Puisi Fadli Zon “Petruk Jadi Raja” Menghina Presiden Jokowi

Puisi Fadli Zon “Petruk Jadi Raja” Menghina Presiden Jokowi
Puisi Fadli Zon “Petruk Jadi Raja” Menghina Presiden Jokowi
276 Pemirsa

Waketum Gerindra Fadli Zon menyindir soal poster ‘Raja Jokowi’. Sindiran tersebut berujung lahirnya puisi berjudul ‘Petruk Jadi Raja’.

Dengan bertanya-tanya apakah perlu Indonesia menjadi kerajaan sehingga dibuat poster Raja.

Fadli memang tak menyinggung langsung Jokowi dalam puisinya itu. Ia coba menggiring opini masyarakat lewat puisi tokoh pewayangan.

“Apakah ada yang ingin RI menjadi ‘kerajaan’ sehingga harus membuat poster ‘Raja’? Tentu ini bertentangan dengan konstitusi kita ya? Apalagi ini tak ada nasab/trah keturunan ‘Raja’,” ujar Fadli, Sabtu (17/11).

“Inilah bahayanya ‘Petruk Jadi Raja’. #petrukjadiraja,” celotehnya.

Entah sudah berapa kali kita melihat dagelan politik yang dipertontonkan Fadli Zon dan kroni-kroninya?

Politik kebencian sepertinya tidak akan pernah berhenti di Tanah Air yang beradab dan dikenal dengan nilai-nilai kesantunan.

Puisi tersebut sebenarnya mengungkap sikap asli oposisi dari Partai Gerindra yang minus adab karena menampilkan hal-hal tak mendidik yang berdampak bagi kemajuan demokrasi di Indonesia.

Demokrasi adalah sebuah jawaban dari percaturan politik di negeri yang damai ini. Namun, demokrasi dibuat seolah tak berdaya manakala sekumpulan penghujat dan pemuja kekuasaan ingin merebut kekuasaan tanpa tata cara yang baik sesuai konstitusi negara ini.

Lalu apa yang sebenarnya ingin disajikan oleh kaum oposisi pemerintah, jika hanya berdalih melempar kritik dan sindirian?

Beginilah para Sengkuni bekerja yang tak lain untuk mengerogoti Pemerintah. Menebar ketakutan dan kebohongan seolah menjadi makanan utama untuk mengelabui masyarakat yang majemuk dan saling toleran ini.

Cukup jelas siapa yang dimaksud dalam puisi tak berisi yang ditulis wakil rakyat yang terhormat ini.

Langkah untuk menyingkirkan Petahana adalah dengan membunuh karakternya. Strategi apapun yang dimainkan dan di jalankan antek-antek Prabowo-Sandi, tetapi Jokowi tetap santun dan menunjukkan kerjanya sebagai seorang pemimpin.

Jokowi tak terlalu hiraukan berapa banyak puisi yang ditulis dan dibacakan Fadli Zonk, biar rakyat lah yang menilai itu semua. Prestasi dan capaian yang gemilang pada waktunya.

Sindiran Fadli Zon dapat dikatakan sudah keterlaluan karena menghina Presiden RI hanya karena Prabowo belum bisa menjadi Presiden sehingga cara apapun dihalalkan.

Kisah petruk adalah cerita budaya Jawa, tetapi dibawa oleh Fadli Zon untuk kepentingan politik praktis.

Lalu apakah kita akan terus membiarkan politik kebencian, fitnah dan hoaks yang semakin tinggi eskalasinya?

Jangan dibiarkan para provokator memimpin di Indonesia yang damai, toleran dan beradab ini!

Berikut kutipan puisi Fadli Zon:

PETRUK JADI RAJA

suatu hari di Astina
petruk iseng jalan blusukan
tak disangka nasib suratan
tiba kesempatan berkuasa

petruk bersolek penuh citra
mencuri perhatian warga
program abal-abal dijual
seratus janji diobral
akhirnya dilantik jadi raja

petruk bertahta di singgasana
mimpi perbaiki keadaan
tak tahu apa mau dilakukan
merusak aturan tatanan
semua jadi dagelan

petruk biang kekacauan
ekonomi carut marut tak karuan
politik gonjang ganjing kegaduhan
budaya tercecer berantakan
agama mudah dinistakan
harapan pupus berserakan
petruk plonga plongo kebingungan

itulah hikayat negeri Astina
ketika petruk jadi raja

Fadli Zon, London, 18 Nopember 2018

Tanggapan TKN Jokowi-Ma’ruf

Menanggapi cuitan tersebut, Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Erick Tohir lebih bingung lagi. Sebab, ia menilai sistem negara Indoneisa adalah demokrasi, dan pemilihan presiden itu dibatasi hanya dua kali.

“Jadi saya agak bingung kok tiba-tiba jadi raja? Mungkin kalau dia (Jokowi) jadi presiden seumur hidup atau jadi raja, ya mungkin saya orang pertama yang mundur dari TKN karena saya percaya demokrasi,” ujar Erick kepada wartawan di Jalan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (17/11).

Erick lantas mengatakan bahwa setelah orba terjadi demokrasi terbuka, meski di sana-sini masih harus ditingkatkan dan banyak diperbaiki. Karena yang namanya kebablasan sudah pasti akan mengorbankan rakyat.

Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Krisitiyanto menuturkan, bahwa cuitan Fadli Zon itu tidak perlu ditanggapi serius. Sebab cuitan tersebut jauh dari nilai-nilai etika Indonesia.

“Kita sudah paham, enggak perlu ditanggapi. Cuitannya setiap hari berubah dan nuansanya itu bukan nuansa Indonesia,” jelas dia.

“Itu nuansa barat sesuai keinginan, tradisi dia (Fadli Zon) yang datang ke makam Karl Marx, tokoh komunis,” imbuh Hasto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here