Postingan Adu Domba Akun FB Abu Faiz Bojas Jibar Mengangkat Isu Sara

Postingan Adu Domba Akun FB Abu Faiz Bojas Jibar Mengangkat Isu Sara
412 Pemirsa

Sentimen isu SARA nampaknya belum beranjak juga dari para pemikir-pemikir kerdil pasca Pilkada DKI Jakarta 2017 kemarin. Dimana masyarakat sebagian umat Islam mempertentangkan, Gubernur Non-Muslim yang saat itu di pimpin oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Isu tersebut pun meluas hingga kini dengan mengangkat cerita lama yang masih tak jauh dari cerita antek China.

Propaganda tulisan yang di posting akun Facebook Abu Faiz Bojas Jibar setidaknya telah memperkeruh warna toleransi dan keberagaman di Tanah Air. Dalam postingannya itu dituliskan bahwa,

“Ayoo podo melek…..

Komitmen NU, GP Ansor, Banser NU itu kebangsaan katanya.

Kenapa Hary Tanoe yang mau jadi presiden diundang ceramah di pesantren2 NU? NU mau Hary Tanoe jadi presiden? Bagaimana jika Indonesia berubah jadi Taiwan atau Singapura? Itukah kebangsaan yang diinginkan NU?”

Paragraf diatas jelas telah mencoreng sisi pluralisme kebangsaan yang berlandaskan Pancasila. Inilah ujian bagi toleransi religius dan etnis di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Jika kebencian ini jadi tradisi, makan selain mengancam demokrasi yang sedang pelan-pelan dibangun pasca-reformasi, kerukunan antar-etnis dan antar-umat beragama Indonesia ke depan dapat dipastikan akan selalu dalam ancaman.

Namun sayang, dengan tangan-tangan segelintir orang keberagaman ini sengaja ingin dirusak demi kepentingan politik. Hal tersebut merupakan upaya untuk mengadu domba masyarakat, khususnya umat Islam dengan PBNU, demi melindungi dan mengangkat citra FPI.

Meski mayoritas bangsa Indonesia adalah beragama Islam. Namun bangsa ini sudah bersepakat tentang Tanah Air Indonesia, bukan Tanah Air Islam Indonesia. Sebagai mayoritas harus bisa mengalahkan egoisme untuk melindungi minoritas, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi minoritas, dan bukan sebaliknya.

Komitmen Nu, GP Ansor dan Banser NU tetap sama yakni sama dalam cita-cita Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darahnya, Indonesia yang memajukan kesejahteraan umum, Indonesia mencerdaskan kehidupan bangsa, dan Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Komitemen GP Ansor tentang kebangsaan juga diperkuat dalam momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober kemarin, dengan melakukan Kirab Satu Negeri untuk meneguhkan kembali komitmen dan tekad pemuda Indonesia “Bela Agama Bangsa Negeri” dalam satu tarikan napas yang dapat mengokohkan keindonesiaan.

Di paragraf selanjut postingan Abu Faiz Bojas Jibar juga menyindir kehadiran James Riady pada Rakernas PBNU yang terjadi pada tahun 2016 lalu, di mana James membagi pengalamannya sebagai pengusaha sukses dan menyapaikan materinya dengan netral.

“CEO Lippo Group James Riady (Kafir) Jadi Pembicara Rakernas PBNU beginilah kalau Aqidah sudah tergadai.”

Apa yang dilakukan PBNU justru menunjukkan kebhinnekaan karena tidak membatasi diri hanya dengan kelompok ras dan agama tertentu. Sebab bicara pembangunan harus dilakukan bersama-sama untuk kemajuan bangsa. Pembangunan bangsa tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus terjadi sinergi antar kelompok masyarakat dengan cita-cita yang sama.

Justru konten yang yang disebar yang cenderung memcah belah dengan dengan mengadu domba masyarakat dengan pemerintah terkesan sebuah pesananan intimidasi terhadap etnis dan agama tertentu dan hal ini tidak dibenarkan dalam UUD 1945.

Kehadiran CEO Lippo Group James Riady mendorong supaya Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) membangun rumah sakit Generik di daerah guna membantu warga NU yang kesulitan dengan biaya kesehatan.

Sebagaimana diberitakan, bahwa Chief Executive Officer Lippo Group James Riady, menjadi salah satu pembicara dalam Rakernas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta, Sabtu (19/11/16).

Saat itu James diundang dalam pertemuan para pemuka organisasi Muslim terbesar di Indonesia itu karena memiliki visi dan pendekatan yang sama terhadap pembangunan bangsa di Indonesia, yaitu dengan landasan iman dan pendidikan.

Dalam kesempatan itu, James Riady juga menyatakan kesanggupannya untuk membantu PBNU membangun rumah sakit.

Jadi jika ada sekelompok orang yang hanya bertujuan untuk membuat gaduh negara ini dengan berbagai macam tulisan lalu kemudian mengajak masyarakat hanya berpikir kepada pola mayoritas dan minoritas sesungguhnya ini merupakan bentuk kemunduran bangsa Indonesia yang tidak ingin bangga negara ini maju.

Justru konten tersebut disebarkan hanya untuk kepentingan politik serta mendiskreditkan pemerintahan dan lawan politik dengan kembali mengangkat isu SARA.

Bangsa ini sudah melek dengan kemajuan dan tak lagi memusingkan dengan yang namannya perbedaan etnis, suku, maupun agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here