sedikitnya menelan lima korban meninggal dunia, dua diantaranya pelaku, dan tiga Polisi yang sedang bertugas.

Secara umum, strategi penanggulangan terorisme di Indonesia saat ini dapat dikelompokkan menjadi dua pendekatan, yakni pendekatan hard power (keras) dan soft  power (lunak) yang dikombinasikan menjadi sebuah pendekatan yang komprehensif. Hal tersebut sebagaimana dikatan Presiden, baik di dalam maupun di luar negeri.

Adapun konsep deradikalisasi juga dapat di upayakan untuk menjadikan mereka yang tadinya memiliki paham yang radikal (mendukung terorisme) sehingga tidak lagi memiliki paham yang radikal tersebut atau setidaknya tidak menindaklanjuti paham tersebut dalam tataran praktis tindak teroris itu sendiri.

Menurut Charles, saat ini mengacu pada Undang-undang TNI Nomor 34 Tahun 2004 itu bisa dilibatkan dalam upaya pemberantasan terorisme atas dasar keputusan politik negara dan tidak ada yang melarang atau menghalangi TNI ikut berantas terorisme asalkan ada keputusan politik negara, yang mengacu pada Pasal 7 UU TNI, yaitu terlibat dalam pemberantasan terorisme atas dasar keputusan politik negara.

Ke depannya lanjut Charles, maksudnya bisa saja asalkan ada permintaan dari penegak hukum kepolisian. Maka TNI bisa saja terlibat pemberantasan terorisme. Bukankah pernyataan Presiden Jokowi juga merupakan sikap politik?

Kita tidak tahu apakah sikap yang ditunjukkan oleh Charles terkait apa yang dikatakan oleh Presiden. Tak apa jika Charles tak menginginkan TNI berperan dalam penindakan terorisme karena itu haknya dan azas praduga tak bersalah harus dikedepankan. Akan Tetapi tentu caranya bukan dengan memperkeruh keadaan toh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here