Produksi BBM Sendiri Didalam Negeri Pertamina Bisa Menghemat Rp 314 Miliar/Hari

234 Pemirsa

Bidikdata – Penggunaan dan produksi sumber energi dalam negeri ternyata menjadi fokus pemerintahan Presiden Jokowi dalam rangka menciptakan ketahanan energi. Sejak tahun 2015 lalu PT Pertamina (Persero) telah meresmikan 3 proyek strategis  minyak dan gas bumi, yakni proyek pengoperasian Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di dan Proyek Langit Biru Cilacap, serta peremajaan dan peningkatan kapasitas produksi di Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

Ketiga proyek ini dapat membuat BUMN ini hemat US$ 15,6 juta/hari atau sekitar Rp 223 miliar (kurs Rp 14.300). Peresmian ketiga proyek ini dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada 1 proyek yang sudah beroperasi, dan 2 proyek baru dimulai pembangunannya hari ini.

Sehingga bila di total 3 proyek dan 1 proyek TPPI, maka bila proyek tersebut sudah beroperasi optimal, maka Pertamina bisa hemat US$ 22 juta per hari atau Rp 314 Miliar pada kurs 14.300

Proyek Langit Biru Cilacap direncanakan akan selesai pembangunannya akhir tahun 2018 ini. Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan pihaknya mengerjakan proyek Langit Biru Cilacap untuk memenuhi keinginan pemerintah memiliki Bahan Bakar Minyak (BBM) berkualitas tinggi. “Pertamina respons keinginan pemerintah untuk BBM berkualitas lebih tinggi dengan mengerjakan Langit Biru Cilacap yang diharapkan Desember 2018 on stream,” kata dia di Jakarta

Hingga tahun 2023 PT. Pertamina menargetkan Indonesia dapat berswasembada energi dan melepaskan diri dari impor BBM. Kemandirian BBM ini diperoleh dengan cara melakukan modernisasi kilang Balikpapan, Cilacap, Balongan dan Dumai, serta penambahan dua kilang baru di Tuban dan Bontang.

“2023 era mandiri pasokan BBM betul-betul akan terjadi, kita tidak perlu lagi impor BBM,” kata Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi di Kilang Pertamina, Balikpapan, Kalimantan Timur

Bahkan, Indonesia berpotensi ekspor BBM apabila produksi kilang-kilang tersebut berlebih. Rachmad mengatakan, negara-negara tujuan ekspor paling awal adalah yang berada di wilayah ASEAN.

“Kalau produksi BBM berlebih, kita pertimbangkan untuk ekspor ke kawasan ASEAN,” imbuh Rachmad.

Lebih lanjut Rachmad menjelaskan, untuk mencapai swasembada BBM sudah dimulai dengan proyek Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Cilacap dan pengoperasian kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban pada 2015. Dengan demikian, kapasitas kilang minyak Indonesia meningkat menjadi 1 juta barel per hari

“Seluruh infrastruktur saat ini punya kemampuan mengolah 1 juta barel crude per hari. Kami bisa operasikan 900.000 barel crude per hari,” ujar Rachmad.

Selain itu, groundbreaking proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan tahap pertama akan dilakukan pada tahun 2017 dan ditargetkan rampung tahun 2019, akan menambah kapasitas pengolahan crude sebesar 100.000 barel per hari. Dengan demikian, kapasitas total kilang pengolahan menjadi 1,1 juta barel per hari.

Ditambah lagi, proyek Grass Root Refinery (GRE) Tuban yang dikerjakan Pertamina dengan Rosneft, Rusia berkapasitas 300.000 barel per hari, mulai dikerjakan pada 2018 dan ditargetkan rampung pada 2022. Kapasitas pengolahan bertambah menjadi 1,4 juta barel per hari.

RDMP Refinery Unit (RU) Cilacap yang dikerjakan Pertamina bersama Saudi Aramco, rencananya akan berkapasitas 370.000 barel per hari pada 2022, namun saat ini baru memiliki kapasitas 340.000 per hari. Total kapasitas produksi akan menjadi 1,77 juta barel per hari.

Kapasitas produksi akan bertambah lagi dengan selesainya RDMP Dumai dan Balongan, lalu GRR Bontang yang berkapasitas 300.000 bph, maka total kapasitas kilang menjadi lebih dari 2 juta barel per hari pada 2023.

“Akhir 2023 (kapasitas kilang) mencapai 2 juta bph,” kata Rachmad.

Kapasitas produksi tersebut, lanjut Rachmad, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi BBM masyarakat yang juga diproyeksi mencapai 2,6 juta barel per hari pada 2023.

Untuk itu, Pertamina akan membangun 2 kilang baru berkapasitas 300.000 barel per hari. Namun, Pertamina belum memutuskan lokasi pembangunan 2 kilang tambahan tersebut meski sudah menjajaki dua lokasi yakni Arun dan Sumbawa.

“2030 kebutuhan kita meningkat sampai 2,6 juta bph, maka perlu tambahan 2 kilang baru lagi. 2025-2030 akan ada 2 kilang baru lagi, tapi belum diputuskan di mana, pertimbangannya banyak. Ada permintaan kuat di Indonesia Timur, di Sumbawa, juga di Arun,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here