Prabowo Adalah Bagian Orde Baru Yang Presidennya Tercatat Sebagai Pemimpin Terkorup Sepanjang Masa

112 Pemirsa

Empat kali berturut-turut Prabowo Subianto mengajukan diri sebagai Ikut dalam pemilihan presiden secara langsung dalam sejarah Indonesia. Dalam konvensi Golkar tahun 2004 Prabowo Subianto dikalahkan oleh Wiranto yang kemudian berpasangan dengan Shalahuddin Wahid dalam Pilpres yang dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Lima tahun kemudian Prabowo Subianto menurunkan gengsinya dengan menjadi cawapres dan berpasangan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Lalu Tahun 2014 bersama Hatta Rajasa, Prabowo kembali menjadi capres namun tidak dapat membendung laju elektabilitas the rising star Indonesia saat itu Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Sepertinya uang untuk ongkos politik yang biasa dikatakannya sangat mahal itu tak pernah kering, tahun 2019 ini Prabowo bersama Sandiaga Uno kembali mencalonkan diri menjadi capres-cawapres dengan no urut 02.

Ternyata pada tahun 2019 ini kekuatan orde baru telah bersatu kembali setelah para putra-putri Presiden RI ke 2 Suharto mendirikan partai Berkarya yang lolos untuk ikut dalam kontestasi pemilu legislatif (pileg) 2019 dan turut mendukung Prabowo Subianto sebagai sesama keluarga cendana, demikian keluarga besar Suharto sering karena kebanyakan mereka berdomisili di Jalan Cendana Menteng Jakarta Pusat.

Uang yang digunakan untuk terus menerus berkontestasi di pilpres 2019 ini ditengarai dan diduga kuat adalah hasil korupsi keluarga besar Cendana selama 32 tahun berkuasa dan merampas kekayaan negara dengan cara-cara halus seperti monopoli proyek, penguasaan lahan dan hutan dan lain sebagainya. Prabowo Subianto sendiri termasuk keluarga cendana karena merupakan mantan suami Titiek Soeharto salah satu putri diktator Presiden Suharto.

Seperti dikutip BBC News, Transparency International (TI), lembaga internasional yang dikenal luas dengan komitmennya memberantas korupsi, pada tahun 2004 menobatkan bekas Presiden Soeharto sebagai koruptor paling kaya di dunia.

TI mencatat kekayaan Soeharto dari hasil korupsi mencapai US$ 15-35 miliar atau mencapai Rp. 500 Triliun lebih. Sebagian besar di antaranya diduga kuat hasil jarahan selama 32 tahun berkuasa di Indonesia sejak 1967.

Nama Soeharto bertengger di pucuk daftar koruptor sedunia, di atas bekas Presiden Filipina Ferdinand Marcos dan bekas diktator Zaire Mobutu Sese Seko, yang berada di peringkat kedua dan ketiga dengan nilai korupsi terpaut cukup jauh dari Soeharto.

Daftar para raja koruptor itu adalah bagian dari Laporan Korupsi Global 2004 (Global Corruption Report) yang dikeluarkan lembaga itu untuk menunjukkan bagaimana korupsi dan praktek suap-menyuap yang terkait dengan kekuasaan politik telah merusak habis proses pembangunan di banyak negara berkembang.

Transparency International menggarisbawahi praktek korupsi yang dilakukan Soeharto dan menyebutnya telah “menggerogoti harapan berhasilnya pembangunan di negaranya sendiri”.

Dalam pengantar laporan ini, Ketua dan Pendiri Transparency International Peter Eigen menegaskan, praktek penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya para pemimpin politik telah merampas ketersediaan pelayanan publik di sektor-sektor vital.

“Ini pada akhirnya, menciptakan sebuah kondisi keputusasaan yang sangat mudah melahirkan konflik dan kekerasan di masyarakat,” katanya di London.

Di Jakarta, Transparency International Indonesia menegaskan keprihatinan yang sama, terlebih dengan kenyataan pemerintah Indonesia sama sekali tidak menunjukkan upaya maksimal untuk mendapatkan kembali uang rakyat yang dijarah Soeharto dan keluarganya.

“Ketidakpedulian terhadap harta Soeharto dan miskinnya upaya untuk mendapatkannya, tidak terlepas dari keterlibatan partai politik dan pemerintahan sekarang dalam praktek korupsi politik,” kata Sekjen Transparency International Indonesia saat itu Emmy Hafild.

10 Presiden Terkorup yang dimaksud Transparency International adalah :

Suharto: $15-35 miliar (Indonesia, 1967-98)
Ferdinand Marcos: $5-10 miliar (Filipina, 1972-86)
Mobutu Sese Seko: $5 miliar (Zaire, 1965-97)
Sani Abacha: $2-5 miliar (Nigeria, 1993-98)
Slobodan Milosevic: $1 miliar (Yugoslavia, 1989-2000)
J-C Duvalier: $300-800 juta (Haiti, 1971-86)
Alberto Fujimori: $600 juta (Peru, 1990-2000)
Pavlo Lazarenko: $114-200 juta (Ukraina, 1996-7)
Arnoldo Aleman: $100 juta (Nikaragua, 1997-2002)
Joseph Estrada: $78-80 juta (Filipina, 1998-2001)

(Sumber: Transparency International tahun 2004. Semua jumlah kekayaan di atas adalah perkiraan nilai korupsi berdasarkan data penggelapan dana publik yang dilakukan)

Berdasarkan hasil investigasi Time yang diterbitkan pada 1999, Soeharto telah membangun kerajaan bisnis dan menimbun miliaran dolar AS di dalam maupun di luar negeri. Aset Soeharto di luar negeri termasuk taman berburu senilai 4 juta dolar AS di Selandia Baru dan saham di kapal pesiar senilai 4 juta dolar AS yang ditambatkan di dekat Darwin, Australia.

Tak hanya aset, miliaran dolar uang Soeharto disimpan di bank Swiss. Hal ini diketahui saat Soeharto lengser, ia pun bergerak cepat untuk mengamankan harta kekayaannya dengan mentransfer 9 miliar dolar AS dari bank Swiss ke akun bank Austria.

Menurut laporan Badan Pertanahan Nasional yang dikutip Time, di dalam negeri Soeharto mengendalikan 3,6 juta hektare lahan yasan (real estate) dan 100.000 meter persegi ruangan kantor di Jakarta. Dalam laporan New York Times, aset Soeharto diperkirakan mencapai 30 miliar dolar AS. Akan tetapi, Soeharto membantah laporan itu. Menurutnya, ia hanya memiliki 19 ha tanah di Indonesia serta tabungan sebesar 2,4 juta dolar AS.

Laporan The Economist menyebut total harta pribadi Soeharto sebesar 16 miliar dolar AS karena telah dibagi-bagi kepada istri, enam anak, saudara tiri, hingga cucu laki-laki Soeharto.

Harta Soeharto memang mengalir ke anak-anaknya. Mereka membantu dalam menimbun dolar di dalam dan di luar negeri. Berdasarkan laporan Time, anak-anak Soeharto memiliki ekuitas di sekitar 564 perusahaan, dan memiliki hubungan dengan ratusan perusahaan luar negeri lain yang tersebar dari Amerika Serikat, Uzbekistan, Belanda, Nigeria, dan Vanuatu.

Anak bungsu Soeharto, Tommy, memiliki 75 persen saham di lapangan golf lengkap dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris. Di Indonesia, ia membangun proyek mobil nasional atau mobil Timor yang berasosiasi dengan Kia Motors asal Korea Selatan. Di Jakarta, Tommy membangun sirkuit mobil di areal seluas 425 ha dengan biaya 50 juta dolar AS, menurut laporan New York Times.

Sedangkan kakak Tommy, Bambang Trihatmodjo, memiliki rumah peristirahatan mewah senilai 8 juta dolar AS di Singapura dan sebuah rumah seharga 12 juta dolar AS di sebuah lingkungan eksklusif di Los Angeles yang tak jauh dari rumah Sigit Harjoyudanto (putra kedua Soeharto) senilai 9 juta dolar AS. Forbes tahun 2007 menobatkan Bambang sebagai orang terkaya ke-33 di Indonesia. Total harta yang dimilikinya 200 juta dolar AS.

Para putri Soeharto tak kalah tajir. Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut dikabarkan memiliki sejumlah pesawat seperti Boeing 737, Canadian Challenger 601, BAC – 111, McDonnell Douglas DC-10, dan pesawat dari Royal Squadron.

Dalam Pasal 4 Ketetapan MPR No XI/MPR/1998, tercantum nama Soeharto untuk diusut. Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 30/1998 tentang Pengusutan Kekayaan Soeharto, pada 1 September 1998, Kejaksaan Agung (Kejagung) sempat menyelidiki kekayaan keluarga atas dugaan korupsi sampai Swiss dan Austria. Tapi, pada 11 Oktober 1999, keluar Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

Kejagung di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid membuka kembali penyelidikan kekayaan Soeharto, dengan mencabut SP3 pada 6 Desember 1999. Soeharto tidak pernah hadir sekalipun di pengadilan hingga ia wafat pada 27 Januari 2008. Dengan dicabutnya SKP3 oleh putusan praperadilan, maka Soeharto wafat dalam status terdakwa korupsi penyalahgunaan keputusan untuk kucuran dana yayasannya dari setoran pengusaha dan anggaran kementerian.

Bocoran terakhir pada tahun 2017 suatu dokumen keuangan berskala luas mengungkapkan bagaimana orang-orang super kaya, mulai dari Ratu Elizabeth di Inggris sampai Prabowo, Tommy Suharto dan Mamiek Suharto di Indonesia secara diam-diam berinvestasi di luar negeri, di tempat surga pajak.

Tiga nama warga Indonesia yang tercantum adalah Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto; dan dua andak bekas presiden Soeharto yang jatuh dalam Reformasi 1998, Hoetomo mandala Putera alias Tommy Soeharto, dan Siti Hutami Endang Adiningsih, alias Mamiek.

Bocoran dokumen yang disebut Paradise Papers (Dokumen Surga), mencakup 13,4 juta dokumen, sebagian besar berasal dari satu perusahaan keuangan luar negeri.

Jika jutaan dokumen Panama Papers yang bocor itu berasal dari perusahaan penyedia layanan hukum offshore bernama Mossack Fonseca, maka Paradise Papers berasal dari perusahaan Appleby. Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung adalah yang pertama kali memperoleh bocoran dokumen tersebut, yang kemudian dibagi ke International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ).

Hutomo Mandala Putra disebut menjadi pemimpin Grup Humpuss serta menjadi direktur dan komisaris di Asia Market Investments Ltd., sebuah perusahaan terdaftar di Bermuda pada 1997 dan tutup tahun 2000. Tommy juga menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan mobil sport Italia Lamborghini, menurut data Securities and Exchange Commission.

Pada 1997, menurut laporan Appleby, terdapat perusahaan patungan di Bermuda yang terdiri dari anak perusahaan Humpuss dan NLD, sebuah perusahaan periklanan Australia. Perusahaan ini menjalankan proyek pemasangan iklan reklame di jalanan Victoria, Filipina, Malaysia, Myanmar, dan Cina. Namun perusahaan ini ditutup pada 2003.

Sedangkan Mamiek disebut dalam dokumen itu menjadi wakil presiden Golden Spike Pasiriaman Ltd dan pemilik Golden Spike South Sumatera Ltd. Berdasarkan laporan ICIJ, kedua perusahaan itu terdaftar di Bermuda pada 1990-an tetapi kini sudah ditutup. Munculnya nama anak Soeharto kemudian memunculkan pertanyaan lama soal harta keluarga Cendana.

Prabowo Subianto sendiri dalam Paradise Report tersebut disebutkan pernah menjadi direktur dan wakil pimpinan Nusantara Energy Resources yang berkantor di Bermuda.

Perusahaan yang terdaftar pada 2001 ini tercatat sebagai ‘penunggak utang’, dan ditutup pada 2004. Perusahaan di Singapura yang namanya juga Nusantara Energy Resources kini adalah bagian dari Nusantara Group, dan sebagian dimiliki oleh Prabowo, menurut media di Indonesia.

Tahun 2019 ini merupakan tahun penentuan bagi Prabowo Subianto dan keluarga besar cendana, karena sejak 4 Februari 2019 lalu perburuan harta karun pemimpin terkorup dan legendaris itu memperoleh titik cerah. Indonesia dan Swiss menandatangani kesepakatan (Mutual Legal Assistance) yang disetujui tanggal 14 September 2018 lalu.

Disebutkan: The bilateral agreement on mutual legal assistance creates a basis in international law upon which justice authorities in the two countries can cooperate on detecting and prosecuting criminal activities, in particular crimes such as corruption and money laundering.

Salah satu poin paling penting adalah kerjasama dalam pengungkapan kasus korupsi dan pencucian uang. Maklum saja,selama ini Swiss dikenal sebagai pulau penimbunan harta karun yang paling sulit disentuh. Keamanan keuangan di sana konon sangat ketat, sehingga para koruptor dan penjahat berdasi dengan kantong tebal diduga menyembunyikan uang di Swiss.

Andai terwujud keinginan Gus Dur 20 tahun lalu, untuk membuat keputusan yang memiliki dasar hukum kuat tentang bersalahnya Pak Harto dalam kasus korupsi yang merugikan negara. Maka tidak perlu menunggu lama, hari ini semestinya misteri harta karun bajak laut itu dapat segera disingkap.

Jika memang harta karunnya terbukti ada, Indonesia bisa mendapat limpahan devisa yang bisa dipastikan jumlahnya tidak sedikit. Karena harta karun Pak Harto adalah kunci awal bagi terbukanya peti-peti harta rekan bisnis dan kerabatnya, hasil konspirasi selama lebih dari 30 tahun.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Ahmad Basarah mengatakan bahwa mantan presiden kedua RI Soeharto merupakan guru korupsi di Indonesia.

Hal itu ia katakan untuk merespon ucapan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa korupsi di Indonesia saat ini sudah masuk kategori darurat korupsi bak kanker stadium empat

“Jadi, guru dari korupsi Indonesia sesuai Tap MPR Nomor 11 tahun 1998 itu mantan presiden Soeharto dan itu adalah mantan mertuanya pak Prabowo,” kata Basarah tegas saat ditemui di kantor Megawati Institute, Jakarta 28/11/2018 lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here