Prabowo-Sandi Masih Doyan Jual Agama

114 Pemirsa

Acara politik berbalut kegiatan keagamaan. Demikianlah gerak sayap politik pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Komando Ulama untuk Pemenangan Prabowo-Sandi (Kopassandi). Sebuah tablig akbar dan deklarasi Koppasandi direncanakan diadakan di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Meskipun ada kata ulama di Kopassandi, faktanya, hanya pentolan Front Pembela Islam alias FPI yang mengisi tablig akbar yang disebut memakai spirit Persaudaraan Alumni 212.
Menurut informasi, tablig akbar tersebut dihadiri ketua DPW FPI Kabupaten Tasikmalaya Muhammad Sofyan Anshory, Ketua DPW FPI Kota Tasikmalaya Muhammad Yanyan Albayani, dan imam FPI Jawa Barat Ma’sum. Sebagai informasi, FPI tak lain tak bukan pendukung berat Prabowo-Sandi.
Melalui akun Twitter, Nur Asia selaku istri Sandiaga Uno membenarkan rencana tablig akbar ini. Nur Asia menulis, “Alhamdulillah banyak sekali masyarakat yang tulus mensosialisasikan visi misi dan kampanye #Prabowosandi, Saya dapat kiriman kegiatan Sosialisasi dari Koppasandi Akhwat di Tasik. Terima kasih #MPIFPI Jabar.”
Persaudaraan Alumni 212 selama ini disebut dekat dengan kubu Prabowo-Sandi. Makanya, sejumlah pengamat menilai, gerakan 212 kini tidak lebih dari gerakan politik. Direktur Lembaga Pemilih Indonesia, Boni Hargens, misalnya, menilai gerakan 212 merupakan gerakan politik kubu oposisi. Faktanya adalah Reuni Akbar 212 lalu yang mengangkat wacana yang mengarah kepada serangan terhadap pemerintah.
“Bisa dipastikan aksi ini murni gerakan oposisi politik dan pasti menguntungkan kubu Prabowo dan Sandiaga,” kata Boni dalam sebuah diskusi politik Sabtu, 1 Desember 2018 silam.
Ada tiga aspek yakni sejarah awal terbentuknya gerakan 212 yang menyerang mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang disebut menistakan agama Islam. Kedua, aspek waktu. Gerakan 212 dapat dilihat semakin aktif dan meningkat menjelang Pilpres 2019. Ketiga, aspek narasi. Menurut Boni, wacana yang dibangun elite Persaudaraan Alumni 212 juga merupakan narasi kekuasaan.
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Razman Arif Nasution, juga menilai aksi 212 sudah bernuansa politik. Menurut dia, aksi tersebut lebih kepada gerakan mendukung pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
“Saya alumni yang tidak setuju dilakukan reuni PA 212, karena konteksnya sudah terjawab, itu politik,” kata Razman. Dalam kegiatan tersebut ada upaya menonjolkan sosok Prabowo Subianto sebagai capres.
Bahkan mantan ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin sependapat. Gerakan 212 bukan lagi gerakan membela agama. Gerakan itu disebut hanya bermuatan politik. Patut diketahui, Ma’ruf adalah ketua MUI yang meneken pendapat dan sikap keagamaan MUI tentang kasus Ahok. Ahok dikategorikan sebagai penghina Alquran dan ulama. Setelah itu, muncullah berbagai gerakan dengan angka-angka cantiknya. Kini, Ma’ruf menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo.
Kesan bahwa agama hanya dijadikan kendaraan politik kubu Prabowo-Sandi makin nampak dari ulah Fadli Zon. Politikus Partai Gerindra ini menulis puisi berjudul “Doa yang Ditukar.” Puisi itu disebut menghina ulama besar KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. Kecaman kepada Fadli Zon berdatangan.
Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Apep Saefulloh, menilai bahwa puisi Fadli Zon sangat menghina ulama. Sementara KH Mochammad Abdul Mu’min menyebut Fadli Zon tidak etis. Menurutnya, wakil ketua umum Partai Gerindra itu sudah tak beradab karena mempolitisasi insiden salah ucap doa Mbah Moen melalui puisi yang dipublikasikannya di media sosial.
Sikap mendua Prabowo-Sandi kepada umat Islam pelan-pelan nampak. Di satu sisi mengelu-elukan Persaudaraan Alumni 212, di sisi lain menghina ulama besar yang dihormati ribuan santri. Tidak sukar menilai bahwa agama hanya diperdagangkan kubu Prabowo-Sandi demi merengkuh kekuasaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here