Radikalisme di Perguruan Tinggi Negeri Islam Harus Diwaspadai

Radikalisme di Perguruan Tinggi Negeri Islam Harus Diwaspadai
163 Pemirsa

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra mengatakan, Perguruan Tinggi Negeri Islam tidak bisa dianggap imun dari kecendrungan radikalisme, karena itu perlu upaya serius untuk tetap mencermati agar paham-paham tersebut tidak tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi.

Menurut dia munculnya gejala radikalisme termasuk di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) karena pemahaman keagamaan islam yang tidak komprehensif, cenderung hitam putih dan di sisi yang lain pengetahuan kebangsaan juga sangat lemah.

“Jadi sebenarnya termasuk perguruan tinggi islam negeri juga tidak bisa dikatakan imun atau bebas dari gejala radikalisme itu, terutama di PTKIN yang ada fakultas umumnya. Karena kita lihat juga di fakultas umum, entah itu kedokteran, bisnis, sains yang bukan keagamaan ada di antara dosen dosen mereka itu yang tamatan PT umum, dan bisa jadi di antara mereka itu ada yang terkontaminasi dengan paham radikal,” katanya saat berdialog dengan para rektor PTKIN di Kediaman Rumah Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Jakarta, Jumat (29/6).

Mantan Rektor UIN Jakarta ini menilai, indikasi masuknya radikalisme di PTKIN terutama yang memiliki fakultas umum kata dia sudah ada sejak lama karena dosen yang tidak punya latar belakang pendidikan keislaman yang baik.

“Mereka dari kampus umum mengajar di kampus islam negeri dan di sana mereka membawa pemahaman itu. Saya tahu ada gejala itu,” ujarnya.

Ditegaskan Azyumardi, dalam pemetaan sementara sudah ada indikasi ke arah sana walaupun tetap perlu pemetaan yang komprehensif.

“Karena saya kira penelitian yang komprehensif mengenai mulai masuknya radikal di PTKIN harus dilakukan agar indikasi ini makin terkonformasi dan bisa segera diambil upaya mengatasinya,” katanya.

Ia menambahkan, kelemahan para dosen saat ini ialah tidak dibekalinya para dosen baru dengan pemahaman keagamaan yang baik dan benar serta komprehensif dan di sisi lain kebangsaan.

Hal inilah yang membuat banyak dosen dan kemudian menjalar kepada mahasiswa masuknya pemahaman islam transnasional asal Timur Tengah.

“Padahal keislaman dan kebangsaan itu harus sejalan bukannya dipertentangkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menambahkan pihaknya tentu merespon secara serius berbagai gejala radikalisme yang muncul termasuk di perguruan tinggi islam negeri.

“Setidaknya ada daua hal yang munCul sebagai gejala yaitu maraknya pemahaman keagamaan yang ekstrim dan lebih dari itu lagi pengamalan keagamaan yang mengkafirkan orang lain dan merongrong keutuhan sebagai bangsa yang majemuk. Kita harus pro aktif merespons ini,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here